Thursday, March 8

Kyai juga manusia


“Ustadz juga manusia”. Begitulah judul sinetron di salah satu stasiun tv. Pesan yang ingin disampaikan bahwa sekarang sudah tidak zamannya lagi untuk fanatisme buta pada seseorang atau pada golongan tertentu. Seolah-olah sekarang sangat sulit mempercayai orang lain. Sampai-sampai pada setingkat ustadz sekalipun, maksudnya kita tidak serta merta menelan mentah-mentah apa yang disampaikannya. Dunia kultus mengkultuskan diri sekarang sudah tidak zamannya lagi. Barangkali yang terjadi pada Gusdur juga demikian.

Saya jadi ingat pemikiran Erving Goofman tentang presentasi diri. Bahwa kehidupan ini layaknya permainan teater di panggung. Ada aktor pemainnya, ada skenario yang diperankan. Jadi hidup ini bagai permainan drama, atau yang ia sebut dengan pendekatan dramaturgi (dramaturgical approach). Ada front stage (panggung depan) dan ada back stage (panggung belakang). Di panggung depan ia berperan laksana pangeran yang agung, tapi ketika berada di belakang panggung ia hanyalah seorang gembel.

Contoh di atas bisa kita analogkan kepada kehidupan seorang ustadz. Ketika berhadapan dengan jama’ahnya dia berkarakter seolah-olah the king can do no wrong. Apa yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang sudah melekat pada dirinya, menurut penilaian jama’ahnya. Namun ketika di belakang, atau setelah tidak di depan jama’ahnya, ia seakan bebas dan berbuat apa semaunya. Namun tidak semua seperti itu. Masih ada beberapa ustadz yang terus istiqamah dan menjaga komitmennya. Takut terhadap ayat yang akrab di telinganya “kabura maqtan ‘indallahi an taquuluu maa laa taf’aluu”.

Pada Kyai yang di foto ini (pemegang gitar), saya sangat mengaguminya. Bukan berarti saya mengkultuskannya. Kekaguman saya sebatas respek dan yaa kagum terhadap apa yang selama ini saya dapatkan dari kontak dan hubungan dengan beliau. Ust. Hasan, begitu orang-orang memanggil, lengkapnya KH. Hasan Abdullah Sahal. Di luar lebih dikenal dengan panggilan kyai Hasan. Seorang kyai yang keras dan tegas, namun juga ada sisi kelembutan dari dirinya. Keras tegas jika sudah menyangkut urusan aqidah atau masalah yang tidak sesuai dengan sunnah pondok yang tidak bisa ditolerir lagi. Akan lembut jika di tengah-tengah keluarga. Bukan hanya itu saja, di beberapa moment di luar tugas pondok beliau juga sangat welcome. Terbuka untuk dialog dan bicara dari hati ke hati.

Sebagai kyai Pondok Modern Gontor, beliau bukanlah seperti kyai pesantren lainnya. Hanya menjaga santrinya atau di pondok saja, atau dikenal dengan kyai lokal. Buktinya beliau juga sering diundang di beberapa acara di luar pondok. Bahkan hampir tiap tahun beliau diundang oleh beberapa KBRI di luar negeri untuk mengisi kegiatan ramadhan di perwakilan Indonesia tersebut. Seperti di Jepang, Belanda, Korea, Australia, bahkan yang terakhir kemarin di Amerika Serikat. Kalau kayak begini bukan lokal lagi, bahkan sudah internasional.

Kesalehan dan ketawadluannya di tengah keluarga pondok telah membuat diri dan keluarganya seakan-akan tidak dipusingkan oleh berbagai interes pribadi yang banyak bermunculan. Hal-hal yang sensitif seakan-akan dihindari demi untuk kemaslahatan bersama. Dalam membina keluarga juga demikian, sangat demokratis. Beliau bersama istrinya yang bernama Siti Abidah Mufarrihah, membebaskan anak-anaknya untuk menimba ilmu dimana saja. Asalkan sudah mendapat ilmu dasar dari pondok atau harus mondok dulu di mana baru setelah itu memilih dimana mau sinau. Beliau juga tidak mewajibkan anaknya untuk menjadi kader pondok. Kelihatan dari anak-anak yang berprestasi dengan aneka latar belakang pendidikan yang berbeda. Kreatif, cerdas dan berprestasi, begitulah terlihat dari hasil demokratisasi yang beliau tanamkan pada pendidikan anak di keluarga. Jika sudah berkeluarga nanti, ingin rasanya belajar bagaimana ngurus keluarga kepada beliau.

Dalam foto, beliau sangat enjoy sekali main musik bersama ust. Husnan dan violist asep. Sebab dulu ketika masih nyantri beliau juga jago musik. Bukan hanya musik, pada dunia olahraga yaitu sepakbola beliau juga jago. Pokoknya menurut saya, depan panggung maupun belakang panggung, beliau tetaplah seorang kyai. Tidak dibuat-buat bahwa dirinya adalah seorang kyai. Yang pasti tidak ada mistifikasi disitu, maksudnya sebagai seorang kyai beliau tidak menjaga jarak dengan santrinya dengan demikian secara otomatis beliau tidak mau ada kultus apalagi fanatik terhadap dirinya. Fungsinya di mata santri tidak hanya sebagai pimpinan pondok saja, tapi sebagai bapak, pengasuh atau bahkan sebagai tempat sharing.

Kabar yang heboh adalah beliau sudah berhenti rokok. Sekarang sampai beberapa minggu ke depan, beliau bersama ibu tinggal di Jakarta dalam rangka berobat. Kita doakan bersama semoga cepat sembuh dan kembali ke pondok dengan sehat. Khususnya ibu yang menderita sakitnya selama sepuluh tahun terakhir ini. Semoga di Jakarta ini beliau dan ibu menemukan kesehatannya kembali. Sehat lahir dan batin. Amin

Gandul, 9 Maret 2007

Sunday, March 4

Ana Maridl Kawan



Memang sakit sebuah anugrah yang mesti kita syukuri. Allah memberi kita sakit dengan hikmah di baliknya. Hanya orang tertentu saja yang mengetahuinya.

Ternyata dalam tubuh kita perlu keseimbangan. Antara nutrisi, tenaga dan pikiran, olah jiwa dan spirit, serta istirahat. Jangan sampai satu sama lain berlebihan. Semuanya kudu dipenuhi secara proporsional. Ibarat mobil yang terdiri dari beberapa komponen, jika salah satu ngadat maka mobil juga tidak bisa jalan. Begitu pula manusia, namun kesamaan itu hanya sebatas fungsi fisik dan organ tubuh saja tidak dalam hal produktivitas. Sebab manusia bukanlah mesin yang bersifat mekanis. Ia merupakan makhluk yang dengan akalnya dapat berkreatifitas dan berkarya.

Sudah lama tidak saya tidak menulis lagi. Setelah hangar bingarnya muktamar. Kegiatan lain sudah banyak yang nunggu. Namun kuliah menjadi prioritas utama. Semester kali ini memang berat. Disamping jumlah materi yang lebih banyak, dari segi bobot materi juga lebih berat. Mau tidak mau harus banyak referensi yang dibaca. Padahal saya merasa tidak istiqomah dalam hal ini (baca membaca). Meskipun begitu aku paksain juga.

Entah sudah berapa ratus ribu aku habiskan untuk beli dan fotokopi buku referensi. Bahkan setiap hari ada saja buku yang harus ku beli atau fotokopi. Tapi itulah konsekwensi menjadi mahasiswa paska sarjana. Almost every reference are written by English. Oh my God. Allahumma –r-zuqnaa ‘ilman wa –r- zuqnaa fahman.

Dua minggu yang lalu seluruh redaksi majalah Pakar mengadakan rapat di Puncak. Meski fisik masih belum fit benar setelah berhari-hari di Ancol untuk muktamar PPP, tapi harus ikut juga. Dari tiga hari yang direncanakan, masa efektif untuk rapat hanya 4 – 5 jam saja. Sisanya kita pakai untuk istirahat dan main gaplek. Cukup seru juga. Intinya kita mau refreshing di situ. Namun ada beberapa keputusan penting juga mengenai majalah Pakar. Seperti penggantian nama majalah, pembentukan badan usaha, dan pencarian investor baru. Semoga saja terealisasi apa yang telah menjadi kesepakatan bersama waktu itu.

Kamis 15 Februari 2007, sore itu hujan tidak berhenti-henti turun. Meski sejak siang sudah turun hujan. Saya bersama teman-teman tengah mengadakan penelitian di Shopping Center, Margo City dan Depok Town Square. Aku baru ingat sore itu sebelum pulang kalau belum makan siang. Namun pikirku tanggung entar saja di rumah. Sambil nekat naik montor dalam keadaan hujan gerimis. Angin sangat sore itu sangat menusuk sekali. Malam harinya baru ambruk, badan menggigil. Subhanallah. Demam dan panas.

Panas badan tidak turun-turun. Akhirnya aku ambil inisiatif untuk cek darah, meski dalam hati wah akan keluar duit banyak nih. Mana sudah aku alokasikan untuk beli buku lagi. Alhamdulillah hasilnya negatif, artinya tidak gejala demam berdarah. Aku dikasih resep yang aku kira nebus resepnya yah nggak mahal-mahal amat. Ternyata hampir 200 ribu untuk nebus obat. Tapi baru diminum sekali, aku sudah bisa jemput KH. Hasan Abdullah Sahal dan Ibu, waktu itu hari Minggu rencana mau datang ke rumah ada pesta kecil-kecilan, ulang tahunnya bu Diana Husnan. Rupanya di rumah sudah ada rombongan dari pondok, Ust. Hidayatullah, Bu Nihayah, Pak Amal dan Ibu, serta Ust. Dimas (Dihyatun Masqon). Wah seru, mana Ust. Hasan main gitar ngeband sama ust. Husnan serta diiringi violis Asep Afandi. Hujan deras tidak mengurangi guyonan yang terus mengalir dari bos eksentrik dari Gontor itu.

Esok harinya badan ini masih aja panas. Aku pikir, oh ya kemarin kan baru minum resep obat. Meski kelihatan sudah agak membaik. Namun waktu itu (hari Minggu) seharusnya aku harus juga istirahat. Tapi ya mau kedatangan tamu dari Gontor, gimana lagi dong. Akhirnya aku putuskan untuk berobat ke mbak Sekar, tempat orang-orang Gontor termasuk Pak Amal dan Pak Woh juga berobat. Sebetulnya aku sudah lama tahu tempat tersebut dibanding asatidz dari Gontor. Tapi kali ini aku terbetik untuk serius berobat. Ternyata setelah diperiksa aku dikasih tahu penyakitku. Wah lumayan juga sakitnya dan harus cepat ditangani. Biar fit kembali badan. Penyakit itu (tidak bisa saya sebutkan di sini) akibat pola hidup saya yang tidak teratur, khususnya dalam kegiatan dan kesibukan yang aku jalani siang malam. Harus ada jadwal kapan harus kerja dan kapan harus istirahat. Jangan terlalu diforsir dan memberatkan pikiran. Bikin enjoy aja lagi.

Itulah diantara hikmah saya sakit. Alaitu ala nafsi li atruka kullu madza yafsudu wa yuhliku nafsy. Nutrisi dan gizi juga harus diperhatikan. Kegiatan yang anda jalani tidak diimbangi oleh nutrisi yang cukup, begitulah salah satu nasehat mbak sekar. Lain halnya kalau bu Nihayah ketika ketemu di tempat berobat itu, “wah ust. Andi ini sakitnya obatnya cuma satu yaitu nikah, gimana undangannya ust? Heee hee ada aja ibu ini, la wong belum jelas udah nanyain undangan. Doakan dong bu.

Kemarin hari minggu kita menghadiri undangan ulang tahun bu Hertini Adiwoso yang ke 80 tahun. Luar biasa nenek ini. Kita kenalan di bangku kuliah. Eh ternyata teman kuliah nenek-nenek. Tapi semangatnya masih empat lima. Bayangkan di usianya yang sebegitu tua, beliau masih semangat nyangklong tas ikut kuliah sama-sama kita. Luar bisa, she is really tough. Ia adalah istri mantan dubes yang sekarang telah meninggal yaitu bapak Adiwoso. Dikarunia putra-putri 5 dan cucu ada 11 orang. Ia kelihatan masih segar ketika acara, dan yang luar biasa adalah memory yang dulu masih teringat. Bercanda dengan teman-temannya (yang ketika itu juga hadir) bahkan masa-masa pacarannya dulu juga diceritakan.

Pulangnya saya mampir di Islamic Book Fair yang ke6 di Istora Senayan Jakarta. Berbagai penerbit nasional hadir disitu, khususnya yang menerbitkan buku-buku Islam. Nampak juga dua bos besar toko buku, Gunung Agung dan Gramedia juga hadir. Acara berlangsung dari tanggal 4 – 11 Maret, diisi dengan berbagai macam acara menarik, dari bedah buku sampai talkshow mengenai masalah-masalah kontemporer. Aku beli buku tentang Islamic business ethic dan Metode Penelitian. Sebenarnya aku ingin dapat buku tentang sosial politik tapi buku-buku tersebut terbatas, sebab mayoritas yang dibawa adalah buku-buku islami.

Tuesday, February 6

MUKTAMAR KE VI PPP, BANGKIT BERSAMA UNTUK PERUBAHAN


MUKTAMAR KE VI PPP, BANGKIT BERSAMA UNTUK PERUBAHAN

Sejak tanggal 25 Januari 2007 persiapan gawe Muktamar PPP sudah mulai terasa. Muktamar yang diadakan di Hotel Mercure Ancol pada 30 Januari – 4 Februari 2007 adalah Muktamar PPP yang ke VI. Ribuan peserta datang dari seluruh wilayah dan cabang di Indonesia, tepatnya peserta yang memiliki suara dari wilayah dan cabang sebanyak 1173 suara. Selebihnya muktamar ini diramaikan oleh para utusan, simpatisan dan penggembira yang datang ‘tumplek blek’ di kawasan wisata pinggir pantai Jakarta, kurang lebih 5.000 orang.

Sisi menarik dari setiap muktamar yang digelar oleh setiap partai politik adalah pemilihan calon ketua umum. Begitu juga yang terjadi di partai berlambang ka’bah ini. Jauh hari sebelum muktamar dilangsungkan, masing-masing calon sudah berkampanye. Para tim sukses dari masing-masing calon juga melakukan rapat-rapat dan gerakan-gerakan untuk menggalang suara dari wilayah dan cabang. Masing-masing calon mengklaim dapat mayoritas dukungan. Tak jarang pula yang memanfaatkan media pers untuk membuat propaganda dan isu demi kesuksesan masing-masing.

Hari pertama Muktamar PPP digelar, sudah banyak menuai protes. Sebab masih banyak peserta yang belum dapat kamar dan akomodasi yang seharusnya sudah disiapkan jauh hari oleh panitia. Bahkan sampai sidang dimulai pun masih banyak yang belum kebagian kamar. Menurut salah satu staf sekretariat Dewan Pimpinan Pusat PPP, mereka tidak banyak dilibatkan dalam kepanitiaan ini khususnya untuk masalah koordinasi pada proses registrasi. Sebab merekalah yang tahu benar siapa para peserta dan apa yang harus dipersiapkan oleh mereka. Suasana registrasi yang kacau mengindikasikan bahwa kepanitian kali ini tidak fair. Ada upaya para peserta yang datang wilayah atau cabang yang tidak menjadi pendukung setia bagi ketua panitia yang juga sebagai calon ketua umum tidak diurusi. Bahkan salah satu pengurus DPP PPP di Majelis Pakar pun tidak dibuatkan ID Card dan kamar. Ketika ditanyain ke panitia malah balik ditanya, anda siapa? dari utusan mana? Ujung-ujungnya tidak tahu masalah. Bagaimana rumit dan caosnya keadaan ketika itu. Dan betapa kejam dan tidak manusiawinya panitia yang menelantarkan orang-orang yang datang jauh-jauh sebagai peserta muktamar. Sungguh tidak masuk akal, sebagai partai yang berlambang dan berdasarkan Islam kelakuannya masih tidak simpatik.

“Panitia Muktamar kali ini adalah panitia terburuk selama muktamar diselenggarakan” teriakan salah satu peserta saat sidang paripurna I dimulai. “Kalau tidak becus jadi panitia janganlah sok jadi panitia” tambah salah satu peserta yang sudah kesal. Hujan interupsi terus berlangsung di setiap sidang yang berjalan, bahkan sidang sempat diskors disebabkan keadaan tidak terkendali. Intinya para peserta ingin supaya dihadirkan pihak panitia untuk mengklarifikasi permasalah teknis yang tidak kunjung selesai ini. Memang lucu hal-hal teknis yang seharusnya dapat diselesaikan dengan perencanaan yang cermat, malah menjadi kendala masalah yang menyertai setiap sidang yang digelar. Bukankah ini dapat menjadi suatu macam penilaian atau tolak ukur kepemimpinan.

Tolak ukur kepemimpinan seorang EAS dan AMM sebagai ketua panitia yang tidak bisa mengurus peserta muktamar berjumlah tidak lebih dari 1.500 orang dengan baik. Bagaimana pula akan mengurus para konstituen yang berjumlah jutaan. Sungguh suatu penilaian yang logis. Masalah partai tidak sesederhana mengurus kepanitiaan yang memang bisa dimenej dan diatur dengan uang. Namun untuk mengurus partai tidak bisa hanya mengandalkan uang, the power of money. Sangat tidak pantas bila ada seorang tua yang sudah berumur sebagai pengurus Dewan Pimpinan Pusat dipingpong sana-sini untuk mendapat akomodasi yang menjadi haknya. “Seharusnya sebagai calon ketua umum jangan masuk menjadi panitia, nanti yang bekerja malah tim suksesnya untuk kepentingan dirinya” teriak salah satu peserta yang sudah memuncak kekesalan saat salah seorang panitia Steering Committee yang memimpin sidang menyalahkan panitia badan pekerja (OC). “Jangan saling menyalahkan, kita butuh solusi konkrit bukan hanya wacana dan bicara saja” tambahnya.

Propaganda dari masing-masing calon terus beredar. Tim-tim sukses bergerilya dari satu pintu ke pintu lain. Bahkan ada juga dari daerah yang memanfaatkan situasi tersebut untuk hanya mencari keuntungan untuk sekadar berbual ingin bergabung meski kakinya sudah tertancap kuat di calon lain. Begitulah potret gambaran suasana muktamar kali ini.

Partai Persatuan Pembangunan sebagai suatu wadah politik bagi para kader NU, PERTI, SI, dan MI yang didirikan pada tahun 1978, telah menjadi partai opisisi status quo orde baru. Dalam peran politiknya juga sangat ideal dan konsisten. Namun setelah reformasi bergulir dan orde baru tumbang, partai ini hilang pamornya. Kepemimpinan yang karismatik nampaknya tidak lagi manjur dalam era modern kali ini. Lihat saja seorang Presiden RI yang oleh warganya ditahbiskan wali akhirnya diturunkan dari jabatannya. Begitu juga dalam kepemimpinan partai berlambang ka’bah ini. Ke kharismatikan Hamzah tidak didukung oleh kekuatan leadershipnya. Tidak sebagai pengurus partai yang bisa mengurus partainya, tapi pengurus yang malah diurus partai. “Saya memang tidak pemimpin yang karismatik, dan saya tidak butuh karismatik, tapi saya ingin pengurus yang bisa mengurus dan memenej partai” ungkap salah satu kandidat kuat calon Ketua Umum Drs. Suryadharma Ali, MSi.

Dengan semboyannya “Bangkit Bersama Untuk Perubahan” ia maju dengan dukungan wilayah dan cabang yang selama banyak dikecewakan oleh kinerja para petinggi partai di pusat khususnya para Pengurus Harian Pusat atau PHP yang sangat memonopoli kepengurusan dan intervensi sampai ke tingkat bawah. Dalam organisasi tidak bisa demikian. Kepemimpinan partai seharusnya kolektif tidak figuratif. Tidak one man show. Kalau yang begitu dipaksakan akan terjadi banyak konflik kepentingan yang ujung-ujungnya adalah setoran. Dan ini tidak professional.

PPP harus bangkit. Jika keadaan seperti ini bertahan maka nasib partai tambah tidak karuan. Para kandidat yang akan bertarung di arena muktamar adalah Endin AJ Soefihara (Ketua Fraksi PPP di DPR RI), Arief Mudatsir Mandan (Anggota DPR RI), Hadimulyo, Yunus Yosfiah (Sekretaris Umum DPP PPP), Ali Marwan Hanan (Wakil Ketua Umum DPP PPP), Ahmad Dimyati Natakusuma (Bupati Pandeglang), Suryadharma Ali (Meneg Koperasi dan UKM RI).

Jumat, 2/2/2007, adalah hari pemilihan ketua umum dimulai. Didahului sebelumnya dengan sidang tata tertib pemilihan yang cukup alot dari pagi hingga menjelang salat Jum’at. Tapi akhirnya mekanisme pemilihan dengan satu putaran dan suara terbanyak yang menjadi ketua umum adalah yang disetujui. Meskipun masih ada saja yang memprotes keputusan tersebut. Sidang dilanjutkan setelah jum’atan, hanya untuk membacakan hasil sidang tatib pemilihan dan sidang kemudian ditutup dilanjutkan dengan pendaftaran masing-masing kandidat yang mulai dibuka dari pukul 14.30 sampai pukul 17.00.

Pengambilan suara dilaksanakan pada malam harinya. Dimulai pukul 20.30 dipanggillah satu persatu dari masing-masing utusan seluruh Indonesia. Pencoblosan berlangsung sampai dini hari pukul 03.00, baru kemudian dilanjutkan untuk penghitungan. Selesai penghitungan tepat pukul 06.30. Dan alhamdulillah, jagoan kita menang, Suryadharma Ali jadi ketua umum. Suryadharma mendapat 365 suara lebih besar dibanding perolehan di tempat kedua yaitu Arif Mudatsir yang mendapat suara 325, dan Salawat badar menggema dalam ruangan sidang. Seluruhnya bersorak gembira dan mengucapkan syukur. Tidak sia-sia usaha kita kali ini. Semoga menjadi awal perubahan. Bangkit bersama untuk perubahan. Semoga berhasil Bang Surya.

Saturday, January 6

NILAI UJIAN DAN MASJID TERMEGAH DI INDONESIA






Belum jelas nilai semesteranku, dalam benakku sudah bertanya-tanya bagaimana tata cara daftar ulang. Siang itu, selasa 3 Januari 2006, aku telpon ke kantor jurusan untuk bertanya. Aku mendapat ucapan selamat dari staf sekretariat karena nilaiku alhamdulillah selamat semua alias berhasil. Penasaran aku jadinya, pengin tahu persis materi-materi apa saja dan dapat apa. Sebab dalam hati ini belum yakin kalau dapat lolos dari jeratan-jeratan kesulitan materi-materi pelajaran yang baru ku kenal.
Hari Jum’at kemudian baru aku pergi ke kampus. Selain ingin buka rekening BNI guna daftar ulang juga ingin mampir ke sekretariat. Kepengin tahu nilai-nilauku. Di luar dugaanku, setelah aku minta daftarnya memang tak satupun yang gagal. Materi yang paling ku khawatirkan saja, hermeneutik dan teori interpretasi, dapat B plus. Dua materi lainnya dapat A (Antropologi Psikologi) dan A minus (Metode Penelitian), dan materi kebijakan publik dan antropologi sosial budaya masing-masing dapat B plus. Alhamdulillah aku bersyukur. Pingin rasanya nraktir semua staf tapi aku pikir kebutuhanku masih buanyak, oke nanti sajalah kusimpan niat baik ini dulu.
Setelah itu aku pamit dan mencari tempat yang enak untuk sarapan. Tanpa basa basi aku genjot motorku ke tempat saudaraku di Pancoran Mas. Sebetulnya bukan mampir mau makan di tempatnya, tapi yang ku tuju adalah warung di belakang rumahnya. Aku puaskan sarapan pagi di situ.
Jam menunjukkan pukul 10.30. Aku mulai berpikir dimana aku akan menunaikan ibadah salat Jum’at. Di Gandul, di kampus atau di jalan saja kalau sudah masuk waktunya mampir di suatu Masjid. Pikiranku melayang pada sebuah spanduk di depan kampus UPN yang isinya ajakan para muslimin untuk salat ‘ied di Masjid Dian Al-Mahri (Masjid berkubah emas) di daerah Meruyung Limo Depok. Ingin rasanya salat Jum’at di sana. Sebab dulu ketika masa pembangunannya sangat tertutup rapat. Tidak boleh orang sembarangan masuk.
Selang 20 menit aku sampai di gerbang. Ada dua petugas yang mempersilahkan setiap kendaraan yang masuk sambil memberi kartu parkir. Ku ambil kartu dan masuklah aku ke sebuah kompleks yang luas sekali. Konon tanahnya terbentang dari jalan Meruyung sampai jalan Grogol. Aku lihat sebuah Masjid yang berdiri kokoh dan mempesona setiap mata memandang. Aku parkir dan ku ambil sebuah buku karya Ohan Parmuk berjudul “My Name is Red” untuk baca-bacaan sambil menunggu salat Jum’at tiba.
Rasa kantuk mendera setelah beberapa menit aku serius untuk membaca buku di dalam Masjid yang sejuk. Berbeda sekali rasanya di luar Masjid sama di dalam Masjid. Rasa dingin dan sejuk di dalam Masjid membuat perasaan dan hati tenang. Ditambah dengan keanggunan tata letak dan ruang yang semakin membikin setiap jama’ah tentram di dalamnya. Ku ambil wudhu lagi untuk mengusir kantukku. Masih ada waktu 20 menit menuju waktu salat. Aku gunakan untuk keliling Masjid melihat kesempurnaan bangunan yang katanya dibangun selama tujuh tahun ini.
Kamaluddin namanya ia perkenalkan padaku. Setahun sudah ia bekerja di Yayasan Dian Al-Mahri sebagai salah satu takmir Masjid. Darinya baru aku tahu kalau jum’atan kali ini adalah jum’atan perdana. Memang ajakan salat ied yang terpampang di spanduk yang kubaca adalah waktu pertama kalinya Masjid itu resmi difungsikan. Acara tersebut sebagai pembukaan dan peresmian yang disiarkan langsung oleh SCTV.
Darinya ku korek banyak keterangan mengenai seluk beluk Masjid dan Yayasan Dian al-Mahri. Menurutnya, pembangunan Masjid menghabiskan dana lebih dari satu Triliun rupiah. Kubah emasnya saja pesanan langsung dari Turki. Setiap kubah dilapisi emas 24 karat tipis mengelilingi kaca. Sehingga kalau kaca pecah emas tersebut juga ikut pecah. Lalu lampu hias yang tergantung di tengah-tengah adalah buatan dari Italy. Setelah tiga bulan sebelumnya dipesan langsung di Italy. Dan datang dengan kontainer dan teknisi langsung dari sana. Lampu yang mempunyai berat 6 ton tersebut ditarik dengan tali baji yang bisa menahan beban seberat 8 ton. Konon lampu pesanan khusus tersebut menghabiskan dana 60 miliar.
Belum lagi tiang-tiang kokoh yang terbuat dari batu pualam dan marmer. Setelah kuhitung jumlah tiang yang ada di dalam sejumlah 36 tiang. Dia menyebut kalau harga setiap tiang itu sama dengan harga rumah kurang lebih 150 juta. Subhanallah, masih ada juga yang kaya di negeri ini yang mau menyisihkan dananya untuk membangun Masjid yang biayanya sampai triliunan rupiah. Di tengah ironinya keadaan ekonomi dan sosial yang dapat dikatakan terpuruk. Semoga niatnya sang pemilik dan pendiri Masjid tersebut lurus.

Bangunan Masjid tersebut aku taksir menempati lokasi seluas 5 – 6 hektar. Padahal seluruh tanah yang dijadikan kompleks yayasan tersebut seluas 60 hektar. Tak bisa kubayangkan kalau jalan kaki mengitari tanah seluas itu. Ada tiga villa yang mengelilingi kompleks itu. Sebuah auditorium megah nan luas juga dapat dilihat dari halaman Masjid. Secara fisik memang pembangunan di tempat itu menelan biaya yang tidak sedikit. Penghasilan dan kekayaan pemilik tempat tersebut, ibu Dian, pasti di atas rata-rata umumnya orang yang dicap kaya di Indonesia. Wallahu a’lam.
Aku kemudian menanyakan tentang kegiatan pengajian rutin di tempat itu. Ia menyebut pengajian yang anggotanya hanya kaum ibu-ibu diselenggarakan setiap dua minggu sekali. Sedangkan ke depan dengan sudah berfungsinya Masjid tersebut akan diadakan beberapa pengajian umum dengan menghadirkan tokoh atau para dai kondang. Salah satu stasiun televisi kabarnya telah membooking tempat ini untuk kegiatan pengajian tersebut.
Hal yang masih menyisakan pertanyaan di benak saya dan juga mungkin di benak para jama’ah jum’at yang hadir kala itu yaitu mengenai sosok ibu Dian. Siapa, apa pekerjaannya, siapa suaminya, dan so on and so on. Dari Kamaluddin pun aku hanya dapat sedikit keterangan mengenai sosoknya. Menurutnya, si ibu ini sekarang hidup bersama suaminya yang ketiga. Suami pertama kabarnya seorang pengusaha minyak dari Arab Saudi. Si ibu juga pengusaha apartemen di Singapura dan mempunyai beberapa saham di beberapa perusahaan nasional seperti di BRItama. Hanya itu saja yang kudapat keterangan dari Kamaluddin. Selebihnya aku dengar kabar dari temenku Ahmad kalau dia ini adalah paranormal yang dulu pernah menyembuhkan sakitnya Sultan Bolkiah dari Brunei Darussalam. Karena jasanya sang sultan memberi ia saham salah satu pengeboran minyak di Saudi Arabia. Yang sampai saat ini keuntungannya tersebut terus mengalir ke koceknya. Wallahu a’lam.
Namun demikian, dengan tidak menafikan jasa ibu Dian semoga apa yang telah ia usahakan dari membangun Masjid, membina jama’ah, dan beberapa kegiatan sosial lainnya semoga menjadi salah satu kekuataan di antara kekuatan-kekuatan Islam yang ada. Kan satu muslim dengan muslim lainnya saling bertumpu satu sama lain sehingga membuat satu bangunan yang kokoh. Al mu’minu lil mu’mini kal bunyaani yashuddu ba’duhum ba’dlo. Semoga kita juga dapat berkontribusi dalam membangun kekuatan tersebut.

Wednesday, January 3

Hari Raya Qurban dan Tahun Baru 2007


Jutaan orang berkumpul di padang Arafah. Ramai-ramai wukuf untuk memanjatkan doa dan mengharap ridho-Nya. Mereka datang dari seluruh penjuru dunia meninggalkan sanak famili demi satu tujuan, menghadap Ilahi Rabbi di Baitullah. Semua sama di hadapan-Nya, manusia yang tercipta dari tanah. Tidak ada beda antara orang Arab dan di luar Arab. Kecuali mereka dibedakan dengan kadar takwa mereka di hadapan-Nya.
Sepetik peristiwa ibadah haji di atas merupakan ritual wajib bagi Muslim yang mampu melaksanakannya. Mampu biaya, tenaga dan kesempatan. Jika sudah terpenuhi hal-hal tersebut, maka tidak ada alasan baginya untuk menundanya. Semoga Allah SWT memberiku kesempatan suatu saat nanti. Tidak hanya sekali tapi berulang kali. Amien ya Rabbal ‘Alamin.
Biasanya ketika wukuf itulah para Muslimin di seluruh dunia disunatkan untuk puasa yang disebut puasa‘arafah. Namun disebabkan oleh beberapa hal, mungkin juga salah informasi mengenai perbedaan waktu di Saudi dengan di Indonesia, saya tidak berpuasa Arafah tahun ini. Menyesal sekali dalam hati. Tapi hari-hari itu memang sibuk sekali. Setelah jadi panitia launching buku-buku filantropi oleh Center for Study Religion and Culture. Aku kemudian fokus ke finalisasi majalah pakar yang belum kelar-kelar untuk naik cetak. Sehingga waktuku juga tidak seenjoy orang yang mau merayakan lebaran yang umumnya sudah pada libur tapi kita masih saja ada kerjaan.
Suatu kesyukuran yang saya rasakan adalah saya dapat berkurban tahun ini. Kurban seekor kambing. 3-4 hari sebelum lebaran ied aku merenung dan berdoa, “Ya Allah berilah aku kesempatan dan kemampuan untuk berkurban di hari raya ‘ied ini”. Padahal waktu itu tak sepeserpun uang ada di kantongku. Namun ada perasaan optimis dalam hatiku untuk bisa berkurban. Tak disangka min 2 hari sebelum ‘ied aku dapat honor dari kepanitian kemarin sebesar 750 ribu. Alhamdulillah aku bisa berkurban. Ku telpon rumah untuk mencarikan aku kambing seharga 650 ribu. Yang aku tidak ketahui kalau hari itu hari Jum’at. Semua bank sudah tutup termasuk bank BCA yang aku mau pake transfer. Bagaimana caranya ya? Mau minta tolong ust. Husnan tidak enak pinjem atm-nya. Ada saja jalannya Alhamdulillah, dibantu mbak enen transfer ke rekening kakakku, Mbak lis. Hari itu juga dicariin kambingnya dan dapat. Seneng rasanya aku dapat berkurban.
Berkurban, suatu pelajaran mahal yang dicontohkan oleh Khalillullah, Nabi Ibrahim AS. Contoh seorang hamba yang mengurbankan apa yang ia paling cintai karena Allah SWT. Ratusan tahun tidak dikaruniai anak. Saatnya Allah mengkarunianya seorang anak, tiba-tiba datang perintah untuk menyembelihnya. “inniy araa fil manaami, inny adzbahuk, fandzur madza taraa?” suatu pertanyaan dari seorang bapak pada anaknya mengenai mimpinya tentang perintah dari Yang Maha Kuasa untuk menyembelihnya. Dengan kesalehan dan keikhlasan pula sang anak menjawab “ya abatif’al maa tu’mar satajiduny insyaAllah minasshabirin” suatu keikhlasan yang tiada tara dimana seluruh dunia dan isinya bahkan dirinya pun lebur terhadap perintah dan permintaan Allah, Sang Pencipta-Nya. Di situlah sebenarnya inti dari ibadah kurban yang setiap tahun kita laksanakan. Teringat ketika di pondok pernah pertama kali dipaksa menyembelih kambing. Rasa ketakutanku hilang dan berhasil menyembelih sekitar 15 kambing dari 700 kambing yang disembelih bergantian. Luar biasa.
Pagi itu hujan gerimis turun mengiringi salat ‘ied. Aku salat ‘ied di Masjid Imam Bonjol komplek Angkatan Laut Pondok Labu, tepatnya di samping Diklat Dephan. Jama’ah membanjiri Masjid sampai pelataran penuh. Rencananya salat yang akan dilaksanakan di lapangan terpaksa dibatalkan karena cuaca hujan. Namun tidak mengurangi kekhusyukan kita menjalani salat ‘ied. Setiap takbir dikumandangkan teringat aku sedang merayakan lebaran dengan keluarga di rumah. Jadi ingin rasanya pulang.
GPK (Gerakan Pemuda Ka’bah), salah satu organisasi kepemudaan yang saya ikuti menyelenggarakan penyembelihan kurban. Kali ini ada 2 sapi dan 9 kambing. Kedua sapi adalah sumbangan dari mantan ketua Syahrial Agamas dan Walikota Pontianak bapak Buchari Abdurrahman dan keluarga. Rencana dagingnya akan dibagikan pada orang-orang miskin yang tinggal di bantaran sungai dan di kolong jembatan. Selain ada sembelih menyembelih. Momen ini juga digunakan oleh GPK konferensi pers mengenai peran GPK menjelang Muktamar PPP dan menanggapi beberapa isu kontemporer yang ada. Ketua Umum Syafruddin langsung diwawancarai oleh Indosiar, SCTV, RCTI, harian Republika, Berita Kota, Pos Kota dan Warta Kota. Aku sempat datang juga untuk potret-potret dan ambil daging lah ya. Aku dapat dua kepala kambing dan 2 kaki kambing untuk disop. Muantap.
Malam harinya meski begitu sepi. Rencananya aku ingin hadir pada zikir nasional di TMII. Karena malam itu adalah malam tahun baru. Tengah malam sudah ganti tahun, tahun 2007. Namun rasa lelah dan letih menyelimuti diriku setelah sesore sampai malam ngurusi daging dan kepala yang mau disop. Untuk menghilangkan kejenuhan aku pergi ke mall untuk refresh sebentar. Malamnya setelah pulang kawan-kawan yang rencananya mau nyate pun belum datang. Karena kecapean akhirnya akupun tertidur. Wah lewat deh malam tahun baru yang indah.
Nothing special with this new year, except we become older and may be more wiser. Tahun baru ini cukup membuat saya ciut. Mengingat masih jauh perjalanan hidup ini dan belum sama sekali prestasipun tertoreh. Diri ini masih banyak kekurangan. Masih banyak harus belajar. Refleksi, introspeksi, kontemplasi, imajinasi, seluruhnya perlu dilakukan demi mewujudkan suatu cita-cita. Namun hati ini rasanya belum dapat dorongan dan motivasi untuk lebih mengoptimalkan sarana itu. Masih terbelenggu. Terbelenggu oleh sesuatu yang aku pun tak tahu. Astaghfirullah.
Rencananya aku pulang liburan aku urungkan sementara. Aku batalkan karena cuaca di jalan lagi tidak bersahabat. Selain itu juga mendengar kabar tentang hilangnya pesawat ADAM AIR dan tenggelamnya kapal Senopati yang merenggut banyak korban dan berbagai musibah lainnya. Apakah ini pertanda alam murka. Nyatalah kerusakan di bumi dan laut akibat ulah manusia. Maha suci Allah dengan segala firman-Nya.
Keinginanku untuk ngekos timbul lagi. Aku ingin mandiri, tenang, dan bebas. Bisa membaca sesukaku, bisa mengerjakan apa saja, tanpa gangguan ini itu. Tapi itukah yang aku cari. Bagaimana kalau boring nanti, karena kegiatannya itu-itu saja. Wallahu a’lam. Ust. Husnan juga tetap menyarankan untuk tinggal di rumahnya. Buat apa buang-buang duit untuk bayar kontrakan lebih baik buat beli buku, kilahnya. Yah aku pikirkan sekali lagi deh.
Begitulah dua peristiwa di penghujung tahun 2006 dan di awal 2007 ini. Semoga Allah memberiku kekuatan lahir batin untuk menghadapi dan mengarungi kehidupan ini. isy kariman au mut syahidan, hidup mulia atau mati syahid. Slogan orang gerakan ikhwanul muslimin terus menggelayuti setiap hirup nafasku. Ditambah dengan kata-kata, khoirunnasi anfa’uhum linnasi. Allahu Akbar!!!

Tuesday, January 2

Selesai Sudah UAS


Lega hatiku, telah selesai ujian akhir semester. Rasanya tidak nyenyak tidur, hati belum tenang. Mengingat tugas-tugas untuk jawab ujian yang menumpuk. Apalagi diingat referensiku sangat minim sekali. Aku kurang baca. Bacaanku belum banyak. Katanya untuk menjadi antropolog minimal harus baca kurang lebih 60 judul buku etnografi budaya. Setelah kuhitung-hitung bacaanku mengenai setting etnografi belum nyampe sepuluh. Buku-buku yang kubeli tahun ini memang lebih banyak dari biasanya. Selain memang buku wajib, sebagai referensi kuliah. Aku memang gemar mengoleksi buku, tapi belum tentu yang kukoleksi sudah terbaca semua. Konsekswensinya ya aku tidak bisa nabung.
Bagaimanapun, titik tolak usaha dan perjuangan sudah harus dimulai. Tak surut langkah untuk mundur meninggalkan medan perang. Tak sedikit dari kawan-kawanku bahkan bekas muridku menanyaiku perihal jurusan yang aku ambil, mengapa mengambil antropologi. Ku jawab dengan tegas, ilmu adalah milik Allah, maka jangan dibeda-bedakan yang penting keyakinan dan aqidah kita jangan sampai rusak. Justru dengan belajar kita akan semakin tahu makna dan hakekat hidup ini. Barangsiapa yang ingin dunia maka dengan ilmu, barangsiapa ingin akherat dengan ilmu, barangsiapa yang ingin keduanya juga dengan ilmu.
Kembali rasa hatiku dilanda kecemasan. Karena sebentar lagi ada registrasi. Berarti saya harus bayar semesteran sebesar 5 juta. Berat rasanya minta sama orang tua lagi. Tidak tega rasanya. Tapi alhamdulillah orangtuaku masih diberi kekuatan dan kesehatan untuk bisa membiayaiku. Memang dari ketiga saudaraku yang lain. Aku paling tidak mau merepotkan orangtua. Aku lama di pondok, belajar selama enam tahun ditambah enam tahun mengabdi. Selama mengajar itupun aku jarang minta kiriman. Bahkan hanya sekedar untuk beli baju lebaranpun aku sendiri yang malah ditanyain. Mau beli baju lebaran nggak? Minta uang berapa untuk beli baju baru? Aku jawab ndak usah deh. Dah udah nggak zamannya lagi setiap lebaran harus baju baru. Kedua kakakku (perempuan) semua sudah menikah. Kedua-keduanya menjadi dokter. Yang pertama sudah praktek di rumah. Sedangkan yang satu lagi belum praktek. Tinggal aku sama adikku. Adikku alhamdulillah sudah punya kerjaan, jadi polisi. Saya rasa ia tepat berprofesi menjadi polisi. Sebab ia memang nakal meskipun ia pernah mondok di Gontor sampai kelas lima. Tapi orangnya masih perlu untuk diarahkan dan diberi nasehat.
Liburan semesteran ini aku belum ada planning. Tapi rencananya ingin pulang ke Semarang. Orang tuaku juga bilang kalau liburan pulang. Uang semesteran sudah disiapkan oleh bapak di rumah. Suerrr, aku bokeekkkk. Pakai apa pulang?
Memang bulan ini habis-habisan. Meski aku tidak pernah minta-minta ke orang tua setelah pulang lebaran dari Semarang. Tapi sebelumnya aku minta modal buat beli laptop, dikasihlah aku 5 juta. Dengan catatan kalau kurang cari sendiri tambahannya. Karena barang inilah penting bagiku. Selain untuk menunjang kegiatanku kuliah juga untuk terbantukan kegiatan lainnya. Jadi waktu itu ingin sekali aku punya laptop. Hasrat yang tak terbendung ini akhirnya dapat jalan. Selagi aku mencari tambahan buat beli laptop. Bersyukur dapat rejeki. Bu Sri Astuti dan ust. Husnan kasih tambahan. Kekurangannya aku pinjam kakak sepupuku yang ada di depok. Akhirnya terwujud jugalah keinginanku.
Sangat aku rasakan sekali manfaatnya. Apalagi ketika menghadapi UAS. Dengan berakhirnya UAS, sebenarnya tidak terlalu gembira mengingat nilai belum keluar. Aku khawatir ada yang fail. Sebab sampai disitulah kemampuanku. Aku coba mengadaptasikan diri dengan ilmu baru dan wawasan yang menurutku sangat luas. Alhamdulilah teman-teman kuliahku juga akrab. Meski umur mereka yang jauh di atas saya. Kebanyakan mereka sudah kepala tiga bahkan yang menempuh s3 ada yang sudah berkepala empat. Namun semua nampak akrab. Dalam obrolan dan diskusi juga enak-enak saja. Sebab mereka adalah para calon antropolog.
November kemarin aku ulang tahun yang ke-26. Tak terasa umurku sudah 26 tahun. Perlu refleksi, kontemplasi, atau si..si.. yang lainnya. Terkadang untuk kembali ke masa lalu memang perlu. Untuk selalu mengaca. Intinya harus berpikir masa depan. Masa depan memang harus direncanakan terlepas nanti meleset atau tidak namun tetap kita berusaha dan ada niat. Ingin rasanya aku cepat selesai kuliah ini dan dapat berkarya dan bermanfaat bagi orang lain. Ingin rasanya kembali mengajar, kembali ngaji di masjid, kembali khutbah di depan jama’ah, kembali..kembali..dan kembali. Lan tarji’al ayyamul latii madzot!!!

Ciputat, 22 Desember 2006

Panitia Launching & Hefner


Siang itu, Rabu 20/12/2006, aku diminta datang ke kantor CSRC – Center for the Study Religion and Culture – yang dulu namanya Pusat Bahasa dan Budaya di kampus 2 UIN Syarif Hidayatullah Ciputat. Mereka adalah teman-temanku juga, dari direktur sampai stafnya adalah teman-teman sekerja dengan bu Diana, darinya aku kenal mereka dan akrab dengan mereka. Beberapa acara yang sering dilakukan oleh mereka, aku sering dilibatkan. Terutama untuk urusan pers. Sebab acara mereka adalah bantuan dari asing berkenaan dengan program sosial dan kemasyarakatan.
Pada akhir bulan ini mereka mau melaunching buku-buku karya ciptaan mereka. Buku-buku mengenai filantropi Islam yang bertemakan “Mewujudkan Keadilan Sosial Melalui Filantropi Islam” hasil riset mereka selama ini di beberapa daerah di Indonesia. Filantropi istilah barat yang dipopulerkan untuk program-program sosial membantu orang-orang lemah. Filantropi Islam berarti kegiatan atau aktivitas untuk tujuan keadilan dan sosial dalam agama Islam. Di Islam lebih dikenal dengan zakat, infaq, sedekah dan wakaf.
Rencana mereka akan melaunching tiga buah buku. Aku diminta membantu mereka dalam urusan pers. Acara akan diselenggarakan rabu minggu depan, 27/12/2006. Bertempat di Auditorium UIN Syarif Hidayatullah. Schedule acara akan dimulai siang hari pukul 14.00 WIB, sebab Azyumardi Azra (rektor yang sebentar lagi habis masa jabatannya), baru dapat hadir pukul 14.00 setelah sebelumnya ada acara di TMII.
Namun di luar dugaanku siang itu, aku ketemu dengan antropolog Amerika yang indonesianis. Kalau dulu tahun 1940 – 1960-an orang mengenal Geertz. Namun pada dekade 90-an, Robert M. Hefner, professor dari Universitas Boston ini lebih dikenal karena berbagai penelitiannya di Indonesia. Ia bersama Kareel Steenbrink, Antropolog Belanda, memberi kuliah umum di paska sarjana Universtas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Selasa 19/12/2006.
Ia waktu itu datang mampir ke kantor CSRC setelah berkunjung ke PPIM. Kedatangannya disambut oleh Direktur CSRC baru, Chaider S. Bamualim. Ketika baru datang itulah saya berkesempatan untuk berkenalan dengannya. Pakai baju batik dan berbicara dengan bahasa Indonesia dengan fasih. Setelah ia tahu kalau saya kuliah antropologi di UI, ia menanyaiku antropologi apa yang aku ambil, aku jelaskan kalau aku belum fokus pada bidang apa dari antropologi yang saya ambil. Lalu ia menanyakan kembali siapa saja yang kasih kuliah di kampus. Aku sampaikan beberapa nama dosen yang mengajarku. Seperti yang saya ketahui salah satu dosen saya Prof. Amri Marzali, pengajar Kebijakan Publik, dalam disertasinya menyebutkan Hefner sebagai pengujinya. Maka ketika saya sebut nama dia, Prof. Hefner katakan ia kenal baik, bahkan ia tak percaya kalau pak Amri masih mengajar dikiranya sudah pensiun. Aku beritahu kalau sekarang pak Amri malah maju sebagai kandidat Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di UI. Sebelum pamit ia sempat titip salam ke pak Amri dan aku minta kartu namanya serta minta foto bersamanya.
Prof. Hefner sebagai seorang antropolog Indonesianis. Barangkali pengetahuan dan pemahamannya mengenai keragaman budaya dan tradisi di Indonesia lebih luas daripada kita-kita. Ini dapat dilihat dari karya-karya hasil penelitiannya yang sudah puluhan diterbitkan. Saya terakhir melihat bukunya “Islam Civil”untuk dijadikan referensi dalam menjawab ujian akhir mengenai antropologi sosial budaya. Isinya menerangkan budaya kontemporer Islam. Bagaimana komunitas beragama membentuk suatu kebudayaan tertentu dengan pengaruh dunia global dan kosmopolitan. Cukup masuk akal dan logis apa yang ia sampaikan dari pengujian hipotesis-hipotesis. Aljaddu bil jiddi wal khirmaanu bil kasali.



Gandul, 21 Desember 2006