Friday, October 19

TKI DAN HARGA DIRI BANGSA



Selasa malam 16/10/2007, saya potong rambut di sebuah kota kecamatan. Kebetulan barber-nya adalah pendatang madura. Saya tahu dari logat dan gaya bicaranya saat ditanya oleh salah satu temannya. Iseng saya ajak ngobrol sambil ia melaksanakan tugasnya. Mulai dari kehidupan keluarganya yang belum dikaruniai buah hati sampai pada petualangannya mencari nafkah. Di antara pengalaman menarik yang ia sampaikan adalah ketika ia berada di Saudi selama dua tahun setengah.

Indonesia merupakan salah satu Negara pengekspor tenaga kerja terbesar di dunia. Seperti halnya di Negara berkembang lainnya, ekspor tenaga kerja menjadi andalan devisa dan komoditas penting bagi Negara tersebut. Namun keuntungan ini harus dibarengi dengan mekanisme dan prosedur yang proporsional. Sehingga para tenaga kerja yang betul-betul menyandarkan ekonomi keluarga mereka pada pekerjaan di luar negeri tidak menjadi sapi perahan saja. Dari perekrutan, pembekalan, pengarahan sampai pada pemberangkatan dan penempatan, rentetan ini harus sehat. Sehat dalam arti semua urusan dapat diselesaikan dengan mudah dan tidak berbelit. Oknum-oknum yang melanggar harus ditindak tegas. Jaminan keamanan dan keselamatan bagi para TKI juga harus jelas.

Akhir-akhir ini banyak sekali berita mengenai TKI yang teraniaya di luar negeri, di Malaysia, Singapura, dan Saudi Arabia, baik karena didzalimi oleh majikannya maupun disebabkan oleh kecelakaan kerja. Seluruh aparat yang terkait dengan pengurusan TKI harus bahu membahu membenahi urusan ini. Kurang lebih kejadian demi kejadian semakin memberi plek hitam pada wajah Indonesia. Sebagaimana diungkapkan si Bejo (barber:nama samaran), akunya saat ia berada di Saudi untuk membantu saudara-saudaranya yang tinggal di sana, ternyata banyak wanita Indonesia yang bekerja dengan cara menjual diri. “ini sudah menjadi rahasia umum” demikian katanya. Mereka datang secara illegal. Ditampung oleh para germo yang juga adalah orang-orang Indonesia sendiri. Para germo inilah mendistribusikan kepada para penduduk setempat yang sudah menjadi langganannya.

Fenomena sebagai “juragan silit”, istilah yang ia pakai, memang tertutup. Bahkan saat ia pulang ke Indonesia pun, imejnya betul-betul dijaga dan dimanipulasi sedemikian rupa dengan cerita dan bualan bahwa ia disana bekerja sambil beribadah. Sudah haji ratusan kali karena jaraknya yang dekat dengan Masjidil Haram. Orang-orang tidak menyangka kalau pekerjaannya adalah pekerjaan yang nista di tempat suci bagi orang Islam.

Selama bekerja dua tahun setengah ikut saudaranya di Saudi, meskipun belum satupun korban atau pelaku yang berbicara langsung sama dia tapi dia banyak mendengar dari kanan kirinya. Karena fenomena tersebut sudah menjadi rahasia umum. Bagi yang masih takut dengan agama, bahwa kalau berbuat baik di tanah suci pahalanya akan dilipatgandakan begitupun sebaliknya jika berbuat jahat dosanya juga akan berlipatganda, ia akan membawa pelacur tersebut keluar tanah suci. Jika sudah tidak mengindahkan lagi norma agama ia akan melaksanakan perbuatan tercelanya di tempat itu juga.


Tidak ada pilihan
Profesi sebagai pelacur dan bekerja sebagai TKI illegal sengaja mereka lakukan demi mencari nafkah. Desakan kebutuhan ekonomi keluarga di kampung halaman yang membuat mereka memilih jalan pintas sebagai pelacur. Dengan profesi tersebut mereka merasa lebih beruntung daripada para TKI legal yang gajinya sebulan bisa mereka raih hanya dengan sistem kebut semalam (SKS). Jika seorang pembantu pendapatan sebulan 60 riyal misalkan, dia hanya butuh semalam untuk menghasilkan jumlah tersebut dengan segala risiko yang ada.

Kupu-kupu malam adalah istilah yang pernah digunakan untuk menyebut para pekerja seks komersial (PSK) yang beroperasi di malam hari sampai pagi. Di Indonesia sendiri, khususnya di Ibukota Jakarta, ada beberapa daerah dimana terkonsentrasi kegiatan mesum seperti di jalan Mentawai Kebayoran Baru, sepanjang jalan Hayam Wuruk, Prumpung Jatinegara dan di beberapa daerah lainnya. Namun saat ini sering ada operasi penangkapan oleh satpol PP mereka mulai mengkonsentrasikan diri keluar Jakarta. Salah satu yang paling ramai dikunjungi oleh para pencari kenikmatan adalah di Parung. Di sana banyak warung remang-remang yang sengaja menyediakan jasa mesum.

Fenomena menjamurnya kegiatan mesum ini disebabkan oleh banyak faktor. Jika para pekerja seks disensus mereka datang dari berlainan daerah. Faktor ekonomi adalah yang banyak melatarbelakangi profesi mereka. Selain itu rumah tangga yang hancur (broken home), putus asa, susah cari pekerjaan dan sebagainya. Profesi penjaja seks sendiri bagi mereka karena tidak ada pilihan lagi. Keadaan ekonomi keluarga yang minim, susah cari kerja, pemasukan tidak ada, suplai kebutuhan tidak ada, pemerintahpun tidak urung turun tangan memberi solusi, lalu mereka berpikir satu-satunya pekerjaan yang mudah dilakukan dan cepat mendatangkan uang adalah “melacurkan diri”.

Harga diri bangsa
Ketika urusan bisnis mesum sudah mengglobal, urusannya tidak lagi bersifat individu, atau lokal daerah saja, tapi sudah menjadi urusan bangsa dan Negara. “Human trafficking” telah menjadi perhatian dari sejumlah Negara untuk menindak kejahatan internasional yang tidak manusiawi. Masak manusia diperdagangkan? Betapa teganya. Suatu perbuatan kriminal yang segera harus dibasmi.

Indonesia adalah Negara yang mayoritas muslim dan memegang adat ketimuran yang kuat. Sangat naïf bila apa yang terjadi malah banyak menyalahi etika ketimuran. Dimana lagi jati diri dan harga diri bangsa ini. Harga diri bangsa apa sudah tergadaikan? Bagaimana supaya mengembalikan “marwah” bangsa ini. Bila dikenal sebagai Negara pengekspor minyak terbesar, Indonesia boleh bangga. Tapi jika dikenal sebagai pengekspor “pekerja seks” apa bisa dibanggakan? Apakah hasil pendapatan Negara dari bisnis maksiat ini membawa berkah? Naudzubillah tsumma naudzubillah. Malaysia saja, Negara tetangga kita, dapat meremehkan kita disebabkan urusan TKI. Namun banyak yang menyayangkan bobroknya birokrasi bangsa ini yang sudah penuh dengan praktik KKN. Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk memperbaiki segala kerusakan dan degradasi moralitas penduduk yang seperti “Negeri di Awan” ini.

Berikut adalah ungkapan salah satu orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Malaysia mengenai masalah TKI atau TKW.

Berbicara masalah TKW memang menyedihkan. Problema TKW ini seakan-akan merupakan pil pahit atau racun penjatuh martabat yang harus ditelan oleh seluruh bangsa Indonesia . Kepada siapa kita harus mengeluh dan bagaimana harus memperbaikinya?. Di Indonesia sendiri seperti benang ruwet yang sukar dicari ujung pangkalnya. Berbelit-belit dan mbulet-mbulet, bersimpul-simpul ke sana kemari. Innii asykuu basttsii wa huznii ilallah.

Bukan hanya di Malaysia saja tetapi juga berlaku di Saudi, Singapura, Brunei, kadang-kadang saya tidak sanggup mendengar kabar apabila perempuan-perempuan kita berkeliaran ke sana kemari dibawa orang, sambil ngobyek. Ada yang disiksa, ada yang hamil entah sengaja menyerahkan diri atau diperkosa. Siapa yang harus dipersalahkan?. Kita-lah yang sengaja menghantarkan gadis-gadis kita (kadang masih di bawah umur yang dituakan) ke luar negeri, jauh dari tanah air. Makhluk-makhluk yang lemah ini diserahkan kepada orang-orang yang tidak kita kenali dan di tempat yang tak terjangkau oleh keluarganya. Memanglah tidak dinafikan tidak sedikit dari mereka yang bernasib baik mempunyai majikan yang baik dan berperikemanusiaan. Terus terang saja, dhamir (hati kecil) sayapun keberatan mengirimkan wanita-wanita kita ke luar negara. Marilah kita pecahkan bersama masalah yang rumit ini, tanpa harus menyerahkan kesalahan kepada siapa-siapa. Apakah ada jalan lain yang lebih baik lagi untuk menambah devisa Negara selain mengekspor wanita-wanita kita?.

Yang lebih parah lagi adalah suami-suami mereka malah ada yang minta dikirimi uang, handphone dan minta dibelikan motor. Ini dunia sudah terbalik. Dan berita yang menyakitkan adalah suaminya mau kawin lagi dan mempunyai perempuan simpanan. Ini bagaimana?. Ya Allah, berilah hidayah kepada kami semua agar para suami benar-benar melaksanakan tanggungjawabnya sebagai suami. Bukankah seorang suami wajib bertanggungjawab memberi nafkah lahir batin kepada isteri dan anak-anaknya. Bukan sebaliknya.

Entahlah sampai kapankah bangsa kita ini bisa terlepas dari satu cobaan demi cobaan? . Satu hal yang saya percayai adalah selama kita tidak kembali kepada ajaran-ajaran yang diridhai oleh Allah, maka ujian demi ujian ini tidak akan berakhir. Hanya Allahlah yang bisa menyelesaikan segala masalah yang rumit ini. Jika Allah menghendaki, Kun Fa Yakun. Allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa selama bangsa itu tidak berusaha merubah nasibnya sendiri.

Apakah mengirimkan tenaga wanita kita ke luar Negara ini tidak salah di sisi agama?. Jika dikatakan tidak salah, tentunya ada syarat-syarat yang ketat agar wanita-wanita kita tetap terlindungi marwahnya dan tidak memalukan bangsa Indonesia yang besar dan memiliki kekayaan yang luar biasa ini. Bisakah kita bangkit maju tanpa harus mengexport makhluk yang lemah ini?. Semoga saja ya. Ya Robb, makmurkanlah bangsa ini di bawah ridha-Mu dan petunjuk-Mu. Amin.

Thursday, September 6

Jalan jalan ke rangkasbitung


Catatan perjalan ke Rangkasbitung Lebak Banten
31 Agustus

Lebak adalah salah satu kabupaten di Provinsi Banten dengan tingkat
pendidikan paling rendah dibanding kabupaten lainnya.
Menurut data 2006 dari seorang praktisi pendidikan, hanya 3 %
orang dari usia belajar tingkat atas yang berkesempatan mendapat
pendidikan formal, baik di SMU maupun di Madrasah Aliyah atau
pesantren yang setara. Masalah ekonomi menjadi alasan utama.
Selain itu masalah pemerataan pendidikan juga belum sepenuhnya
berjalan dengan baik.

Beberapa pesantren tradisional yang sudah puluhan tahun
berdiri menjadi alternatif pendidikan. Di samping biaya murah, mereka
juga tidak punya target terlalu muluk dalam bidang akademisnya.
Munculnya pesantren modern pada awal tahun 1990-an memberi
warna dan nuansa tersendiri buat pendidikan berbasis agama ini.
Namun toh keberadaan pesantren modern tidak lantas menjadi solusi
dari ketimpangan sosial yang terjadi pada dunia pendidikan. Selain untuk
menjawab beberapa tuntutan skill dan kemampuan akademis untuk
kepentingan pragmatis yaitu bekerja atau sebagai syarat untuk
melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Fenomena antara pesantren salaf dan modern di Banten mampu
berintegrasi dengan munculnya sebuah forum bersama para kiai,
pimpinan pondok pesantren. Forum tersebut dinamakan FSPP,
singkatan dari Forum Silaturrahim Pondok Pesantren.

Ide tersebut berawal dari jalinan silaturrahim antara para
pimpinan pesantren modern yang notabene semuanya adalah
alumni Gontor. Ketika itu berjumlah 12 orang. Selain untuk
mempererat tali silaturrahim, dalam kesempatan tersebut juga
mendiskusikan hal-hal yang krusial mengenai berbagai masalah
terkait dengan lembaga pesantren modern yang mereka kelola.


Keakraban dan saling bantu membantu inilah yang membuat iri
para kiai pesantren salaf untuk ikut bergabung juga. Setelah
melihat fenomena lembaga pesantren modern yang dari tahun
ke tahun dapat maju pesat. Kalau tidak salah, menurut persepsi
mereka, dengan ikut bergabungnya bersama forum tersebut
pesantren mereka dapat bantuan baik dari kalangan pemerintah
maupun dari para dermawan. Nampaknya dalam hal ini mereka
belum begitu pengalaman alias kurang percaya diri. Bagaimana
membangun network, menjalin komunikasi dan hubungan dengan
pihak-pihak di luar, tidak menjadi prioritas di pesantren
salaf. Mereka lebih memprioritaskan santrinya, ngaji kitab, setoran
hafalan dan rutinitas lainnya.

Saat ini, kurang lebih 3000 pesantren di Provinsi Banten yang
tergabung di FSPP. Sebelumnya diberi nama FKPM, kepanjangan
dari Forum Komunikasi Pesantren Modern. Untuk menghilangkan
sentimen identitas antara "modern" dan "salaf" maka diubahlah
menjadi Forum Silaturrahim Pondok Pesantren.

Selain berfungsi sebagai ajang silaturrahim, anggota forum yang
terdiri dari pimpinan pesantren yang cukup berpengaruh di
masyarakatnya bergelar "kiai", mereka juga berfungsi dan
dapat difungsikan sebagai sarana konsolidasi dan komunikasi
antar umat Muslim dengan berbagai latarbelakang yang ada.
Pemerintah mendukung penuh keberadaan forum ini. Bahkan Pemerintah
Daerah memberi suplai dana disiapkan dari anggaran daerah,
untuk kepentingan forum ini dan menyedia-
kan kantor khusus untuk kegiatan kesekretariatan.


Peran dan fungsi forum ini sebagai ajang silaturrahim antara kiai
pondok pesantren, kurang lebih memberi kontribusi nyata bagi
ketenangan rakyat di Banten yang bagi mereka Kiai adalah
orang yang patut dihormati dan didengar di samping "jawara".
Bahkan ada juga kiai yang sekaligus juga jawara. Istilah jawara
dikenal baik oleh masyarakat sebagai seorang yang memiliki
kemampuan dalam olahkanuragan dan adu fisik.
Mereka punya kekuatan dan kemampuan lebih.


Para kiai pimpinan pesantren yang tergabung di dalamnya juga
berperan besar dalam masalah legislasi di daerah. Mereka
bergabung dengan unsur masyarakat lain dari tokoh masyarakat,
LSM, para akademisi, budayawan untuk menggodok suatu
undang-undang atau mengusulkannya. Meskipun hasil rumusan
dari undang-undang melewati proses panjang dan baru disahkan
tiga tahun kemudian. Itu tidak membuat semangat kendur justru
lebih untuk menggali lebih dalam lagi.

Menurut salah satu sumber, ada pengkategorian kiai yang
dilihat dari aspek sepak terjangnya. Mereka dikategorikan
menjadi 5 macam; ada Kiai Catur, Kiai Tandur, Kiai Tutur, Kiai
Bakul dan Kiai Ngawur. Pengertian Kiai Catur dipandang sebagai
seorang kiai dengan kapasitas penuh untuk mengatur luar dalam
pesantren. Mempunyai kemampuan dalam menerapkan strategi
dan siasat ke depan. Sedangkan Kiai Tandur bercirikhas sebagai
sesosok kiai yang hanya mengurusi santrinya dan berdiam diri
pesantren saja. Kerjanya hanya "nandur" santri. Kiai Tutur selain
memimpin pesantrennya, ia juga berdakwah di masyarakat dan
di birokrasi. Seorang kiai yang mempunyai kelebihan dalam
bidang enterpreneurship disebut dengan Kiai Bakul, selain
memimpin pesantren mereka juga punya usaha. Sedangkan yang
terakhir adalah "Kiai Ngawur" yang tidak diharapkan ada, karena
bisa menyesatkan umat.

Tuesday, June 5

Ujian akhir dan Kegelisahan masa depan


Lega rasanya, sudah dapat ngumpulin beberapa tugas. Dua materi lagi sisa ujian akhir semester yang aku tempuh. Namun terasa lega sekali empat materi sudah lolos, maksudnya tinggal tunggu nilai. Materi analisa folklore dan kebudayaan Indonesia pertama sudah ujian, aku berharap dapat A di sini. Prof. James Danandjaja seorang antropolog folklor yang baik sekali. Ia sangat menguasai folklor di Indonesia, baru-baru malah mau menerbitkan folklor Tionghoa. Semester kemarin aku ikut kuliahnya tentang Antropologi Psikologi. Kepakarannya dalam bidang antropologi sudah diragukan lagi, sayang usianya sudah berkepala delapan sehingga beberapa memorinya tidak sekuat dulu lagi.

Selanjutnya adalah laporan penelitian lapangan dari materi penelitian antropologi; metode dan praktik. Kegiatan penelitian ini banyak menyita waktuku. Dari awal penelitian sampai akhir kita bagaikan dikejar-kejar oleh waktu. Prosedur yang panjang dan waktu sempit menjadi refleksi kami. Hasilnya pun tidak begitu maksimal. Namun karena yang penting adalah proses. Menurut dosen kami sudah bagus, dan topik-topik yang kami teliti juga bagus. Seluruh laporan kami berjumlah 90 halaman. Ditambah dengan catatan lapangan dan lain-lain berjumlah 225 halaman. Yang kami kelewatan adalah mencantumkan beberapa foto-foto yang kami ambil ketika penelitian. Karena saat pengeprint-an kita sudah last minute, buru-buru, dan baru teringat ketika sudah difotokopi dan dijilid. Ya sudahlah, caaaaapek deh, kalau terus mikirin. Kami hanya mikiran setelah itu masih ada tugas 2 mata kuliah berupa soal ujian yang lumayan susah jawabnya yang belum kami kerjakan.

Senin adalah puncak-puncaknya, kalau bisa dibilang ini adalah ”the final countdown”. Ada tiga tugas yang harus selesai saat itu juga. Pagi jam 10.00 kita harus mempresentasikan hasil penelitian kita di depan para hadirin, yang sebagian besar adalah para alumni dan senior-senior kami di antropologi. Acara berlangsung sampai pukul 13.00. Karena kelelahanku dan beberapa teman-teman, berencana untuk mengumpulkan tugas dua lagi besok hari. Namun mbak Endang, satu tim dengan kelompok aku, menganjurkan aku agar mengerjakannya saat ini juga. Karena sudah tahu tugasku tinggal dikit lagi. Ia tahu sekali dosen yang mengajar kedua materi ini. Meskipun diam tapi dia itu mencatat loh siapa yang terlambat dan tidak, menurut keterangannya.

Aku berdua menyelesaikan di ruang itu juga. Sedangkan teman-teman lain ada yang sudah mengumpulkan ada juga yang belum. Setelah menggeber dalam waktu dua jam akhirnya kelar juga. Dalam keadaan lemas dan perut kosong, sebab sejak siang kemarin belum kemasukan nasi. Hanya kemarin sore aku dan Yusran beli mendoan dan es yang namanya aneh-aneh, ada es jelangkung, es black magic, es pocong, es voodo dan nama-nama angker lainnya. Heran juga tuh warung, nama-nama angker yang dipakai di sejumlah minuman malah bikin laris. Ada aji-ajinya kali ye?? Dari rasa dan kombinasinya juga biasa-biasa saja. Memang kreatif sih yang buat-buat seperti. Hari-hari biasa bahkan pada antri. Kembali ke masalah perut, semalam begadang untuk menyelesaikan tugas yang tidak kelar juga. Jadi setelah merasa lega ngumpulin semua lalu pulang ke kost, dan bruuuk langsung tidur. Bangun-bangun jam delapan, wah magrib lewat. Qodlo’ dong.

Setelah bangun dan salat, aku kepengin ke tempat saudara. Sabtu lalu aku mendengar mereka lagi mau menjenguk bulek di Gubug yang sedang sakit kanker paru-paru, tapi di tengah perjalanan malah menabrak anak. Sekarang anaknya lagi kritis di UGD RS Kariadi Semarang. Alhamdulillah urusan keluarga, polisi dan lain-lain dapat diselesaikan. Jadi minggu sudah bisa balik lagi dan senin sudah bisa kerja. Namun aku lihat masih ada gurat-gurat kelelahan di matanya atas musibah yang tidak disangka-sangka. Menurutnya, semoga dapat menjadi kuat dan pelajaran yang berharga sekali buat dia dan keluarga. Ia sendiri tidak mempermasalahkan ia salah atau tidak, tapi tanggungjawab moral tetap ada. Seandainya ditinggal lari saat itupun bisa. Tapi tidak manusiawi dan tidak bertanggungjawab.


Sekarang tinggal dua materi lagi. Materi Adaptasi manusia, dosennya meminta masing-masing membuat rasume selama kuliah berlangsung. Gila, banyak banget. Lalu ada Antropologi Hukum satu lagi. Untuk Antrops Hukum kami diberi tugas untuk melakukan wawancara dengan orang asing yang tinggal di Indonesia. Membahas masalah hukum dan masalah hukum yang pernah dialaminya. Jum’at tanggal 8 Juni terakhir kita harus serahkan tugas Adaptasi Manusia sedangkan Antropologi Hukum tanggal 14 Juni. Habis itu selesai.

Genap sudah materi-materi pilihan yang aku ambil. Jika semua lulus aku tinggal nulis saja. Tinggal melakukan penelitian. Ada dalam pikiran untuk ambil cuti saja. Agar bisa ada waktu untuk mempersiapkan rencana penelitian dan sambil mencari pengalaman dengan kerja. Wallahu a’lam lah. Sebab menurut pihak jurusan, sayang kalau aku ambil cuti. Lebih baik lanjut saja. Kan ada masih ada waktu tenggat tiga bulan sampai bulan Agustus depan. Rasa khawatir dan gelisah terus menyelimuti hatiku. Soalnya rencana sebelum tanggal 18 Juni ini aku harus keluar kost. Lalu kemana, pulang atau masih di Jakarta. Cari pengalaman, kerja, atau jalan-jalan? Entahlah. Kembali ke rumah Gandul, ....???, iya kalau masih diterima. Nggak tahu deh, yang pasti sudah tidak seperti dulu lagi. Harus bisa mandiri dan punya gawe.

Yang pasti aku harus pulang. Aku ingin ta’ziyah ke kuburan nenek. Seminggu yang lalu ia meninggal namun saya baru dengar kabar setelah dikubur dan mami melarang saya untuk pulang. Sayang lagi ujian. Lagian semua sudah ikhlas, nenek meninggal dengan baik, bisa ngucap kalimat Lai ilaaha illa-l-Allah. Doakan saja. Ingin nekat pulang saat itu juga. Tapi mikir juga kalau pulang dan taruh badan lalu kembali balik ke Jakarta, yang jatuh berisikonya pada saya. Sebab seninnya saya ada ujian. Malam itu juga saya selesai salat isya’ membaca yasin tiga kali dan mendoakan nenekku tersayang, Sukirah binti Amat Duki. Allahummaghfirlahaa war hamhaa wa ’aafihaa wa’fu ’anhaa, amin ya Rabbal ’alamin.

Di akhir-akhir kuliah ini aku merasa masih jauh dari harapan yang ingin ku raih. Beberapa materi dan tradisi keilmuan ini belum begitu aku kuasai. Masih sedikit bacaan yang aku baca. Butuh banyak membaca dan rajin untuk mengulang-ulang apa yang sudah saya dapat. Keresahan dan kegelisah ini terus menyelimuti hatiku. Semoga mendapat pencerahan dan petunjuk yaa Allah. Berikan hambaMu ini kekuatan dan kepercayaan diri untuk menghadapi masa depan ini yang penuh tantangan. Wa tsabbit aqdaamanaa wansurnaa alaa qoumi dzolimin.

Depok, 5 Juni 2007

Tuesday, May 22

Perda Syariah, Legal system dan informan



Sore itu rencana aku ke kantor Center for the Study Religion and Culture (CSRC) di kampus II UIN Ciputat. Tujuan utama saya adalah ketemu sama Mr. Cyhenne (panggilannya syeiin) bule dari Australia, kaitan dengan tugas akhir antropologi hukum, saya ingin mohon dia menjadi informan saya. Meski sudah ada satu informan Mr. Robert Aaron dari Amerika, tapi untuk memperkaya bahan saya tambah dengan informan lain. Mr. Cyhenne adalah volunteer di kantor tersebut sebagai language editor atau bisa dikatakan sebagai editor bahasa, semacam itulah. Selain di CSRC dia juga diperbantukan di PPIM. Tugasnya hampir selesai, dari masa kontrak kerja yang dua tahun dia sudah bertugas selama 1,5 tahun. Sekarang tinggal di Simprug. He is a nice guy and helpful.

Selain itu saya juga ingin bertemu dengan Efri, staf administrasi di kantor CSRC. Soalnya ada amplop yang musti diambil. Setelah tiba saya langsung masuk ruangannya bang Irfan sebab di sana ruangannya Cyhenne. Tapi yang ada malah mas Aang. Kami ngobrol mengenai fenomena perda syariah di daerah-daerah. Saya tertarik melihat hasil penelitian mengenai perda syariah di beberapa daerah di Indonesia yang dilakukan oleh CSRC. Termasuk Aang yang bertugas di Bulukumba. Saya menanyakan tentang efektivitas penerapan hukum syariah di daerah-daerah tersebut. Aang menerangkan kalau banyak ketidakkonsistenan dari penerapan dan pembuatan undang-undangnya juga terkesan asal “copy paste”. Ini berimplikasi pada mendaratnya klaim-klaim pihak yang dirugikan, seperti para guru PNS yang dipotong gajinya sekian persen untuk bayar zakat sedangkan dia sudah banyak potongan-potongan untuk bayar utang sehingga dalam sebulan uang gajinya nyaris habis disunat sana sini. Akibatnya guru PNS tersebut diberi keringanan sedangkan yang lain tidak. Belum lagi masalah-masalah lainnya.

Banyak hal-hal yang lucu juga dari penerapan perda syariah ini. Di lain daerah seperti di Bima, Aang bercerita kalau di sana ada perda yang namanya “jum’at khusuk”. Satu jam sebelum salah jum’at semua jalan akses ke Bima, khususnya yang melewati suatu Masjid, ditutup. Semua harus masuk masjid ketika itu. Mereka tidak mempertimbangkan bagaimana keputusan itu malah mengganggu lalu lintas bagi non-muslim atau para musafir yang diberi rukhsoh untuk menjamak salatnya dan bagaimana apabila ada pihak-pihak yang sakit musti mendapat pertolongan darurat. Lain lagi di Cianjur sebelum masuk kota Cianjur di gerbangnya tertulis “gerbang marhamah”. Di Sulawesi, tidak jelas di mana tepatnya, dikenal suatu istilah keharusan memakai jilbab dengan “kain penutup bangkai”. Sebab Bupati suka sekali jika melihat perempuan berjilbab, sehingga kemana saja di mobilnya pasti ada banyak jilbab, jika ketemu perempuan di jalan tidak mengenakan jilbab dia berhenti lalu kasih dia jilbab. Pernah suatu kali ada acara dangdut, ia melihat penyanyi dangdut dengan goyangnya yang aduhai tapi tidak memakai jilbab, dia panggil lalu kasih jilban dan disuruh meneruskan goyang dangdutnya. Masih banyak lagi yang lainnya.

Bahkan di suatu daerah yang berbuat ceroboh, bagaimana dia meng“copy paste” rancangan undang-undang dari daerah lain, lalu dibawa ke DPRD untuk dibahas dan disahkan tapi ketika dibacakan masih tertulis di draf undang-undang tersebut nama daerah tempat dia mengkopi file itu. Bahlul.

Obrolan kami sudahi karena waktu memang sudah mendekati sore, saya tidak ingin kehilangan Chyenne yang biasa sudah pulang kantor sebelum magrib. Setelah itu saya minta nomor kontaknya oleh Silvi dan saya menemui mbak Efri. Setelah urusan selesai saya menuju PPIM di gedung sebelahnya. Ternyata Mr. Chyenne ada di sana, dia sedang mengedit tulisan di depan komputernya. Kabarnya dia baru vakansi di Australia dan baru saja tiba di Indonesia. Tersenyum dia kusapa. Lalu saya menanyakan padanya apakah kedatangan saya mengganggu pekerjaannya. Oh tidak..tidak, katanya. Saya mengutarakan maksud saya padanya. Di luar dugaan saya dia sangat antusias sekali untuk menuliskan pengalamannya tentang “policy” yang ada di Indonesia. Dia pernah ditilang sampai 16 kali yang ujung-ujungnya polisi minta duit. Pernah suatu kali dia duduk bersama polisi selama 3 jam hanya masalah penilangan, dia minta ditraktir makan dan minum tapi dia tolak. Dia malah meminta semacam surat denda atau diselesaikan di pengadilan tapi ditolak oleh polisi. Kata polisi, dia harus membayar dengan jumlah sekian untuk diuruskan pengadilannya nanti dan urusan selesei. Tapi tidak demikian yang dikehendaki oleh dia.

Dia juga banyak menanyakan tentang politik dan hukum di Indonesia. Secara tidak lengkap saya pun beri dia informasi secara proporsional sesuai dengan yang aku tahu. Tapi nampaknya dia sangat tertarik dan cukup lumayan informatif penjelasan saya. Ujung-ujungnya ke masalah korupsi. Bagaimana usaha kamu untuk bisa menyembuhkan korupsi di Indonesia. Wah pertanyaan berat sekali untuk dijawab. Presiden Indonesia juga belum tentu menjawab dengan tegas pertanyaan ini. Ia bandingkan di Cina dan beberapa Negara lainnya. Dimana hukum korupsi tegas ditegakkan akan makmur rakyatnya. Contoh yang nyata adalah di Singapura. Gaji presiden Singapura, menurutnya, adalah paling besar di dunia yaitu 1,5 juta US Dolar/tahun lebih besar gaji Presiden Amerika yang Cuma 400.000 Us Dolar/tahun. Tapi sistem pemerintahan dan birokrasi berjalan dengan baik. Karena dari atas sudah tidak mau korupsi sampai ke bawah pun tidak ada korupsi.

Kemudian kita diskusi masalah Perda Syariah di tiap daerah di Indonesia. Menurutnya, yang juga fasih berbahasa Arab, ketika di timur tengah penerapan hukum syariah cukup efektif. “I like Syariah” katanya. Karena dengan penerapan hukum syariah secara konsisten banyak orang tidak berani berbuat jahat. Contohnya di Saudi. Ketika dia bawa mobil dia tidak perlu mencabut kuncinya. Namun ada juga beberapa kejadian yang salah tangkap atau salah tuduhan karena altruisme lembaga pengadilan setempat yang lebih suka tuduhan tidak diarahkan pada penduduk arab setempat. Dia cerita sebuah kasus pemerkosaan terhadap perempuan arab yang dilakukan oleh kakaknya sendiri tapi dituduhkan kepada orang Bangladesh.

Akhirnya kami tutup obrolan kami karena listrik mati dan hari sudah gelap karena mendung. “kayaknya waktunya sudah harus pulang” kata dia. Sebelumnya dia menjanjikan kalau dia bersedia sebagai informan saya. Mekanisme dia sendiri yang akan menulis sesuai daftar pertanyaan yang sudah saya buat. Dia janji dalam minggu ini akan diselesaikan. Intinya dia antusias dan very helpful untuk saya. Thanks mr.

Depok, 22 Mei 2007



Saturday, May 19

Antara Ideal dan Aktual




Sudah menjadi hal yang wajar, jika seseorang jauh dari rumah dan keluarga dia akan merasakan homesick. Istilah yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan kangen dan kerinduan mendalam terhadap kehangatan keluarga. Lain bagi seorang wisatawan lain juga dengan penuntut ilmu. Kalau wisatawan keluar rumah untuk jalan-jalan cari hiburan, sedang penuntut ilmu jalan-jalan secara sungguh-sungguh untuk cari ilmu. Yang mungkin dapat dikatakan sama-sama sifatnya, kedua-duanya sama-sama butuh duit. Baik yang bepergian wisata maupun yang mau menuntut ilmu.

Barangkali unsur materi ini yang telah menjadi masalah utama kenapa Indonesia tidak maju-maju. Mutu dan kualitas pendidikan Indonesia tidak pula menggembirakan. Kasus-kasus terhadap kegagalan-kegagalan terus menerus berulang. Tidak pintar-pintar mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa dan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Ambil contoh Negara tetangga kita, Malaysia. Secara signifikan mereka jauh meninggalkan kita dalam hal akademis dan pembangunan. Lalu kemudian mari kita tarik ke belakang 20 tahun yang lalu, siapa dan bagaimana Malaysia dibanding Indonesia?

Ada kekhawatiran-kekhawatiran dalam hati ini. Sebelum masa kuliah berakhir, karena singkatnya waktu dan terbatasnya jam tatap muka, saya merasa belum mendapat apa-apa. Saya merasa apa yang seharusnya saya terima dari materi kuliah belum begitu maksimal. Belum optimal dengan luasnya dan padatnya materi untuk berselancar dalam ilmu-ilmu sosial. Sebab dimensi sosial saat ini sudah sedemikian kompleks. Kita tidak bisa menyalahkan seorang guru karena lalai ketika salah seorang siswa menjadi korban pembantaian teman-temannya di areal sekolah. Sungguh banyak aspek terkait yang perlu dibongkar dan diungkapkan pokok dasar masalahnya.

Dari masalah kangen, kuliah, baca buku, kerjain tugas dan main game, silih berganti menjadi aktivitasku. Namun setiap weekend ada aja acara bersama kawan-kawan gontorian main bulutangkis di Ciputat. Cukup membuat badan dan pikiran menjadi sehat. Kesehatan memang lebih mahal dari pada kekayaan dan kekuasaan apapun (kata Don Corleon dalam film Godfather). Sedangkan dalam kata mutiara mengatakan, kesehatan adalah semacam crown di atas kepala orang-orangnya, yang tidak diketahui oleh orang kecuali bagi yang sakit.

Jum’at, 4/5/2007, kemarin sempat pulang untuk melepaskan rindu kepada keluarga. Jakarta – semarang memang tidak jauh, tapi saya sendiri baru pulang kali ini semenjak lepas lebaran kemarin. Momen weekend saya kira paling tepat untuk pulang. Bisa tiga sampai empat hari di rumah, selasa balik untuk masuk kuliah siangnya. Cukup seru juga di rumah ketemu dengan ponakan-ponakan yang lucu-lucu. Semuanya pada kangen “lik” (oom)nya. Perkembangan di desa juga biasa-biasa saja tidak terdengar suatu gerakan-gerakan yang menggembirakan.

Sudah lama memang saya meninggalkan suasana dan romantisme kehidupan di desa. Sudah 15 tahun kiranya, 12 tahun di Gontor dan 3 tahun di Jakarta. Dulu semasa kecil masih teringat mandi di kali (sungai), main sepeda ke gunung, cari jangkrik malam-malam, main betengan, dan aneka cerita seru lainnya. Sekarang sudah berubah. Tidak ada lagi keceriaan-keceriaan itu lagi yang saya lihat. Paling-paling banyak pemuda-pemuda kumpul kongkow-kongkow tanpa tujuan jelas, kemudian anak-anak juga saling pamer motor. Nuansa-nuansa romantisme dan harmoni desa di zaman dulu sudah hilang tergilas oleh globalisasi. Mereka sudah kenal handphone, lebih memilih nonton sinetron, main internet, main playstation, dan lain-lain.

Suatu fenomena baru yang tidak perlu diantisipasi tapi dipikirkan bagaimana kita sebagai manusia menghadapinya. Bagaimana identitas kita dipertaruhkan di sini. Sebenarnya identitas kita itu apa sih, sebagai warga Negara Indonesia tentunya identitas kita adalah orang Indonesia. Yang menjadi pertanyaan bagaimanakah identitas orang Indonesia itu? Pancasilais kah? Atau plural? Sekular? Religius? Siapa yang bisa mendefinisikannya? Agar di kemudian hari tidak salah generasi-generasi selanjutnya menafsirkan identitas mereka sebagai bangsa Indonesia.

Gandul, 20 Mei 2007

Thursday, May 17

Globalisasi, apaan sich???



Istilah globalisasi terus menerus ada di sekitar kita. Kalau mendengar globalisasi yang terbersit dalam benak saya sesuatu yang serba lintas batas, teknologi modern, dan pengaruh asing. Sepertinya kata globalisasi sudah tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi dalam dunia antropologi, istilah ini kerap dibawa-bawa untuk menunjukkan perubahan yang terjadi pada lapangan penelitian. Dalam materi metodologi teori dan praktik, yang diajarkan oleh trio antropolog UI; Iwan Tjitradjaja, Sulistyowati Irianto, dan Suraya Afif, seluruh program pascasarjana antropologi ditugasi untuk mengadakan penelitian dengan tema globalisasi. Secara khusus mengambil tempat penelitian di Detos dan Margo City Depok. Jadi penelitian kawan-kawan terfokus pada bagaimana warga depok mengalami globalisasi sehari-hari di Mal.

Dari satu tempat penelitian sudah terdapat banyak peristiwa dan gejala di setiap sudut yang dapat kami ambil sebagai judul penelitian masing-masing kelompok yang terbagi menjadi tujuh kelompok. Saya sendiri bersama Yusran dan Endang Rudiatin mengambil tema “
Representasi Identitas Serta Tafsir Remaja Atas Life Style di Mal: Studi Kasus Remaja Depok”. Meski judul tersebut belum bersifat baku, namun dari situ kami dapat memfokuskan penelitian pada remaja, bagaimana mereka memaknai globalisasi sehari-hari yang mereka representasikan melalui identitas tertentu. Minggu-minggu sampai depan adalah proses abstraksi dan penulisan setelah berlelah-lelah menulis fieldnotes, coding-memoing dan analisa data.

Jum’at 11/5/2007, pukul 13.30 WIB di blok café FISIP UI ada bedah buku karya Firmansyah, Ph.D, Dosen FE-UI, yang berjudul “Globalisasi – Sebuah Proses Dialektika Sistemik”. Yang melatarbelakangi penulisan buku ini, menurut penulis, keragaman pengalaman yang alami selama berada di luar negeri tempat ia belajar baik di Amerika, Perancis maupun di negara lainnya. Bahwa isu globalisasi tidak hanya dibicarakan di Indonesia, di Perancispun, Negara yang sudah maju isu ini tidak kalah pentingnya dengan isu politik. Dalam suatu petikan peristiwa ia dapatkan di sana, bahwa kumpul kebo itu malah tidak dilarang tapi malah diperkuat oleh hukum sebab dengan kumpul kebo bisa mengurangi nilai pajak pendapatan. Pengurangan pajak pendapatan tidak hanya berlaku bagi suami istri yang sah.

Menurutnya, globalisasi adalah sebuah proses untuk menjadi global. Sedangkan konsep global mengacu pada sebuah kondisi dimana terdapat interkoneksi yang terjadi secara intens dari berbagai macam karakteristik lokalis dimana kejadian di suatu wilayah berdampak pada kondisi di luar wilayah bersangkutan. Karena begitu banyaknya definisi tentang globalisasi, seperti dari Anthony Gidden (1990), yang menyebutkan bahwa proses globalisasi ditandai oleh intensifikasi hubungan antar wilayah, dimana peristiwa yang terjadi di luar sana akan mempengaruhi kondisi dalam negeri di suatu tempat. Ada yang mengaitkan globalisasi dengan konsep deteritorialisasi (Kearney, 1995). Ide ini mengacu pada pemahaman bahwa aktivitas produksi, konsumsi, ideologi, komunitas, politik, budaya dan identitas melepaskan diri dari ikatan lokal. Ada dua mekanisme dalam pandangan ini; pertama, melalui ekstensifikasi hegemoni suatu negara atau diaspora kelompok masyarakat tertentu melalui migrasi dan pengungsian seperti keberadaan negara superpower Amerika dan pengaruh imigran yang tinggal di Perancis. Kedua, melalui konsep hyperspace yang berarti runtuhnya tembok-tembok batas lokal dalam ruang imajiner atau virtual seperti hadirnya internet, handphone dan lainnya.

Globalisasi juga diterjemahkan sebagai suatu proses integrasi manusia yang melewati batas-batas negara dan bangsa (Pieterse, 2000). Globalisasi juga diindikasikan oleh time-space compression (Robinson, 2001). Hal ini juga pernah diungkapkan oleh McLuhan di tahun 60-an bahwa dunia mengarah pada suatu kondisi yang dinamakan global village sebagai akibat dari akselerasi interaksi manusia di seluruh dunia. Dalam bukunya globalisasi, bahwa proses ini mengacu pada seluruh proses sosial, ekonomi, budaya dan geografis yang terjadi pada banyak negara dimana proses tersebut telah memberikan banyak batasan bagi kebebasan pengembangan identitas dan institusi lokal dalam suatu daerah.

Dalam keterangan globalisasi di atas dapat dibaca dengan seksama, bahwa terjadinya globalisasi meski terkait dengan isu lokal dan global, bagaimanakah posisi identitas lokal?. Globalisasi ini peluang atau tantangan?. Secara lebih ekstrim, rahmat atau laknat?. Ada standar global dan ada standar lokal. Pada suatu negara, terjadi perlawanan antara tekanan global dan lokal atau regional. Terjadilah benturan kepentingan. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah dengan globalisasi apakah membuat manusia semakin menutup diri atau membuka diri. Bisa kedua-duanya, jawab Firmanzah.

Keberagaman adalah implikasi dari proses globalisasi itu sendiri. Sedangkan dampak dari globalisasi, menurut I Putu Gede Ary Suta, bisa positif bisa juga negatif. Positifnya seperti dirinya bisa bersekolah di beberapa universitas di luar negeri sampai tamat, itu karena globalisasi. Akses dan kesempatan untuk belajar di luarnegeri dengan beasiswa menurutnya adalah suatu implikatif dari proses globalisasi. Sedangkan negatifnya, dapat kita lihat pada media massa bagaimana negara-negara miskin yang menjadi budak para pengendali globalisasi itu. Sebagai salah satu pembicara Putu sampaikan sebuah pidato Bush yang singkatnya menerangkan bahwa Bush dengan tegas mengatakan pada setiap negara untuk memutuskan bersama US atau di luar US (yang berarti dianggap musuh oleh dia), kalau ikut bersama US mari ikut aturan yang sudah kita buat. Secara eksplisit menjelaskan suatu hegemoni suatu negara adidaya atas negara-negara yang tidak berdaya. Bagaimana kita bersikap dan beradaptasi dengan globalisasi? Secara lebih besar, bagaimana Indonesia mengambil sikap dalam hal ini? Lalu bagaimana pula dengan kedaulatan Republik Indonesia.

Connie Rahakundini Bakrie, pembicara lainnya mengaitkan globalisasi dengan isu pertahanan. Bahwa pertahanan menurut Juwono Sudarsono adalah isu anyone, anywhere dan anytime. Antara kedaulatan satu Negara dipengaruhi oleh Negara lain. Kalau dalam pengertiannya fisiknya yaitu batas territorial, tapi secara umum kaitan dengan globalisasi, mencakup aspek yang lebih luas lagi yang diistilahkannya dengan “euphoria globalisasi”. Ia mengutip pertanyaan seorang jenderal VOC J.P. Coen yang mengatakan bahwa perang dan dagang tidak dapat dipisahkan. Yang pada akhirnya ia menanyakan bagaimana Indonesia mengelola globalisasi ini? coba lihat sikap pemerintah dengan keberadaan perusahaan-perusahan asing MNC (multi national corporation) yang mengekploitasi kekayaan dan sumberdaya alam Indonesia. Bagaimana tidak malu, Singapura yang luasnya hanya selebar kabupaten Sidoarjo (yang sekarang mau dibenamkan oleh perusahaan lokal sendiri “Lapindo Brantas”) menjadi negara pengeskpor ikan terbesar di Asia Tenggara. Malaysia menjadi pengekspor kayu lapis terbesar. Darimana ikan mereka, pantai mereka tidak ada apa-apanya dengan pantai Indonesia. Dari mana kayu mereka, hutan mereka tidak seluas hutan Indonesia. Dua hari yang lalu saya membaca sebuah Koran yang memberitakan bahwa kita layak dikasih pemecah rekor dari Guinness Book dengan prestasi Negara paling cepat penghancur hutan di dunia. Banggakah kita? Jawab salah seorang menteri yang dituduh korupsi, sekarang syukur sudah direshuffel, wallahu a’lam bisshawab.

Saya kemudian berpikir, Indonesia yang terdiri dari 13.000 pulau lebih, lebih dari 500 suku dengan dialek bahasanya yang ragam, bagaimana pemerintah dapat mengendalikan semuanya. Dengan kencangnya proses globalisasi ini bukan tidak mungkin seorang Indonesia sulit untuk menunjukkan identitasnya sebagai seorang Indonesia akibat persinggungan dari berbagai macam budaya dan nilai asing. Bagaimanakah semestinya identitas seorang Indonesia itu? Apakah bhineka tunggal ika bisa dikatakan sebagai identitas Indonesia? Pertarungan antara lokal dan global, mana yang menang? Mari kita lihat secara politis, ekonomis dan sosial fenomena berdirinya Carefoour, Giant, Matahari, Alfamart, dan Indomart. Apa dampak dari perbuatan para kapitalis sebagai agen dari globalisasi?

Dalam penelitian kami juga sangat terlihat jelas bagaimana subkultur yaitu budaya anak remaja di sebuah kota pinggiran Jakarta, mengalami globalisasi. Depok yang tumbuh dengan pesatnya telah menjadi arena globalisasi. Dimana tumbuh mal-mal, pusat-pusat hiburan dan membanjirnya kaum urban yang tinggal di Depok. Di penghujung tahun 1998-an pusat belanja di Depok yang ada hanya Ramayana. Sekarang sudah banyak sekali, ada ITC Depok, Mal Depok, DTC, Detos, dan Margocity. Suatu kemajuan yang cepat. Para remaja SMP pegangannya Handphone 3G dengan fasilitasnya yang lengkap, pakaiannya meniru model yang ia lihat suatu majalah fashion, rambutnya ia tata kayak bintang pujaannya, dan aksesorisnya adalah referensi dari iklan tv yang ia tonton. Wow, biar gaya abis gitu loh, biar keren gitu loh, dan biar-biar seterusnya. Apakah ini yang menjadi identitas mereka sebagai seorang Indonesia. Apa bedanya mereka dengan remaja sebuah kota di Malaysia atau di Jepang?
Sekali lagi globalisasi peluang atau tantangan, rahmat atau laknat?

Depok, 11 Mei 2007

Antropologi Banget….!!!



Di antara tujuh hari dalam seminggu, hari Kamis adalah hari yang menurut saya menghebohkan. Sejak minggu ke-10 setelah kita penelitian di Mall, kita kembali ke dalam ruang kelas. Bila di lapangan kita berjihad mencari informan untuk dapat diwawancarai lalu kita catat peristiwa itu secara menulis laporan. Ini apa yang dinamakan dengan catatan lapangan atau dalam penelitian kualitatif dikenal dengan fieldnote. Fieldnote adalah suatu yang esensi dalam suatu penelitian kualitatif. Seorang antropolog bernama Sanjek sampai memberi judul bukunya yang berisi mengenai catatan lapangan penelitian dengan judul “Fieldnotes the Making of Anthropology”. Dari namanya saja sudah dapat dibaca bahwa kalau ingin mengadakan penelitian antropologi maka harus buat fieldnote (catatan lapangan).

Bagaimana seorang Geertz yang tinggal selama 6 tahun di Jawa, di Mojokuto dan juga di Tabanan Bali, telah membuat banyak buku antropologi dari catatan lapangan. Tak terbayang setiap hari ia harus menulis setiap peristiwa yang terjadi. Salah satu yang menarik adalah ketika ia ingin meneliti tentang sambung ayam di salah satu daerah di Bali. Ia agak sulit membangun rapor dengan penduduk. Diperkirakan mungkin ia adalah bule orang asing sama seperti penjajah belanda sebelumnya. Namun tak sengaja suatu hari lagi asyik-asyik menonton sabung ayam, para polisi menggrebek tempat itu. Kontan saja seluruh penyabung dan para penonton kucar kacir lari tunggang langgang. Geertz pun ikut lari. Ia mengikuti beberapa orang yang lalu kemudian masuk rumah sembunyi di bawah meja. Sejak saat itu, penduduk merasa ia juga adalah sama seperti mereka tidak orang lain. Buktinya ia juga ikut lari waktu polisi datang menggrebek. Setelah itu rapornya bagus di mata penduduk bahkan ia dikenalkan pada yang lainnya.

Begitulah bagaimana seorang antropolog ketika penelitian di daerah. Sesungguhnya masih banyak lagi cerita mengenai serba serbi para peneliti ketika melakukan penelitian. Ada Anna Tsing, Professor dari Universitas California Santa Cruz, yang melakukan penelitian di Kalimantan lalu dituangkan dalam bukunya Friction dan In the Realm of Diamond Queen. Daftar panjang para antropolog dari luar negeri yang melakukan penelitian di bumi tercinta tanah air Indonesia. Namun aku belum mendengar seorang antropolog Indonesia yang betul-betul terkenal karya penelitiannya di Indonesia. Beberapa antropolog domestik yang saya kenal lebih banyak disibukkan mengajar di kampus kalau tidak sibuk mengerjakan proyek di luar daerah.

Kegiatan penelitian antropologis
Hari kamis, kami mahasiswa antropologi baik s2 maupun yang program doktor, sama-sama sibuk. Masing-masing kelompok sibuk menyiapkan laporan progress penelitiannya dan mempresentasikan di depan kelas. Saya sekelompok dengan mbak Endang Rudiatin dan Yusran Darmawan. Dah dua minggu ini saya kalang kabut mengerjakan tugas. Puncaknya adalah kamis kemarin. Pagi aku harus presentasi untuk materi Antropologi Hukum, siangnya kita presentasi untuk penelitian kita. Pagi-pagi aku selesaikan bahan presentasi saya yang berbentuk powerpoint sebelum jam tujuh. Setengah jam kemudian saya sudah berangkat ke kampus untuk presentasi jam delapan.

Perasaan agak canggung juga ketika presentasi sebab selama ini saya cuma lihat orang presentasi. Apalagi sebagian bahan materi yang aku buat dalam bahasa inggris. Bagaimana pula saya harus menyampaikan layaknya sebagai seorang antropolog dan seorang ahli hukum. Materi yang aku sampaikan adalah mengenai legal empowerment, suatu gerakan pemberdayaan hukum untuk orang-orang miskin dan orang-orang di bawah intimidasi serta diskriminasi oleh pihak lain. Bagaimana hukum bekerja buat mereka tidak malah melawan mereka. Aku presentasi dari jam 08.10 dan berakhir pukul 09.15 menit, wah satu jam lebih aku presentasi. Sambutan tepuk tangan menyertai salam penutup saya, wah gembira rasanya. “kamu tadi presentasinya bagus, kayak ahli hukum saja, banyak istilah-istilah baru yang baru saya dengar” kata Yusran.

Alhamdulillah sudah selesai satu. Aku dan kelompok penelitianku menyiapkan materi yang akan kita presentasikan siang itu. Kebetulan bahan yang akan kita print banyak, akhirnya aku pergi ke tempat ust. Husnan, sebab di sana kemarin aku sudah isi ulang catridgenya. Kita mendapat giliran kedua setelah kelompoknya mas Reza. Hanya saja yang datang dari dosen pembimbing cuma bu suraya, pak iwan dan bu sulis menguji disertasi. Presentasi kita bisa dibilang cukup berhasil, banyak hal-hal menarik yang kita temukan di lapangan. Catatan lapangan kita termasuk yang paling rinci dan lengkap, tantangannya kemudian bagaimana kita dapat memanfaatkan data-data tersebut dengan baik menjadi suatu penelitian yang menarik. Penelitiannya kita beri judul “Representasi Identitas Serta Tafsir Remaja Atas Life Style di Mal: Studi Kasus Remaja Depok”. Yang seru adalah ketika kita diprotes atau kalau boleh dibilang diserang oleh kelompok sebelumnya mengenai cara Coding & Memoing. Mereka menganggap telah melakukan seperti apa yang telah kita lakukan minggu kemarin, tapi oleh pak iwan mereka disalahkan lalu mereka memperbaikinya lagi. Sekarang mereka juga dipermasalahkan. Yusran lalu menjawab kalau yang dipresentasikannya itu hasil dari temuan kita bersama dan sesuai dari fieldnotes. Aku juga angkat bicara, bahwa dalam penelitian seorang peneliti di lapangan diberi kebebasan untuk


Tugas mulia antropolog
Setelah setahun berjalan kuliah di Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia. Saya merasa banyak menemukan tantangan. Kelemahan demi kelemahan, kekurangan demi kekurangan mulai saya sadari. Yang artinya, semakin kita banyak tahu, semakin banyak pula hal-hal yang tidak kita ketahui. Apalagi masalah sosial dengan fenomena yang terus bergerak dan berubah. Masalah-masalah semakin kompleks dan rumit. Tidak cukup hanya melihat secara lahir dari peristiwa lalu menjustifikasi masalahnya seperti ini. Tapi bisa jadi masalah yang terjadi adalah implikasi dari masalah-masalah yang sudah berakumulasi lama.

Para pejabat pemerintah dan politisi yang bertugas mengurus ketidakberesan di negeri ini sepertinya tidak mampu membantu para rakyatnya mendapat kesejahteraan dan kemakmuran sebagaimana yang dicita-citakan semenjak kemerdekaan Indonesia. Sehingga jarang gerakan-gerakan empowerment dari rakyat yang dibuat oleh pemerintah. Rakyat dibiarkan bodoh, kelaparan, tidak berpendidikan sehingga mudah dikendalikan. Masalah kapasitas dan legitimasi rakyat kecil yang selalu dimarjinalkan. Sehingga program pengentasan kemiskinan dan usaha peningkatan ekonomi yang menurut ukuran pemerintah semakin baik, tapi tidak merubah nasib rakyat miskin sama sekali. Selain kemiskinan juga terjadi intimidasi dan diskriminasi yang membuat masalah semakin rumit. Fenomena-fenomena sosial semacam ini menjadi konsen kami. Semoga ke depan para antropolog mendapat tempat lebih luas untuk dapat berkontribusi dan ikut berpartisipasi dalam membangun bangsa ini.