Friday, December 14

Halal bi halal IKPM Kudus




Sebuah tradisi bagus di setiap lebaran adalah silaturrahim. Sebutan yang sering didengar adalah “halal bi halal”. Kenapa dinamai demikian, saya juga tidak begitu pasti tahu. Kemungkinan artinya saling memaafkan dan tidak lagi saling menyalahkan satu sama lain.

Bagi kawan-kawan alumni pondok Gontor yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Pondok Modern. Biasanya di setiap cabang diadakan acara halal bihalal. Tak terkecuali bagi IKPM Kudus. Tepat hari keenam lebaran acara halal bihalal diselenggarakan di tempat salah seorang pengusaha jenang yang juga alumni Gontor. Bapak Helmi pengusaha jenang al Mubarak menjadi tuan rumah.

Selain agenda kangen-kangenan dan maaf-maafan. Kesempatan tersebut juga dibuat untuk konsolidasi para alumni dalam menghadapi pemilihan bupati sebentar lagi. Kebetulan bapak Helmi saat itu mencalonkan diri. Namun beberapa hari yang lalu beliau mengundurkan diri dari pencalonan. Tinggallah sekarang putra dari ketua IKPM Kudus bapak As’ad yang menjadi calon bupati bersaing dengan calon-calon yang lainnya.

Namun demikian, tidak mengurangi kehidmatan dari acara silaturrahim yang berlangsung saat itu. Kurang lebih 150 orang lebih hadir dalam acara. Dari mulai alumni 1950-an sampai alumni yang terbaru 2007, semua berkumpul dalam aula pabrik milik jenang al Mubarak. Acara yang dimulai pukul 10.00 berakhir pada pukul 14.00 siang.

Selesai acara, saya sempat mengobrol dengan bapak Helmi. Beliau yang satu periode dengan almarhum ust. Ali Sarkowi low profile sekali. Tidak terkesan jaga jarak dan jaga wibawa sebagai seorang pengusaha sukses. Beliau cerita mengenai mundur dirinya dari pencalonan bupati. Ternyata keinginannya untuk membesarkan perusahaan lebih berat daripada bertarung di dunia politik di Kudus. Maslahah lebih besar mundur daripada maju, demikian ungkapnya. So bravo mr. Helmi, bravo buat jenang Al Mubaroknya.

Wednesday, November 28

Pesona Prigi Trenggalek




Beginilah suasana tempat pelelangan ikan di pantai Prigi Trenggalek. Sejak dinihari para nelayan kembali ke darat untuk menurunkan hasil tangkapan ikannya. Ada yang perahu besar dan perahu kecil. Bedanya yang perahu besar mereka dilengkapi dengan mesin dan alat tangkapan yang lebih canggih. Perahunya pun berani lebih jauh ke tengah laut daripada perahu kecil. Jadi, tangkapannya biasanya lebih variatif dan besar-besar dibandingkan perahu kecil.

Sedangkan perahu kecil, umumnya, milik nelayan biasa yang hanya dilengkapi jala dan peralatan seadanya. Tangkapan mereka hanya ikan-ikan yang musim di waktu itu. Ikan-ikannya kurang variatif. Meskipun demikian, dengan menjadi nelayan penangkap ikan telah dapat menghidupi mereka. Walau tidak semewah yang dibayangkan.

Sesungguhnya potensi laut di Indonesia besar sekali. Ironisnya, sumberdaya alam yang hebat tidak didukung oleh sumberdaya manusia. Akibatnya, sumberdaya alam kita, khususnya sumberdaya di laut, banyak dirampok oleh Negara-negara tetangga yang jauh lebih maju peralatan teknologi dan manusianya.

Bayangkan, betapa mustahilnya Singapura Negara yang luasnya hanya sejempol kaki Indonesia menjadi pengekspor ikan terbesar di Asia Tenggara. Bagaimana mungkin. Tapi kemustahilan tersebut dijawab dengan sumberdaya manusia dan peralatan teknologi yang canggih. Jadi, dengan knowledge semua serba mungkin.

Pagi itu saya menemani menantunya ust. Syukri Gus Adib dan Ust. Husni kamil ke pantai Prigi untuk beli ikan. Katanya, untuk persiapan lebaran nanti. Ketika datang di sana ternyata musim ikan saat adalah ikan layur yang panjang-panjang. Untuk mencari ikan yang besar-besar susah sekali. Jadi kita tunggu agak siangan sedikit untuk menunggu kapal yang lebih besar datang. Akhirnya, dapat juga beberapa ikan yang besar dengan harga beberapa kali lipat dari biasanya. Alasanya, susah nangkapnya. Demikianlah suasana pagi itu, pesona di tempat pelelangan ikan di Prigi Trenggalek. Semoga pemerintah lebih dapat meningkatkan pemberdayaan di setiap TPI-TPI lainnya.



Buka Bersama di Mushola Kampung




“Siapa yang memberi buka seorang soim, maka pahala bagi dia seperti pahala puasa yang soim kerjakan, tanpa dikurangi sedikitpun” (Hadits).

Alhamdulillah hari Sabtu sore, seminggu sebelum lebaran, bapak memberi buka puasa untuk para soimin di kampung. Sebelumnya, hari Jum’at, bapak membeli kambing ke desa sebelah, sekalian minta dipotongin dan dicacah-cacah. Besok pagi minta diantar langsung ke rumah. Untuk urusan masak memasak “mbak Utik” sudah dihubungi ibu untuk belanja bumbu-bumbu dan pernak pernik lainnya termasuk kue dan buah untuk ta’jil serta cuci mulut. Sedangkan ibu pagi itu berangkat dulu ke kantor, bapak juga demikian. Siang baru pulang.

Sejak pagi saya sibuk membersihkan rumah. Rumah yang hanya ditinggali oleh Bapak dan Ibu kelihatan kotor sekali. Berdebu tebal dan lantai sering tidak bersih. Maklum rumah kayu dan tidak ada pembantu. Gerakan bersih-bersih sudah saya mulai sejak pagi, sekitar pukul 07.00 kira. Pertama yang saya bersihkan adalah tempat ruang tamu di bagian depan. Semua jendela saya bersihkan. Atap-atap langit saya sapu pakai sapu panjang. Jendela depan pun tidak luput dari serangan saya. Ya Allah banyak sekali debunya, mana panas dan puasa lagi.

Semua kursi dan meja di ruang tamu saya keluarkan semuanya. Sebab kalau hanya di‘sulaki’ saja debunya akan kembali lagi, lebih baik saya cuci sekalian saja. Terakhir saya pel lantai. Beruntung mbak utik juga bantu. Jadi sambil masak juga masih bisa ngepel. Kalau tidak saya sudah harus batalin puasa. Soalnya lemes banget n udah lagi panas-panasnya. Tak terasa udah pukul 12.00 lalu saya lanjut ngepelnya sampai selesai. Saat pulang dari kantor Ibu melarang saya untuk menyudahi ngepel sebab nanti kalau lemes kan lagi puasa. Tanggung bu sebentar lagi, jawabku.

Betul, setelah selesai badan terasa lemas sekali. Bawaannya pingin minum saja, tapi mengingat sore itu mau memberi buka puasa, rasanya tidak tega. Sedangkan bapak saat itu yang ikut-ikutan bantu sudah klenger tidur. Yang saya heran mbak utik tidak kelihatan lemas, ternyata dia batalin puasa, heee….ehh ketahuan loh. Saya sendiri habis itu mengantar motor untuk diservis sebab besok mau berangkat ke Mantingan lalu ke Gontor naik sepeda motor. Setelah mandi saya langsung menggenjot ke rumah lek Fai di samping rumah mbak tyas. Saya minta motor diservis tapi tidak ganti oli sementara dikerjain saya istirahat di tempat mbk tyas. Wah…..semakin loyo saja badan ini. Akhirnya jadi juga batalin puasa. Betul-betul memang sudah tidak kuat.

Sorenya jam 16.00 saya telpon lek Mitro untuk ikut buka di rumah. Sedangkan bulik mitro sudah sejak tadi siang membantu memasak. Setengah lima sudah saya angkutin semua peralatan, dan makan-makanannya ke mushola. Nampak menjelang pukul 17.00 para jemaah mulai berdatangan. Saya belum bolak-balik rumah musola untuk antar-antar. Waktu itu masih belum salat ashar dan mandi. Sedangkan bapak sudah standby di musola.


Suatu kebiasaan yang baik di kampung saya saat ini dibanding kampung sebelah dulu tinggal di sana, orang-orangnya pandai menghargai dan tidak suka menilai-nilai orang atau membicarakan orang. Entah ya, soalnya saya jarang di rumah, tapi itu menurut pendapat saya. Pernah suatu kali, tahun lalu kalau tidak salah, diadakan juga buka bersama di kampung sebelah yang datang cuma beberapa saja. Padahal undangan juga telah disebar. Bukan hanya itu saja. Jika ada kegiatan di musola yang datang hanya orang-orang tua. Setiap harinya ibadah berjama’ah hanya salat magrib, isya’ dan subuh.

Yang penting semua berjalan dengan baik, sosialnya juga dapat hidup berdampingan dengan baik. Semoga tahun depan kita dapat kembali hadir pada bulan mulia Ramadhan dan lebih dapat rizki lagi untuk mengadakan buka puasa bersama.

“Allahumma laka sumtu wabika amantu wa ‘ala rizkika aftortu ya arhama Rohimin”. Posted 27 nov. 2007

Buka Bersama dan Silaturrahim IKPM Semarang




Sudah lama tidak tahu bagaimana perkembangan keluarga Gontor di Semarang. Ikatan Keluarga Pondok Modern Cabang Semarang setahu saya dulu dipimpin oleh Bapak Uzair Cholil, apa sudah diganti atau belum, saya sendiri belum tahu. Menurut kabar, ketika Silatnas yang diadakan di Semarang ada pergantian pengurus IKPM, penggantinya, katanya Ust. Nurimawan. Beliau ini dulu pernah nyantri di Gontor tapi sambil mengajar ilmu-ilmu eksak seperti matematika, fisika, dan kimia. Jadi selain guru dia juga santri saat itu yang ingin belajar bahasa Arab dan ilmu-ilmu agama. Kemudian diambil menantu oleh kiai Pondok Walisongo Ngabar Ponorogo. Wah beruntung sekali ya.

Saat liburan menjelang lebaran, aku dapat sms dari Imam Aly untuk hadir buka bersama IKPM Semarang di daerah Krapyak. Kali ini yang menjadi tuan rumah adalah seorang alumni tua yang sekarang telah jadi guru besar di IAIN Walisongo Semarang. Rumahnya pun berada di kompleks dosen IAIN di daerah Krapyak. Wah lumayan juga berada di daerah atas, saya dapat melihat pemandangan kota Semarang dan laut yang menghampar luas hanya dari muka rumahnya.

Dalam pertemuan tersebut saya dan kami, yang mayoritas adalah generasi mudanya meski jaraknya ada beberapa tahun di atas dan di bawah saya, mendapat wejangan dan nasehat dari sesepuh kami. Nama tuan rumahnya sendiri saya lupa, sebab baru ketemu sekali. Alumni yang mengajar di IAIN yang saya ingat hanya pamannya Masbukhin, kabarnya dia mau dia sudah doktor dan mau promosi jadi promovendus, saya denger kayak gitu. Dulu saya sempat diuji untuk beasiswa ke Mesir sama beliau bareng masbukhin dalam satu ruangan, ketika pengumuman saya tidak lolos.

Banyak wajah dari para alumni yang baru saya lihat. Saya kaget saat ketemu Alwi Ihsan di sana. Dia kebetulan senior saya di gedung Madrasah, dia adalah staf ADM Gontor sedangkan saya jadi sekretaris pimpinan saat itu. Setahu saya dia adalah konsulat bojonegoro. Ternyata istrinya adalah pegawai bank Muamalat di Semarang. Jadi ya, ia ikut menemani istrinya. Saya disuruh mampir ke rumahnya. Letaknya di jalan Pandanaran.

Saat makan buka dia cerita bagaimana kronologi berjodoh istrinya. Cerita berawal saat bu Syukri meminta tolong Alwi untuk mengantar putrinya Pipit bersama kawan-kawannya dari Mantingan untuk ikut ujian seleksi beasiswa Mesir. Di situlah pucuk di awal ulam tiba. Ada salah satu kawannya pipit yang suka, tapi menurut pipiet yang ngenalin kawannya itu adalah adiknya Alwi sendiri Ghozi yang saat itu juga bareng ikut ujian seleksi di Surabaya. Namanya juga jodoh, adiknya yang suka, namun kakaknya yang dapat, heee…heee…


Pada acara tersebut saya juga ketemu alumni yang jauh di atas saya namanya Anis. Saya cukup gembira bisa kenal dia sebab ternyata dia adalah tetangga desa sendiri. Bagi saya cukup kesulitan untuk tahu siapa saja alumni senior yang dekat rumah. Ternyata dari keterangannya banyak yang datang dari sekitar Jeketro. Rumahnya Anis di Mlilir tepat di depan Masjid. Punya usaha sewa tenda dan sound system untuk acara-acara nikah ataupun yang lainnya. Setelah buka puasa, kami terus berpamitan untuk pulang kepada tuan rumah.

Luar biasa dapat berkumpul dan bersilaturrahim dengan ikhwan dan senior dari Gontor yang tinggal di Semarang. Satu yang belum terwujud dari cita-cita senior adalah ada suatu pondok alumni di daerah Semarang yang bisa dijadikan support untuk lebih menggairahkan lagi semua kegiatan dan jaringan IKPM yang ada di Semarang. Bravo IKPM Semarang. Semoga berhasil. Posted 27 Nov. 2007

Suasana Terminal Kampung Melayu


Inilah suasana terminal Kampung Melayu. Di sini lalu lintas dari pagi hingga malam ramai terus. Seperti halnya terminal besar lainnya di Jakarta, Kampung Rambutan, Blok M dan Pulogadung, terminal ini cukup strategis untuk akses ke semua jurusan di semua wilayah Jakarta dan sekitarnya seperti Bekasi, Depok, Bogor dan Cibubur. Beberapa akses yang menuju pusat kota juga banyak yang berangkat dari sini.

Terminal yang cukup tinggi frekuensi kendaraannya ini senantiasa dijaga dan didisplinkan oleh polisi. Kalau tidak kemacetan bisa jadi kemana-mana, karena angkot suka berhenti dimana saja asal dapat penumpang. Karena letaknya di tengah-tengah ketemunya arus yang datang dari Senen, Menteng kota, Pasar Minggu dan Jatinegara. Belum lagi yang turun dari jalan Casablanca yang datang dari arah Bekasi dan Pondok Gede. Memang harus sabar-sabar menemui kemacetan di Jakarta. Sebab kalau tidak macet tidak afdol….hee…heee…biar pertamina dan penjual bahan bakar dari perusahaan asing di Indonesia pada laku.

Friday, October 19

TKI DAN HARGA DIRI BANGSA



Selasa malam 16/10/2007, saya potong rambut di sebuah kota kecamatan. Kebetulan barber-nya adalah pendatang madura. Saya tahu dari logat dan gaya bicaranya saat ditanya oleh salah satu temannya. Iseng saya ajak ngobrol sambil ia melaksanakan tugasnya. Mulai dari kehidupan keluarganya yang belum dikaruniai buah hati sampai pada petualangannya mencari nafkah. Di antara pengalaman menarik yang ia sampaikan adalah ketika ia berada di Saudi selama dua tahun setengah.

Indonesia merupakan salah satu Negara pengekspor tenaga kerja terbesar di dunia. Seperti halnya di Negara berkembang lainnya, ekspor tenaga kerja menjadi andalan devisa dan komoditas penting bagi Negara tersebut. Namun keuntungan ini harus dibarengi dengan mekanisme dan prosedur yang proporsional. Sehingga para tenaga kerja yang betul-betul menyandarkan ekonomi keluarga mereka pada pekerjaan di luar negeri tidak menjadi sapi perahan saja. Dari perekrutan, pembekalan, pengarahan sampai pada pemberangkatan dan penempatan, rentetan ini harus sehat. Sehat dalam arti semua urusan dapat diselesaikan dengan mudah dan tidak berbelit. Oknum-oknum yang melanggar harus ditindak tegas. Jaminan keamanan dan keselamatan bagi para TKI juga harus jelas.

Akhir-akhir ini banyak sekali berita mengenai TKI yang teraniaya di luar negeri, di Malaysia, Singapura, dan Saudi Arabia, baik karena didzalimi oleh majikannya maupun disebabkan oleh kecelakaan kerja. Seluruh aparat yang terkait dengan pengurusan TKI harus bahu membahu membenahi urusan ini. Kurang lebih kejadian demi kejadian semakin memberi plek hitam pada wajah Indonesia. Sebagaimana diungkapkan si Bejo (barber:nama samaran), akunya saat ia berada di Saudi untuk membantu saudara-saudaranya yang tinggal di sana, ternyata banyak wanita Indonesia yang bekerja dengan cara menjual diri. “ini sudah menjadi rahasia umum” demikian katanya. Mereka datang secara illegal. Ditampung oleh para germo yang juga adalah orang-orang Indonesia sendiri. Para germo inilah mendistribusikan kepada para penduduk setempat yang sudah menjadi langganannya.

Fenomena sebagai “juragan silit”, istilah yang ia pakai, memang tertutup. Bahkan saat ia pulang ke Indonesia pun, imejnya betul-betul dijaga dan dimanipulasi sedemikian rupa dengan cerita dan bualan bahwa ia disana bekerja sambil beribadah. Sudah haji ratusan kali karena jaraknya yang dekat dengan Masjidil Haram. Orang-orang tidak menyangka kalau pekerjaannya adalah pekerjaan yang nista di tempat suci bagi orang Islam.

Selama bekerja dua tahun setengah ikut saudaranya di Saudi, meskipun belum satupun korban atau pelaku yang berbicara langsung sama dia tapi dia banyak mendengar dari kanan kirinya. Karena fenomena tersebut sudah menjadi rahasia umum. Bagi yang masih takut dengan agama, bahwa kalau berbuat baik di tanah suci pahalanya akan dilipatgandakan begitupun sebaliknya jika berbuat jahat dosanya juga akan berlipatganda, ia akan membawa pelacur tersebut keluar tanah suci. Jika sudah tidak mengindahkan lagi norma agama ia akan melaksanakan perbuatan tercelanya di tempat itu juga.


Tidak ada pilihan
Profesi sebagai pelacur dan bekerja sebagai TKI illegal sengaja mereka lakukan demi mencari nafkah. Desakan kebutuhan ekonomi keluarga di kampung halaman yang membuat mereka memilih jalan pintas sebagai pelacur. Dengan profesi tersebut mereka merasa lebih beruntung daripada para TKI legal yang gajinya sebulan bisa mereka raih hanya dengan sistem kebut semalam (SKS). Jika seorang pembantu pendapatan sebulan 60 riyal misalkan, dia hanya butuh semalam untuk menghasilkan jumlah tersebut dengan segala risiko yang ada.

Kupu-kupu malam adalah istilah yang pernah digunakan untuk menyebut para pekerja seks komersial (PSK) yang beroperasi di malam hari sampai pagi. Di Indonesia sendiri, khususnya di Ibukota Jakarta, ada beberapa daerah dimana terkonsentrasi kegiatan mesum seperti di jalan Mentawai Kebayoran Baru, sepanjang jalan Hayam Wuruk, Prumpung Jatinegara dan di beberapa daerah lainnya. Namun saat ini sering ada operasi penangkapan oleh satpol PP mereka mulai mengkonsentrasikan diri keluar Jakarta. Salah satu yang paling ramai dikunjungi oleh para pencari kenikmatan adalah di Parung. Di sana banyak warung remang-remang yang sengaja menyediakan jasa mesum.

Fenomena menjamurnya kegiatan mesum ini disebabkan oleh banyak faktor. Jika para pekerja seks disensus mereka datang dari berlainan daerah. Faktor ekonomi adalah yang banyak melatarbelakangi profesi mereka. Selain itu rumah tangga yang hancur (broken home), putus asa, susah cari pekerjaan dan sebagainya. Profesi penjaja seks sendiri bagi mereka karena tidak ada pilihan lagi. Keadaan ekonomi keluarga yang minim, susah cari kerja, pemasukan tidak ada, suplai kebutuhan tidak ada, pemerintahpun tidak urung turun tangan memberi solusi, lalu mereka berpikir satu-satunya pekerjaan yang mudah dilakukan dan cepat mendatangkan uang adalah “melacurkan diri”.

Harga diri bangsa
Ketika urusan bisnis mesum sudah mengglobal, urusannya tidak lagi bersifat individu, atau lokal daerah saja, tapi sudah menjadi urusan bangsa dan Negara. “Human trafficking” telah menjadi perhatian dari sejumlah Negara untuk menindak kejahatan internasional yang tidak manusiawi. Masak manusia diperdagangkan? Betapa teganya. Suatu perbuatan kriminal yang segera harus dibasmi.

Indonesia adalah Negara yang mayoritas muslim dan memegang adat ketimuran yang kuat. Sangat naïf bila apa yang terjadi malah banyak menyalahi etika ketimuran. Dimana lagi jati diri dan harga diri bangsa ini. Harga diri bangsa apa sudah tergadaikan? Bagaimana supaya mengembalikan “marwah” bangsa ini. Bila dikenal sebagai Negara pengekspor minyak terbesar, Indonesia boleh bangga. Tapi jika dikenal sebagai pengekspor “pekerja seks” apa bisa dibanggakan? Apakah hasil pendapatan Negara dari bisnis maksiat ini membawa berkah? Naudzubillah tsumma naudzubillah. Malaysia saja, Negara tetangga kita, dapat meremehkan kita disebabkan urusan TKI. Namun banyak yang menyayangkan bobroknya birokrasi bangsa ini yang sudah penuh dengan praktik KKN. Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk memperbaiki segala kerusakan dan degradasi moralitas penduduk yang seperti “Negeri di Awan” ini.

Berikut adalah ungkapan salah satu orang Indonesia yang sudah lama tinggal di Malaysia mengenai masalah TKI atau TKW.

Berbicara masalah TKW memang menyedihkan. Problema TKW ini seakan-akan merupakan pil pahit atau racun penjatuh martabat yang harus ditelan oleh seluruh bangsa Indonesia . Kepada siapa kita harus mengeluh dan bagaimana harus memperbaikinya?. Di Indonesia sendiri seperti benang ruwet yang sukar dicari ujung pangkalnya. Berbelit-belit dan mbulet-mbulet, bersimpul-simpul ke sana kemari. Innii asykuu basttsii wa huznii ilallah.

Bukan hanya di Malaysia saja tetapi juga berlaku di Saudi, Singapura, Brunei, kadang-kadang saya tidak sanggup mendengar kabar apabila perempuan-perempuan kita berkeliaran ke sana kemari dibawa orang, sambil ngobyek. Ada yang disiksa, ada yang hamil entah sengaja menyerahkan diri atau diperkosa. Siapa yang harus dipersalahkan?. Kita-lah yang sengaja menghantarkan gadis-gadis kita (kadang masih di bawah umur yang dituakan) ke luar negeri, jauh dari tanah air. Makhluk-makhluk yang lemah ini diserahkan kepada orang-orang yang tidak kita kenali dan di tempat yang tak terjangkau oleh keluarganya. Memanglah tidak dinafikan tidak sedikit dari mereka yang bernasib baik mempunyai majikan yang baik dan berperikemanusiaan. Terus terang saja, dhamir (hati kecil) sayapun keberatan mengirimkan wanita-wanita kita ke luar negara. Marilah kita pecahkan bersama masalah yang rumit ini, tanpa harus menyerahkan kesalahan kepada siapa-siapa. Apakah ada jalan lain yang lebih baik lagi untuk menambah devisa Negara selain mengekspor wanita-wanita kita?.

Yang lebih parah lagi adalah suami-suami mereka malah ada yang minta dikirimi uang, handphone dan minta dibelikan motor. Ini dunia sudah terbalik. Dan berita yang menyakitkan adalah suaminya mau kawin lagi dan mempunyai perempuan simpanan. Ini bagaimana?. Ya Allah, berilah hidayah kepada kami semua agar para suami benar-benar melaksanakan tanggungjawabnya sebagai suami. Bukankah seorang suami wajib bertanggungjawab memberi nafkah lahir batin kepada isteri dan anak-anaknya. Bukan sebaliknya.

Entahlah sampai kapankah bangsa kita ini bisa terlepas dari satu cobaan demi cobaan? . Satu hal yang saya percayai adalah selama kita tidak kembali kepada ajaran-ajaran yang diridhai oleh Allah, maka ujian demi ujian ini tidak akan berakhir. Hanya Allahlah yang bisa menyelesaikan segala masalah yang rumit ini. Jika Allah menghendaki, Kun Fa Yakun. Allah tidak akan merubah nasib suatu bangsa selama bangsa itu tidak berusaha merubah nasibnya sendiri.

Apakah mengirimkan tenaga wanita kita ke luar Negara ini tidak salah di sisi agama?. Jika dikatakan tidak salah, tentunya ada syarat-syarat yang ketat agar wanita-wanita kita tetap terlindungi marwahnya dan tidak memalukan bangsa Indonesia yang besar dan memiliki kekayaan yang luar biasa ini. Bisakah kita bangkit maju tanpa harus mengexport makhluk yang lemah ini?. Semoga saja ya. Ya Robb, makmurkanlah bangsa ini di bawah ridha-Mu dan petunjuk-Mu. Amin.

Thursday, September 6

Jalan jalan ke rangkasbitung


Catatan perjalan ke Rangkasbitung Lebak Banten
31 Agustus

Lebak adalah salah satu kabupaten di Provinsi Banten dengan tingkat
pendidikan paling rendah dibanding kabupaten lainnya.
Menurut data 2006 dari seorang praktisi pendidikan, hanya 3 %
orang dari usia belajar tingkat atas yang berkesempatan mendapat
pendidikan formal, baik di SMU maupun di Madrasah Aliyah atau
pesantren yang setara. Masalah ekonomi menjadi alasan utama.
Selain itu masalah pemerataan pendidikan juga belum sepenuhnya
berjalan dengan baik.

Beberapa pesantren tradisional yang sudah puluhan tahun
berdiri menjadi alternatif pendidikan. Di samping biaya murah, mereka
juga tidak punya target terlalu muluk dalam bidang akademisnya.
Munculnya pesantren modern pada awal tahun 1990-an memberi
warna dan nuansa tersendiri buat pendidikan berbasis agama ini.
Namun toh keberadaan pesantren modern tidak lantas menjadi solusi
dari ketimpangan sosial yang terjadi pada dunia pendidikan. Selain untuk
menjawab beberapa tuntutan skill dan kemampuan akademis untuk
kepentingan pragmatis yaitu bekerja atau sebagai syarat untuk
melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Fenomena antara pesantren salaf dan modern di Banten mampu
berintegrasi dengan munculnya sebuah forum bersama para kiai,
pimpinan pondok pesantren. Forum tersebut dinamakan FSPP,
singkatan dari Forum Silaturrahim Pondok Pesantren.

Ide tersebut berawal dari jalinan silaturrahim antara para
pimpinan pesantren modern yang notabene semuanya adalah
alumni Gontor. Ketika itu berjumlah 12 orang. Selain untuk
mempererat tali silaturrahim, dalam kesempatan tersebut juga
mendiskusikan hal-hal yang krusial mengenai berbagai masalah
terkait dengan lembaga pesantren modern yang mereka kelola.


Keakraban dan saling bantu membantu inilah yang membuat iri
para kiai pesantren salaf untuk ikut bergabung juga. Setelah
melihat fenomena lembaga pesantren modern yang dari tahun
ke tahun dapat maju pesat. Kalau tidak salah, menurut persepsi
mereka, dengan ikut bergabungnya bersama forum tersebut
pesantren mereka dapat bantuan baik dari kalangan pemerintah
maupun dari para dermawan. Nampaknya dalam hal ini mereka
belum begitu pengalaman alias kurang percaya diri. Bagaimana
membangun network, menjalin komunikasi dan hubungan dengan
pihak-pihak di luar, tidak menjadi prioritas di pesantren
salaf. Mereka lebih memprioritaskan santrinya, ngaji kitab, setoran
hafalan dan rutinitas lainnya.

Saat ini, kurang lebih 3000 pesantren di Provinsi Banten yang
tergabung di FSPP. Sebelumnya diberi nama FKPM, kepanjangan
dari Forum Komunikasi Pesantren Modern. Untuk menghilangkan
sentimen identitas antara "modern" dan "salaf" maka diubahlah
menjadi Forum Silaturrahim Pondok Pesantren.

Selain berfungsi sebagai ajang silaturrahim, anggota forum yang
terdiri dari pimpinan pesantren yang cukup berpengaruh di
masyarakatnya bergelar "kiai", mereka juga berfungsi dan
dapat difungsikan sebagai sarana konsolidasi dan komunikasi
antar umat Muslim dengan berbagai latarbelakang yang ada.
Pemerintah mendukung penuh keberadaan forum ini. Bahkan Pemerintah
Daerah memberi suplai dana disiapkan dari anggaran daerah,
untuk kepentingan forum ini dan menyedia-
kan kantor khusus untuk kegiatan kesekretariatan.


Peran dan fungsi forum ini sebagai ajang silaturrahim antara kiai
pondok pesantren, kurang lebih memberi kontribusi nyata bagi
ketenangan rakyat di Banten yang bagi mereka Kiai adalah
orang yang patut dihormati dan didengar di samping "jawara".
Bahkan ada juga kiai yang sekaligus juga jawara. Istilah jawara
dikenal baik oleh masyarakat sebagai seorang yang memiliki
kemampuan dalam olahkanuragan dan adu fisik.
Mereka punya kekuatan dan kemampuan lebih.


Para kiai pimpinan pesantren yang tergabung di dalamnya juga
berperan besar dalam masalah legislasi di daerah. Mereka
bergabung dengan unsur masyarakat lain dari tokoh masyarakat,
LSM, para akademisi, budayawan untuk menggodok suatu
undang-undang atau mengusulkannya. Meskipun hasil rumusan
dari undang-undang melewati proses panjang dan baru disahkan
tiga tahun kemudian. Itu tidak membuat semangat kendur justru
lebih untuk menggali lebih dalam lagi.

Menurut salah satu sumber, ada pengkategorian kiai yang
dilihat dari aspek sepak terjangnya. Mereka dikategorikan
menjadi 5 macam; ada Kiai Catur, Kiai Tandur, Kiai Tutur, Kiai
Bakul dan Kiai Ngawur. Pengertian Kiai Catur dipandang sebagai
seorang kiai dengan kapasitas penuh untuk mengatur luar dalam
pesantren. Mempunyai kemampuan dalam menerapkan strategi
dan siasat ke depan. Sedangkan Kiai Tandur bercirikhas sebagai
sesosok kiai yang hanya mengurusi santrinya dan berdiam diri
pesantren saja. Kerjanya hanya "nandur" santri. Kiai Tutur selain
memimpin pesantrennya, ia juga berdakwah di masyarakat dan
di birokrasi. Seorang kiai yang mempunyai kelebihan dalam
bidang enterpreneurship disebut dengan Kiai Bakul, selain
memimpin pesantren mereka juga punya usaha. Sedangkan yang
terakhir adalah "Kiai Ngawur" yang tidak diharapkan ada, karena
bisa menyesatkan umat.