Sunday, February 3

Penyakit Itu Bernama Kekosongan


Penyakit Itu Bernama Kekosongan
(Sumber ma’siat, bencana, malapetaka, kerusakan)


Dewasa ini semakin banyak orang yang melakukan hal yang sia-sia dan banyak kekosongan yang dilakukannya. Ada yang berusaha memperbaiki kerusakan, ada pula yang buru-buru mengisi kekosongan dengan kekosongan baru, ibarat membersihkan kotoran dengan sapu kotor. “Semakin rumit teka teki dijawab”, kata orang bijak.


Penyakit kekosongan itu diantaranya; berasaan kemanusiaan, Ajaran agama, Kegiatan positif, Kemasyarakatan. Bagaimana bisa demikian, lalu.... (bagaimana selanjutnya), Why…? Then…?

Apalagi bila millieu dan nasib membantu kekosongan waktu dan pengangguran kerja, maka yang paling duluan dipengaruhi menjadi objek dan korban adalah anak-anak muda. Musuh kemanusiaan sibuk merusak, mengaku membangun. Merusak orang lain membangun diri sendiri. Menyusahkan orang lain mengenakkan diri sendiri. Menyalahkan orang lain membenarkan diri sendiri. Menyelakakan atau menyengsarakan orang, ia menyelamatkan diri sendiri. Orang rusak dan perusak dunia tetap akan bergerak, beraksi dengan motif, semboyan “Bagaimana caranya agar aku, keluargaku, golonganku, aku – aku yang lainnya enak meskipun pihak lain sengsara”. Karena kekosongan.

Maka ingatlah "Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, saling nasehat menasehati dalam hal kebenaran dan nasehat menasehat dalam hal kesabaran" (Surah al 'Ashr). Bagaimana bila menyikapinya dengan putus asa, alih profesi (hijroh) atau menonaktifkan potensinya? Putus asa/hijrah profesi positif adalah hak setiap orang, sedangkan putus asa lari dari tanggung jawab apalagi membunuh masa depan dengan kekosongan atau bunuh diri adalah kekerdilan dan sikap protes terhadap takdir. Ingkar kekuasaan, kekuatan Sang Pencipta Allah SWT. Tidak menghasilkan apa-apa dan tidak menguntungkan siapa-siapa, dan Allah mengkategorikannya sebagai Kafir.

Rusak dan kerusaan akibat penyakit bernama "Kekosongan" diantaranya; Kekosongan perasaan kemanusiaan, mengakibatkan timbulnya banyak tindak kejahatan; Kekosongan ajaran agama, akhirnya membuat agama–agama baru yang tidak ada landasan syariat tapi berlandaskan nafsu dan kepentingan pribadi dan golongan; Kekosongan kegiatan positifmenarik, diganti dengan kegiatan yang merusak, maksiat, dan tidak bermanfaat; Kekosongan jiwa kemasyarakatan, menjadi kurangnya 'kepedulian terhadap sesama dan lingkungan, rusaknya pergaulan dan ekosistem lingkungan; Kekosongan harapan,cita-cita yang bermotif, mudah dimasuki anasir-anasir distruktif.
Bila ada trik-trik pada sebuah usaha membentuk organisasi dan apa saja, janganlah dijadikan arena/kesempatan saling salah menyalahkan situasi akibat kekosongan “massal”, tetapi pelajarilah prestasi, motivasi, tujuan, dan semberdaya manusianya terlebih dahulu.

Sebab-sebab terjadinya/timbulnya organisasi pergerakan dan sebagainya itu relatif dan sekupnya beragam. Diantaranya;

1. Kekosongan beberapa unsur dalam masyarakat dan menimbulkan kepincangan-kepincangan. 2. Kebodohan akan hak-hak yang terambil oleh pihak lain.
3. Kepicikan dan kelemahan da'i.
4. Ketergesa-gesaan, keterburu-buruan.
5. Memburu keduniaan.

Syi’ar Islam tanpa tegaknya syari’at hanya kekosongan dan keropos (ajwaf, jaufa' dlm bhs Arab). Syari’at tanpa syi’ar terasa kering dan kaku (Jaaf). Kekosongan dalam kehidupan Islami harus diisi!. Kalau tidak syetan-syetan yang akan mengisi, dan manusia menjadi budak-budaknya. Na’udzubillaah!

Anak-anak kita sekarang terbagi menjadi dua, pertama; disibukkan oleh sesuatu yang seharusnya tidak menyibukkan, tertarik asyik dengan hal-hal maksiat atau kegiatan yang tidak perlu disibukkan atau diasyikkan. Yang kedua; tidak pandai, tidak cakap dan tidak benar dalam mengisi kekosongan.
Pandai-pandailah menghemat waktu, uang tenaga/kesehatan untuk hal-hal yang berguna. Jangan memanjakan kekosongan.

Gontor. Kamis, 31 Januari 2008

No comments: