Tuesday, June 5

Ujian akhir dan Kegelisahan masa depan


Lega rasanya, sudah dapat ngumpulin beberapa tugas. Dua materi lagi sisa ujian akhir semester yang aku tempuh. Namun terasa lega sekali empat materi sudah lolos, maksudnya tinggal tunggu nilai. Materi analisa folklore dan kebudayaan Indonesia pertama sudah ujian, aku berharap dapat A di sini. Prof. James Danandjaja seorang antropolog folklor yang baik sekali. Ia sangat menguasai folklor di Indonesia, baru-baru malah mau menerbitkan folklor Tionghoa. Semester kemarin aku ikut kuliahnya tentang Antropologi Psikologi. Kepakarannya dalam bidang antropologi sudah diragukan lagi, sayang usianya sudah berkepala delapan sehingga beberapa memorinya tidak sekuat dulu lagi.

Selanjutnya adalah laporan penelitian lapangan dari materi penelitian antropologi; metode dan praktik. Kegiatan penelitian ini banyak menyita waktuku. Dari awal penelitian sampai akhir kita bagaikan dikejar-kejar oleh waktu. Prosedur yang panjang dan waktu sempit menjadi refleksi kami. Hasilnya pun tidak begitu maksimal. Namun karena yang penting adalah proses. Menurut dosen kami sudah bagus, dan topik-topik yang kami teliti juga bagus. Seluruh laporan kami berjumlah 90 halaman. Ditambah dengan catatan lapangan dan lain-lain berjumlah 225 halaman. Yang kami kelewatan adalah mencantumkan beberapa foto-foto yang kami ambil ketika penelitian. Karena saat pengeprint-an kita sudah last minute, buru-buru, dan baru teringat ketika sudah difotokopi dan dijilid. Ya sudahlah, caaaaapek deh, kalau terus mikirin. Kami hanya mikiran setelah itu masih ada tugas 2 mata kuliah berupa soal ujian yang lumayan susah jawabnya yang belum kami kerjakan.

Senin adalah puncak-puncaknya, kalau bisa dibilang ini adalah ”the final countdown”. Ada tiga tugas yang harus selesai saat itu juga. Pagi jam 10.00 kita harus mempresentasikan hasil penelitian kita di depan para hadirin, yang sebagian besar adalah para alumni dan senior-senior kami di antropologi. Acara berlangsung sampai pukul 13.00. Karena kelelahanku dan beberapa teman-teman, berencana untuk mengumpulkan tugas dua lagi besok hari. Namun mbak Endang, satu tim dengan kelompok aku, menganjurkan aku agar mengerjakannya saat ini juga. Karena sudah tahu tugasku tinggal dikit lagi. Ia tahu sekali dosen yang mengajar kedua materi ini. Meskipun diam tapi dia itu mencatat loh siapa yang terlambat dan tidak, menurut keterangannya.

Aku berdua menyelesaikan di ruang itu juga. Sedangkan teman-teman lain ada yang sudah mengumpulkan ada juga yang belum. Setelah menggeber dalam waktu dua jam akhirnya kelar juga. Dalam keadaan lemas dan perut kosong, sebab sejak siang kemarin belum kemasukan nasi. Hanya kemarin sore aku dan Yusran beli mendoan dan es yang namanya aneh-aneh, ada es jelangkung, es black magic, es pocong, es voodo dan nama-nama angker lainnya. Heran juga tuh warung, nama-nama angker yang dipakai di sejumlah minuman malah bikin laris. Ada aji-ajinya kali ye?? Dari rasa dan kombinasinya juga biasa-biasa saja. Memang kreatif sih yang buat-buat seperti. Hari-hari biasa bahkan pada antri. Kembali ke masalah perut, semalam begadang untuk menyelesaikan tugas yang tidak kelar juga. Jadi setelah merasa lega ngumpulin semua lalu pulang ke kost, dan bruuuk langsung tidur. Bangun-bangun jam delapan, wah magrib lewat. Qodlo’ dong.

Setelah bangun dan salat, aku kepengin ke tempat saudara. Sabtu lalu aku mendengar mereka lagi mau menjenguk bulek di Gubug yang sedang sakit kanker paru-paru, tapi di tengah perjalanan malah menabrak anak. Sekarang anaknya lagi kritis di UGD RS Kariadi Semarang. Alhamdulillah urusan keluarga, polisi dan lain-lain dapat diselesaikan. Jadi minggu sudah bisa balik lagi dan senin sudah bisa kerja. Namun aku lihat masih ada gurat-gurat kelelahan di matanya atas musibah yang tidak disangka-sangka. Menurutnya, semoga dapat menjadi kuat dan pelajaran yang berharga sekali buat dia dan keluarga. Ia sendiri tidak mempermasalahkan ia salah atau tidak, tapi tanggungjawab moral tetap ada. Seandainya ditinggal lari saat itupun bisa. Tapi tidak manusiawi dan tidak bertanggungjawab.


Sekarang tinggal dua materi lagi. Materi Adaptasi manusia, dosennya meminta masing-masing membuat rasume selama kuliah berlangsung. Gila, banyak banget. Lalu ada Antropologi Hukum satu lagi. Untuk Antrops Hukum kami diberi tugas untuk melakukan wawancara dengan orang asing yang tinggal di Indonesia. Membahas masalah hukum dan masalah hukum yang pernah dialaminya. Jum’at tanggal 8 Juni terakhir kita harus serahkan tugas Adaptasi Manusia sedangkan Antropologi Hukum tanggal 14 Juni. Habis itu selesai.

Genap sudah materi-materi pilihan yang aku ambil. Jika semua lulus aku tinggal nulis saja. Tinggal melakukan penelitian. Ada dalam pikiran untuk ambil cuti saja. Agar bisa ada waktu untuk mempersiapkan rencana penelitian dan sambil mencari pengalaman dengan kerja. Wallahu a’lam lah. Sebab menurut pihak jurusan, sayang kalau aku ambil cuti. Lebih baik lanjut saja. Kan ada masih ada waktu tenggat tiga bulan sampai bulan Agustus depan. Rasa khawatir dan gelisah terus menyelimuti hatiku. Soalnya rencana sebelum tanggal 18 Juni ini aku harus keluar kost. Lalu kemana, pulang atau masih di Jakarta. Cari pengalaman, kerja, atau jalan-jalan? Entahlah. Kembali ke rumah Gandul, ....???, iya kalau masih diterima. Nggak tahu deh, yang pasti sudah tidak seperti dulu lagi. Harus bisa mandiri dan punya gawe.

Yang pasti aku harus pulang. Aku ingin ta’ziyah ke kuburan nenek. Seminggu yang lalu ia meninggal namun saya baru dengar kabar setelah dikubur dan mami melarang saya untuk pulang. Sayang lagi ujian. Lagian semua sudah ikhlas, nenek meninggal dengan baik, bisa ngucap kalimat Lai ilaaha illa-l-Allah. Doakan saja. Ingin nekat pulang saat itu juga. Tapi mikir juga kalau pulang dan taruh badan lalu kembali balik ke Jakarta, yang jatuh berisikonya pada saya. Sebab seninnya saya ada ujian. Malam itu juga saya selesai salat isya’ membaca yasin tiga kali dan mendoakan nenekku tersayang, Sukirah binti Amat Duki. Allahummaghfirlahaa war hamhaa wa ’aafihaa wa’fu ’anhaa, amin ya Rabbal ’alamin.

Di akhir-akhir kuliah ini aku merasa masih jauh dari harapan yang ingin ku raih. Beberapa materi dan tradisi keilmuan ini belum begitu aku kuasai. Masih sedikit bacaan yang aku baca. Butuh banyak membaca dan rajin untuk mengulang-ulang apa yang sudah saya dapat. Keresahan dan kegelisah ini terus menyelimuti hatiku. Semoga mendapat pencerahan dan petunjuk yaa Allah. Berikan hambaMu ini kekuatan dan kepercayaan diri untuk menghadapi masa depan ini yang penuh tantangan. Wa tsabbit aqdaamanaa wansurnaa alaa qoumi dzolimin.

Depok, 5 Juni 2007

Tuesday, May 22

Perda Syariah, Legal system dan informan



Sore itu rencana aku ke kantor Center for the Study Religion and Culture (CSRC) di kampus II UIN Ciputat. Tujuan utama saya adalah ketemu sama Mr. Cyhenne (panggilannya syeiin) bule dari Australia, kaitan dengan tugas akhir antropologi hukum, saya ingin mohon dia menjadi informan saya. Meski sudah ada satu informan Mr. Robert Aaron dari Amerika, tapi untuk memperkaya bahan saya tambah dengan informan lain. Mr. Cyhenne adalah volunteer di kantor tersebut sebagai language editor atau bisa dikatakan sebagai editor bahasa, semacam itulah. Selain di CSRC dia juga diperbantukan di PPIM. Tugasnya hampir selesai, dari masa kontrak kerja yang dua tahun dia sudah bertugas selama 1,5 tahun. Sekarang tinggal di Simprug. He is a nice guy and helpful.

Selain itu saya juga ingin bertemu dengan Efri, staf administrasi di kantor CSRC. Soalnya ada amplop yang musti diambil. Setelah tiba saya langsung masuk ruangannya bang Irfan sebab di sana ruangannya Cyhenne. Tapi yang ada malah mas Aang. Kami ngobrol mengenai fenomena perda syariah di daerah-daerah. Saya tertarik melihat hasil penelitian mengenai perda syariah di beberapa daerah di Indonesia yang dilakukan oleh CSRC. Termasuk Aang yang bertugas di Bulukumba. Saya menanyakan tentang efektivitas penerapan hukum syariah di daerah-daerah tersebut. Aang menerangkan kalau banyak ketidakkonsistenan dari penerapan dan pembuatan undang-undangnya juga terkesan asal “copy paste”. Ini berimplikasi pada mendaratnya klaim-klaim pihak yang dirugikan, seperti para guru PNS yang dipotong gajinya sekian persen untuk bayar zakat sedangkan dia sudah banyak potongan-potongan untuk bayar utang sehingga dalam sebulan uang gajinya nyaris habis disunat sana sini. Akibatnya guru PNS tersebut diberi keringanan sedangkan yang lain tidak. Belum lagi masalah-masalah lainnya.

Banyak hal-hal yang lucu juga dari penerapan perda syariah ini. Di lain daerah seperti di Bima, Aang bercerita kalau di sana ada perda yang namanya “jum’at khusuk”. Satu jam sebelum salah jum’at semua jalan akses ke Bima, khususnya yang melewati suatu Masjid, ditutup. Semua harus masuk masjid ketika itu. Mereka tidak mempertimbangkan bagaimana keputusan itu malah mengganggu lalu lintas bagi non-muslim atau para musafir yang diberi rukhsoh untuk menjamak salatnya dan bagaimana apabila ada pihak-pihak yang sakit musti mendapat pertolongan darurat. Lain lagi di Cianjur sebelum masuk kota Cianjur di gerbangnya tertulis “gerbang marhamah”. Di Sulawesi, tidak jelas di mana tepatnya, dikenal suatu istilah keharusan memakai jilbab dengan “kain penutup bangkai”. Sebab Bupati suka sekali jika melihat perempuan berjilbab, sehingga kemana saja di mobilnya pasti ada banyak jilbab, jika ketemu perempuan di jalan tidak mengenakan jilbab dia berhenti lalu kasih dia jilbab. Pernah suatu kali ada acara dangdut, ia melihat penyanyi dangdut dengan goyangnya yang aduhai tapi tidak memakai jilbab, dia panggil lalu kasih jilban dan disuruh meneruskan goyang dangdutnya. Masih banyak lagi yang lainnya.

Bahkan di suatu daerah yang berbuat ceroboh, bagaimana dia meng“copy paste” rancangan undang-undang dari daerah lain, lalu dibawa ke DPRD untuk dibahas dan disahkan tapi ketika dibacakan masih tertulis di draf undang-undang tersebut nama daerah tempat dia mengkopi file itu. Bahlul.

Obrolan kami sudahi karena waktu memang sudah mendekati sore, saya tidak ingin kehilangan Chyenne yang biasa sudah pulang kantor sebelum magrib. Setelah itu saya minta nomor kontaknya oleh Silvi dan saya menemui mbak Efri. Setelah urusan selesai saya menuju PPIM di gedung sebelahnya. Ternyata Mr. Chyenne ada di sana, dia sedang mengedit tulisan di depan komputernya. Kabarnya dia baru vakansi di Australia dan baru saja tiba di Indonesia. Tersenyum dia kusapa. Lalu saya menanyakan padanya apakah kedatangan saya mengganggu pekerjaannya. Oh tidak..tidak, katanya. Saya mengutarakan maksud saya padanya. Di luar dugaan saya dia sangat antusias sekali untuk menuliskan pengalamannya tentang “policy” yang ada di Indonesia. Dia pernah ditilang sampai 16 kali yang ujung-ujungnya polisi minta duit. Pernah suatu kali dia duduk bersama polisi selama 3 jam hanya masalah penilangan, dia minta ditraktir makan dan minum tapi dia tolak. Dia malah meminta semacam surat denda atau diselesaikan di pengadilan tapi ditolak oleh polisi. Kata polisi, dia harus membayar dengan jumlah sekian untuk diuruskan pengadilannya nanti dan urusan selesei. Tapi tidak demikian yang dikehendaki oleh dia.

Dia juga banyak menanyakan tentang politik dan hukum di Indonesia. Secara tidak lengkap saya pun beri dia informasi secara proporsional sesuai dengan yang aku tahu. Tapi nampaknya dia sangat tertarik dan cukup lumayan informatif penjelasan saya. Ujung-ujungnya ke masalah korupsi. Bagaimana usaha kamu untuk bisa menyembuhkan korupsi di Indonesia. Wah pertanyaan berat sekali untuk dijawab. Presiden Indonesia juga belum tentu menjawab dengan tegas pertanyaan ini. Ia bandingkan di Cina dan beberapa Negara lainnya. Dimana hukum korupsi tegas ditegakkan akan makmur rakyatnya. Contoh yang nyata adalah di Singapura. Gaji presiden Singapura, menurutnya, adalah paling besar di dunia yaitu 1,5 juta US Dolar/tahun lebih besar gaji Presiden Amerika yang Cuma 400.000 Us Dolar/tahun. Tapi sistem pemerintahan dan birokrasi berjalan dengan baik. Karena dari atas sudah tidak mau korupsi sampai ke bawah pun tidak ada korupsi.

Kemudian kita diskusi masalah Perda Syariah di tiap daerah di Indonesia. Menurutnya, yang juga fasih berbahasa Arab, ketika di timur tengah penerapan hukum syariah cukup efektif. “I like Syariah” katanya. Karena dengan penerapan hukum syariah secara konsisten banyak orang tidak berani berbuat jahat. Contohnya di Saudi. Ketika dia bawa mobil dia tidak perlu mencabut kuncinya. Namun ada juga beberapa kejadian yang salah tangkap atau salah tuduhan karena altruisme lembaga pengadilan setempat yang lebih suka tuduhan tidak diarahkan pada penduduk arab setempat. Dia cerita sebuah kasus pemerkosaan terhadap perempuan arab yang dilakukan oleh kakaknya sendiri tapi dituduhkan kepada orang Bangladesh.

Akhirnya kami tutup obrolan kami karena listrik mati dan hari sudah gelap karena mendung. “kayaknya waktunya sudah harus pulang” kata dia. Sebelumnya dia menjanjikan kalau dia bersedia sebagai informan saya. Mekanisme dia sendiri yang akan menulis sesuai daftar pertanyaan yang sudah saya buat. Dia janji dalam minggu ini akan diselesaikan. Intinya dia antusias dan very helpful untuk saya. Thanks mr.

Depok, 22 Mei 2007



Saturday, May 19

Antara Ideal dan Aktual




Sudah menjadi hal yang wajar, jika seseorang jauh dari rumah dan keluarga dia akan merasakan homesick. Istilah yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan kangen dan kerinduan mendalam terhadap kehangatan keluarga. Lain bagi seorang wisatawan lain juga dengan penuntut ilmu. Kalau wisatawan keluar rumah untuk jalan-jalan cari hiburan, sedang penuntut ilmu jalan-jalan secara sungguh-sungguh untuk cari ilmu. Yang mungkin dapat dikatakan sama-sama sifatnya, kedua-duanya sama-sama butuh duit. Baik yang bepergian wisata maupun yang mau menuntut ilmu.

Barangkali unsur materi ini yang telah menjadi masalah utama kenapa Indonesia tidak maju-maju. Mutu dan kualitas pendidikan Indonesia tidak pula menggembirakan. Kasus-kasus terhadap kegagalan-kegagalan terus menerus berulang. Tidak pintar-pintar mengambil hikmah dan pelajaran dari peristiwa dan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Ambil contoh Negara tetangga kita, Malaysia. Secara signifikan mereka jauh meninggalkan kita dalam hal akademis dan pembangunan. Lalu kemudian mari kita tarik ke belakang 20 tahun yang lalu, siapa dan bagaimana Malaysia dibanding Indonesia?

Ada kekhawatiran-kekhawatiran dalam hati ini. Sebelum masa kuliah berakhir, karena singkatnya waktu dan terbatasnya jam tatap muka, saya merasa belum mendapat apa-apa. Saya merasa apa yang seharusnya saya terima dari materi kuliah belum begitu maksimal. Belum optimal dengan luasnya dan padatnya materi untuk berselancar dalam ilmu-ilmu sosial. Sebab dimensi sosial saat ini sudah sedemikian kompleks. Kita tidak bisa menyalahkan seorang guru karena lalai ketika salah seorang siswa menjadi korban pembantaian teman-temannya di areal sekolah. Sungguh banyak aspek terkait yang perlu dibongkar dan diungkapkan pokok dasar masalahnya.

Dari masalah kangen, kuliah, baca buku, kerjain tugas dan main game, silih berganti menjadi aktivitasku. Namun setiap weekend ada aja acara bersama kawan-kawan gontorian main bulutangkis di Ciputat. Cukup membuat badan dan pikiran menjadi sehat. Kesehatan memang lebih mahal dari pada kekayaan dan kekuasaan apapun (kata Don Corleon dalam film Godfather). Sedangkan dalam kata mutiara mengatakan, kesehatan adalah semacam crown di atas kepala orang-orangnya, yang tidak diketahui oleh orang kecuali bagi yang sakit.

Jum’at, 4/5/2007, kemarin sempat pulang untuk melepaskan rindu kepada keluarga. Jakarta – semarang memang tidak jauh, tapi saya sendiri baru pulang kali ini semenjak lepas lebaran kemarin. Momen weekend saya kira paling tepat untuk pulang. Bisa tiga sampai empat hari di rumah, selasa balik untuk masuk kuliah siangnya. Cukup seru juga di rumah ketemu dengan ponakan-ponakan yang lucu-lucu. Semuanya pada kangen “lik” (oom)nya. Perkembangan di desa juga biasa-biasa saja tidak terdengar suatu gerakan-gerakan yang menggembirakan.

Sudah lama memang saya meninggalkan suasana dan romantisme kehidupan di desa. Sudah 15 tahun kiranya, 12 tahun di Gontor dan 3 tahun di Jakarta. Dulu semasa kecil masih teringat mandi di kali (sungai), main sepeda ke gunung, cari jangkrik malam-malam, main betengan, dan aneka cerita seru lainnya. Sekarang sudah berubah. Tidak ada lagi keceriaan-keceriaan itu lagi yang saya lihat. Paling-paling banyak pemuda-pemuda kumpul kongkow-kongkow tanpa tujuan jelas, kemudian anak-anak juga saling pamer motor. Nuansa-nuansa romantisme dan harmoni desa di zaman dulu sudah hilang tergilas oleh globalisasi. Mereka sudah kenal handphone, lebih memilih nonton sinetron, main internet, main playstation, dan lain-lain.

Suatu fenomena baru yang tidak perlu diantisipasi tapi dipikirkan bagaimana kita sebagai manusia menghadapinya. Bagaimana identitas kita dipertaruhkan di sini. Sebenarnya identitas kita itu apa sih, sebagai warga Negara Indonesia tentunya identitas kita adalah orang Indonesia. Yang menjadi pertanyaan bagaimanakah identitas orang Indonesia itu? Pancasilais kah? Atau plural? Sekular? Religius? Siapa yang bisa mendefinisikannya? Agar di kemudian hari tidak salah generasi-generasi selanjutnya menafsirkan identitas mereka sebagai bangsa Indonesia.

Gandul, 20 Mei 2007

Thursday, May 17

Globalisasi, apaan sich???



Istilah globalisasi terus menerus ada di sekitar kita. Kalau mendengar globalisasi yang terbersit dalam benak saya sesuatu yang serba lintas batas, teknologi modern, dan pengaruh asing. Sepertinya kata globalisasi sudah tidak asing lagi di telinga kita. Apalagi dalam dunia antropologi, istilah ini kerap dibawa-bawa untuk menunjukkan perubahan yang terjadi pada lapangan penelitian. Dalam materi metodologi teori dan praktik, yang diajarkan oleh trio antropolog UI; Iwan Tjitradjaja, Sulistyowati Irianto, dan Suraya Afif, seluruh program pascasarjana antropologi ditugasi untuk mengadakan penelitian dengan tema globalisasi. Secara khusus mengambil tempat penelitian di Detos dan Margo City Depok. Jadi penelitian kawan-kawan terfokus pada bagaimana warga depok mengalami globalisasi sehari-hari di Mal.

Dari satu tempat penelitian sudah terdapat banyak peristiwa dan gejala di setiap sudut yang dapat kami ambil sebagai judul penelitian masing-masing kelompok yang terbagi menjadi tujuh kelompok. Saya sendiri bersama Yusran dan Endang Rudiatin mengambil tema “
Representasi Identitas Serta Tafsir Remaja Atas Life Style di Mal: Studi Kasus Remaja Depok”. Meski judul tersebut belum bersifat baku, namun dari situ kami dapat memfokuskan penelitian pada remaja, bagaimana mereka memaknai globalisasi sehari-hari yang mereka representasikan melalui identitas tertentu. Minggu-minggu sampai depan adalah proses abstraksi dan penulisan setelah berlelah-lelah menulis fieldnotes, coding-memoing dan analisa data.

Jum’at 11/5/2007, pukul 13.30 WIB di blok cafĂ© FISIP UI ada bedah buku karya Firmansyah, Ph.D, Dosen FE-UI, yang berjudul “Globalisasi – Sebuah Proses Dialektika Sistemik”. Yang melatarbelakangi penulisan buku ini, menurut penulis, keragaman pengalaman yang alami selama berada di luar negeri tempat ia belajar baik di Amerika, Perancis maupun di negara lainnya. Bahwa isu globalisasi tidak hanya dibicarakan di Indonesia, di Perancispun, Negara yang sudah maju isu ini tidak kalah pentingnya dengan isu politik. Dalam suatu petikan peristiwa ia dapatkan di sana, bahwa kumpul kebo itu malah tidak dilarang tapi malah diperkuat oleh hukum sebab dengan kumpul kebo bisa mengurangi nilai pajak pendapatan. Pengurangan pajak pendapatan tidak hanya berlaku bagi suami istri yang sah.

Menurutnya, globalisasi adalah sebuah proses untuk menjadi global. Sedangkan konsep global mengacu pada sebuah kondisi dimana terdapat interkoneksi yang terjadi secara intens dari berbagai macam karakteristik lokalis dimana kejadian di suatu wilayah berdampak pada kondisi di luar wilayah bersangkutan. Karena begitu banyaknya definisi tentang globalisasi, seperti dari Anthony Gidden (1990), yang menyebutkan bahwa proses globalisasi ditandai oleh intensifikasi hubungan antar wilayah, dimana peristiwa yang terjadi di luar sana akan mempengaruhi kondisi dalam negeri di suatu tempat. Ada yang mengaitkan globalisasi dengan konsep deteritorialisasi (Kearney, 1995). Ide ini mengacu pada pemahaman bahwa aktivitas produksi, konsumsi, ideologi, komunitas, politik, budaya dan identitas melepaskan diri dari ikatan lokal. Ada dua mekanisme dalam pandangan ini; pertama, melalui ekstensifikasi hegemoni suatu negara atau diaspora kelompok masyarakat tertentu melalui migrasi dan pengungsian seperti keberadaan negara superpower Amerika dan pengaruh imigran yang tinggal di Perancis. Kedua, melalui konsep hyperspace yang berarti runtuhnya tembok-tembok batas lokal dalam ruang imajiner atau virtual seperti hadirnya internet, handphone dan lainnya.

Globalisasi juga diterjemahkan sebagai suatu proses integrasi manusia yang melewati batas-batas negara dan bangsa (Pieterse, 2000). Globalisasi juga diindikasikan oleh time-space compression (Robinson, 2001). Hal ini juga pernah diungkapkan oleh McLuhan di tahun 60-an bahwa dunia mengarah pada suatu kondisi yang dinamakan global village sebagai akibat dari akselerasi interaksi manusia di seluruh dunia. Dalam bukunya globalisasi, bahwa proses ini mengacu pada seluruh proses sosial, ekonomi, budaya dan geografis yang terjadi pada banyak negara dimana proses tersebut telah memberikan banyak batasan bagi kebebasan pengembangan identitas dan institusi lokal dalam suatu daerah.

Dalam keterangan globalisasi di atas dapat dibaca dengan seksama, bahwa terjadinya globalisasi meski terkait dengan isu lokal dan global, bagaimanakah posisi identitas lokal?. Globalisasi ini peluang atau tantangan?. Secara lebih ekstrim, rahmat atau laknat?. Ada standar global dan ada standar lokal. Pada suatu negara, terjadi perlawanan antara tekanan global dan lokal atau regional. Terjadilah benturan kepentingan. Selanjutnya yang menjadi pertanyaan adalah dengan globalisasi apakah membuat manusia semakin menutup diri atau membuka diri. Bisa kedua-duanya, jawab Firmanzah.

Keberagaman adalah implikasi dari proses globalisasi itu sendiri. Sedangkan dampak dari globalisasi, menurut I Putu Gede Ary Suta, bisa positif bisa juga negatif. Positifnya seperti dirinya bisa bersekolah di beberapa universitas di luar negeri sampai tamat, itu karena globalisasi. Akses dan kesempatan untuk belajar di luarnegeri dengan beasiswa menurutnya adalah suatu implikatif dari proses globalisasi. Sedangkan negatifnya, dapat kita lihat pada media massa bagaimana negara-negara miskin yang menjadi budak para pengendali globalisasi itu. Sebagai salah satu pembicara Putu sampaikan sebuah pidato Bush yang singkatnya menerangkan bahwa Bush dengan tegas mengatakan pada setiap negara untuk memutuskan bersama US atau di luar US (yang berarti dianggap musuh oleh dia), kalau ikut bersama US mari ikut aturan yang sudah kita buat. Secara eksplisit menjelaskan suatu hegemoni suatu negara adidaya atas negara-negara yang tidak berdaya. Bagaimana kita bersikap dan beradaptasi dengan globalisasi? Secara lebih besar, bagaimana Indonesia mengambil sikap dalam hal ini? Lalu bagaimana pula dengan kedaulatan Republik Indonesia.

Connie Rahakundini Bakrie, pembicara lainnya mengaitkan globalisasi dengan isu pertahanan. Bahwa pertahanan menurut Juwono Sudarsono adalah isu anyone, anywhere dan anytime. Antara kedaulatan satu Negara dipengaruhi oleh Negara lain. Kalau dalam pengertiannya fisiknya yaitu batas territorial, tapi secara umum kaitan dengan globalisasi, mencakup aspek yang lebih luas lagi yang diistilahkannya dengan “euphoria globalisasi”. Ia mengutip pertanyaan seorang jenderal VOC J.P. Coen yang mengatakan bahwa perang dan dagang tidak dapat dipisahkan. Yang pada akhirnya ia menanyakan bagaimana Indonesia mengelola globalisasi ini? coba lihat sikap pemerintah dengan keberadaan perusahaan-perusahan asing MNC (multi national corporation) yang mengekploitasi kekayaan dan sumberdaya alam Indonesia. Bagaimana tidak malu, Singapura yang luasnya hanya selebar kabupaten Sidoarjo (yang sekarang mau dibenamkan oleh perusahaan lokal sendiri “Lapindo Brantas”) menjadi negara pengeskpor ikan terbesar di Asia Tenggara. Malaysia menjadi pengekspor kayu lapis terbesar. Darimana ikan mereka, pantai mereka tidak ada apa-apanya dengan pantai Indonesia. Dari mana kayu mereka, hutan mereka tidak seluas hutan Indonesia. Dua hari yang lalu saya membaca sebuah Koran yang memberitakan bahwa kita layak dikasih pemecah rekor dari Guinness Book dengan prestasi Negara paling cepat penghancur hutan di dunia. Banggakah kita? Jawab salah seorang menteri yang dituduh korupsi, sekarang syukur sudah direshuffel, wallahu a’lam bisshawab.

Saya kemudian berpikir, Indonesia yang terdiri dari 13.000 pulau lebih, lebih dari 500 suku dengan dialek bahasanya yang ragam, bagaimana pemerintah dapat mengendalikan semuanya. Dengan kencangnya proses globalisasi ini bukan tidak mungkin seorang Indonesia sulit untuk menunjukkan identitasnya sebagai seorang Indonesia akibat persinggungan dari berbagai macam budaya dan nilai asing. Bagaimanakah semestinya identitas seorang Indonesia itu? Apakah bhineka tunggal ika bisa dikatakan sebagai identitas Indonesia? Pertarungan antara lokal dan global, mana yang menang? Mari kita lihat secara politis, ekonomis dan sosial fenomena berdirinya Carefoour, Giant, Matahari, Alfamart, dan Indomart. Apa dampak dari perbuatan para kapitalis sebagai agen dari globalisasi?

Dalam penelitian kami juga sangat terlihat jelas bagaimana subkultur yaitu budaya anak remaja di sebuah kota pinggiran Jakarta, mengalami globalisasi. Depok yang tumbuh dengan pesatnya telah menjadi arena globalisasi. Dimana tumbuh mal-mal, pusat-pusat hiburan dan membanjirnya kaum urban yang tinggal di Depok. Di penghujung tahun 1998-an pusat belanja di Depok yang ada hanya Ramayana. Sekarang sudah banyak sekali, ada ITC Depok, Mal Depok, DTC, Detos, dan Margocity. Suatu kemajuan yang cepat. Para remaja SMP pegangannya Handphone 3G dengan fasilitasnya yang lengkap, pakaiannya meniru model yang ia lihat suatu majalah fashion, rambutnya ia tata kayak bintang pujaannya, dan aksesorisnya adalah referensi dari iklan tv yang ia tonton. Wow, biar gaya abis gitu loh, biar keren gitu loh, dan biar-biar seterusnya. Apakah ini yang menjadi identitas mereka sebagai seorang Indonesia. Apa bedanya mereka dengan remaja sebuah kota di Malaysia atau di Jepang?
Sekali lagi globalisasi peluang atau tantangan, rahmat atau laknat?

Depok, 11 Mei 2007

Antropologi Banget….!!!



Di antara tujuh hari dalam seminggu, hari Kamis adalah hari yang menurut saya menghebohkan. Sejak minggu ke-10 setelah kita penelitian di Mall, kita kembali ke dalam ruang kelas. Bila di lapangan kita berjihad mencari informan untuk dapat diwawancarai lalu kita catat peristiwa itu secara menulis laporan. Ini apa yang dinamakan dengan catatan lapangan atau dalam penelitian kualitatif dikenal dengan fieldnote. Fieldnote adalah suatu yang esensi dalam suatu penelitian kualitatif. Seorang antropolog bernama Sanjek sampai memberi judul bukunya yang berisi mengenai catatan lapangan penelitian dengan judul “Fieldnotes the Making of Anthropology”. Dari namanya saja sudah dapat dibaca bahwa kalau ingin mengadakan penelitian antropologi maka harus buat fieldnote (catatan lapangan).

Bagaimana seorang Geertz yang tinggal selama 6 tahun di Jawa, di Mojokuto dan juga di Tabanan Bali, telah membuat banyak buku antropologi dari catatan lapangan. Tak terbayang setiap hari ia harus menulis setiap peristiwa yang terjadi. Salah satu yang menarik adalah ketika ia ingin meneliti tentang sambung ayam di salah satu daerah di Bali. Ia agak sulit membangun rapor dengan penduduk. Diperkirakan mungkin ia adalah bule orang asing sama seperti penjajah belanda sebelumnya. Namun tak sengaja suatu hari lagi asyik-asyik menonton sabung ayam, para polisi menggrebek tempat itu. Kontan saja seluruh penyabung dan para penonton kucar kacir lari tunggang langgang. Geertz pun ikut lari. Ia mengikuti beberapa orang yang lalu kemudian masuk rumah sembunyi di bawah meja. Sejak saat itu, penduduk merasa ia juga adalah sama seperti mereka tidak orang lain. Buktinya ia juga ikut lari waktu polisi datang menggrebek. Setelah itu rapornya bagus di mata penduduk bahkan ia dikenalkan pada yang lainnya.

Begitulah bagaimana seorang antropolog ketika penelitian di daerah. Sesungguhnya masih banyak lagi cerita mengenai serba serbi para peneliti ketika melakukan penelitian. Ada Anna Tsing, Professor dari Universitas California Santa Cruz, yang melakukan penelitian di Kalimantan lalu dituangkan dalam bukunya Friction dan In the Realm of Diamond Queen. Daftar panjang para antropolog dari luar negeri yang melakukan penelitian di bumi tercinta tanah air Indonesia. Namun aku belum mendengar seorang antropolog Indonesia yang betul-betul terkenal karya penelitiannya di Indonesia. Beberapa antropolog domestik yang saya kenal lebih banyak disibukkan mengajar di kampus kalau tidak sibuk mengerjakan proyek di luar daerah.

Kegiatan penelitian antropologis
Hari kamis, kami mahasiswa antropologi baik s2 maupun yang program doktor, sama-sama sibuk. Masing-masing kelompok sibuk menyiapkan laporan progress penelitiannya dan mempresentasikan di depan kelas. Saya sekelompok dengan mbak Endang Rudiatin dan Yusran Darmawan. Dah dua minggu ini saya kalang kabut mengerjakan tugas. Puncaknya adalah kamis kemarin. Pagi aku harus presentasi untuk materi Antropologi Hukum, siangnya kita presentasi untuk penelitian kita. Pagi-pagi aku selesaikan bahan presentasi saya yang berbentuk powerpoint sebelum jam tujuh. Setengah jam kemudian saya sudah berangkat ke kampus untuk presentasi jam delapan.

Perasaan agak canggung juga ketika presentasi sebab selama ini saya cuma lihat orang presentasi. Apalagi sebagian bahan materi yang aku buat dalam bahasa inggris. Bagaimana pula saya harus menyampaikan layaknya sebagai seorang antropolog dan seorang ahli hukum. Materi yang aku sampaikan adalah mengenai legal empowerment, suatu gerakan pemberdayaan hukum untuk orang-orang miskin dan orang-orang di bawah intimidasi serta diskriminasi oleh pihak lain. Bagaimana hukum bekerja buat mereka tidak malah melawan mereka. Aku presentasi dari jam 08.10 dan berakhir pukul 09.15 menit, wah satu jam lebih aku presentasi. Sambutan tepuk tangan menyertai salam penutup saya, wah gembira rasanya. “kamu tadi presentasinya bagus, kayak ahli hukum saja, banyak istilah-istilah baru yang baru saya dengar” kata Yusran.

Alhamdulillah sudah selesai satu. Aku dan kelompok penelitianku menyiapkan materi yang akan kita presentasikan siang itu. Kebetulan bahan yang akan kita print banyak, akhirnya aku pergi ke tempat ust. Husnan, sebab di sana kemarin aku sudah isi ulang catridgenya. Kita mendapat giliran kedua setelah kelompoknya mas Reza. Hanya saja yang datang dari dosen pembimbing cuma bu suraya, pak iwan dan bu sulis menguji disertasi. Presentasi kita bisa dibilang cukup berhasil, banyak hal-hal menarik yang kita temukan di lapangan. Catatan lapangan kita termasuk yang paling rinci dan lengkap, tantangannya kemudian bagaimana kita dapat memanfaatkan data-data tersebut dengan baik menjadi suatu penelitian yang menarik. Penelitiannya kita beri judul “Representasi Identitas Serta Tafsir Remaja Atas Life Style di Mal: Studi Kasus Remaja Depok”. Yang seru adalah ketika kita diprotes atau kalau boleh dibilang diserang oleh kelompok sebelumnya mengenai cara Coding & Memoing. Mereka menganggap telah melakukan seperti apa yang telah kita lakukan minggu kemarin, tapi oleh pak iwan mereka disalahkan lalu mereka memperbaikinya lagi. Sekarang mereka juga dipermasalahkan. Yusran lalu menjawab kalau yang dipresentasikannya itu hasil dari temuan kita bersama dan sesuai dari fieldnotes. Aku juga angkat bicara, bahwa dalam penelitian seorang peneliti di lapangan diberi kebebasan untuk


Tugas mulia antropolog
Setelah setahun berjalan kuliah di Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia. Saya merasa banyak menemukan tantangan. Kelemahan demi kelemahan, kekurangan demi kekurangan mulai saya sadari. Yang artinya, semakin kita banyak tahu, semakin banyak pula hal-hal yang tidak kita ketahui. Apalagi masalah sosial dengan fenomena yang terus bergerak dan berubah. Masalah-masalah semakin kompleks dan rumit. Tidak cukup hanya melihat secara lahir dari peristiwa lalu menjustifikasi masalahnya seperti ini. Tapi bisa jadi masalah yang terjadi adalah implikasi dari masalah-masalah yang sudah berakumulasi lama.

Para pejabat pemerintah dan politisi yang bertugas mengurus ketidakberesan di negeri ini sepertinya tidak mampu membantu para rakyatnya mendapat kesejahteraan dan kemakmuran sebagaimana yang dicita-citakan semenjak kemerdekaan Indonesia. Sehingga jarang gerakan-gerakan empowerment dari rakyat yang dibuat oleh pemerintah. Rakyat dibiarkan bodoh, kelaparan, tidak berpendidikan sehingga mudah dikendalikan. Masalah kapasitas dan legitimasi rakyat kecil yang selalu dimarjinalkan. Sehingga program pengentasan kemiskinan dan usaha peningkatan ekonomi yang menurut ukuran pemerintah semakin baik, tapi tidak merubah nasib rakyat miskin sama sekali. Selain kemiskinan juga terjadi intimidasi dan diskriminasi yang membuat masalah semakin rumit. Fenomena-fenomena sosial semacam ini menjadi konsen kami. Semoga ke depan para antropolog mendapat tempat lebih luas untuk dapat berkontribusi dan ikut berpartisipasi dalam membangun bangsa ini.

Thursday, April 19

SELAMAT JALAN SAHABAT


Selamat jalan lampung padang, lapang
Semoga arwahmu diterima di sisi Ilahi
Dan memaafkanmu dari dosa-dosa
Memberi ketabahan dan kesabaran bagi yang dicintai

Di tengah terik matahari. Di bawah pancaran sang surya yang lagi memanas. Ratusan orang mengiring kepergiannya. Iring-iringan mobil dan motor dari kerabat, handai taulan, serta kawan-kawan mengiring jenazah tercinta. Takdir ajal sudah tiba, tak ada satupun jua yang kuasa menghentikannya. Jenazah terbujur kaku dibungkus kain kafan dalam usungan peti di dalam Masjid. Para Jama’ah takziyah pun menyalatinya. Saat kuterima lalu kupanggul keluar dari Masjid bersama menuju mobil ambulance tubuhmu tetap diam membisu. Memasuki mobil jenazah untuk menuju pemakaman. “Darinya (tanah) Kami ciptakan, dan kepadanya pulalah Kami kembalikan (ciptaan itu)”.

MUHAMMAD LAPANG DALAM KENANGAN

Saya teringat waktu dia cerita di kelas II KMI, karena kami bersama kelas II C tahun 1994, mengenai riwayat dirinya sebelum masuk Gontor. “Dulu saya adalah atlet perenang, pernah loh juara renang, karena kena sakit lever ya jadi badanku melar seperti ini”, memang saat itu badannya gemuk. Tapi dengan kegemukannya memang kelihatan kekar dan besar, tidak gemuk karena kelebihan lemak seperti orang yang overweight.

Sebelum masuk Gontor, ceritanya ia pernah tercatat sebagai santri di Pondok Pesantren Assalam di Surakarta. Saya sendiri tidak tahu sampai kelas berapa dia di sana. Setelah itu pindah ke KMI Gontor. Yang selalu kami ingat di kelas adalah kelakar dia dan canda tawanya bersama teman-teman kibar. Walau waktu kami adalah kaum sighor dan duduk di depan, tapi kami dalam satu kelas cukup akrab dan hidup. Wali kelas kami adalah ust. Miftahul Ulum.

Naik ke kelas III, kembali saya satu kelas dengannya di kelas III C. Wali kelas kami adalah Ust. Heru Wahyudi, staf pengasuhan santri. Kelihatannya M. Lapang di kelas ini dikader betul dan diperhatikan oleh Ust. Heru untuk kelak jika kelas selanjutnya menjadi pengurus yang berkualitas. Meski sering absen tidak masuk kelas, Ust. Heru tetaplah seorang wali kelas yang perhatian pada siswanya. Dia tetap masuk kelas, walau harus mengajar sambil terkantuk-kantuk kepalanya mantuk-mantuk di atas kursi pengajar karena kecapean. Kita yang melihatnya kadang-kadang terkadang geli.

Saat yang paling kami ingat bersamanya adalah ketika diajar Hadits oleh Ust. Tauhid. Pelajaran Hadits yang seminggu sekali ini adalah pelajaran yang buat kami banyak manfaatnya; sebagai hiburan, penyiksaan, atau bahkan ujian mental. Bayangkan saja, baru masuk kita sudah menahan tawa karena memang sosok dan pembawaannya yang unik. Saat itulah ketegangan melanda seisi ruang kelas. Tidak ada yang berani bertingkah aneh. Cuma dia sendiri yang boleh bertingkah aneh. Saking tidak kuatnya kami menahan geli, ada yang kelepasan mengeluarkan suara, meskipun tidak terdengar jelas namun samar-samar ada suaranya yang tertahan dan tak kuasa lagi ditahan lalu keluar. Didekatilah orang itu lalu, “cuh..cuh..cuh..” kena ludah deh, bau jengkol kali, siapakah dia yang pernah merasakan ludah pak Tauhid? Ayo siapa?

Naik ke kelas IV, kalau tidak salah saya masih satu kelas dengannya di kelas IV B. Ust. Miftahul Ulum kembali menjadi wali kelas. Oh ya, betul dia satu kelas sama kami. Waktu itu ada bustanul, Nur Tsalits, Nazaruddin, Asrizal, ada anak Jakarta yang juga sama kecilnya (lupa namanya) dengan bustanul yang diam di rayon Santalada. M. Lapang saat itu diangkat menjadi keamanan kelas IV di rayon santalada. Di kelas kadang-kadang cerita bagaimana di rayon. Menegakkan disiplin anggota rayon yang diantaranya adalah teman sekelas sendiri. Namun ia sosok yang tegas. Urusan rayon, urusan rayon, lain lagi di kelas. Yang menjadi kenangan kami, ia suka ceritakan pengalaman dia disertai kelakar dan cukup mampu memotivasi kami. Selain itu, ia cukup disegani dan ditakuti waktu ia menjadi keamanan di rayon Saudi 3 lantai 2, rayon sighor lama.

Sehingga kelas V ia duduk di OPPM sebagai, kalau tidak salah, bagian keamanan. Namun sayang karena kesungguhan dalam kepengurusan, baik di OPPM maupun di kegiatan-kegiatan pondok lainnya, studinya jadi keteteran. Yang membuat dirinya naik kelas Enam di Kediri. Naik kelas enam tapi di Gontor III Kediri. Saat itu memang awal mula di Kediri ada OPPM. Jadilah ia Ketua OPPM, ikut bersama rombongan sahabat satu kelas saya Imron Chaidir yang cukup syok juga naik kelas di Kediri padahal waktu itu ia optimis bisa naik di Gontor. Optimis dari hasil belajarnya juga karena dia bersama saya di kelas V C, kelas yang cukup amanlah ibaratnya. Meskipun kawan-kawan satu kelas memang rata waktu itu naiknya dari Enam B sampai K bahkan sampai di Kediri ada semua dari kelas V C. Menurut keterangan kemudian yang datang dari panitia ujian sendiri, bahwa terjadi kesalahan dalam pendistribusian nilai. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kebetulah saya sendiri di tengah-tengah naik kelas VI F. Hikmahnya teman-teman dari V C dulu kelulusannya bagus-bagus. Ada di VI K yang jayid jiddan seperti Ottoman yang berubah namanya jadi Otsman, ada juga Najihan Maududi di kelas yang sama, sekarang telah tamat s2 di UIN, lagi giat nyari jodoh, sambil nyampi terjemahan buku dan khutbah di mana-mana.

Tidak banyak rekaman peristiwa saya di Kediri, karena otomatis saya dan teman-teman yang jumlahnya waktu itu sekitar 450 terpisah dengan kawan-kawan yang di Kediri, termasuk M. Lapang. Hingga kembali kita bertemu saat akhir-akhir masa kelas Enam untuk karantina bersama dan ujian tahap akhir. Pada waktu itu tahun 1998, saya lulus bersama teman-teman, dan ditugaskan bersama 71 orang untuk mengajar di KMI Gontor. Kalau tidak salah M. Lapang saat itu ditempatkan di KUK Toko Besi. KUK adalah singkatan dari Koperasi Usaha Keluarga. Ia bersama Nur Najman dan Syaikhudin dari Lombok. Lalu kemudian ditarik ke dalam pondok untuk menangani Majalah Gontor yang saat itu baru-baru terbit.

Selain bertugas mengajar dan membantu pondok, kami juga kuliah di ISID al Azhar. Kebetulan memang kembali saya satu fakultas bersama M. Lapang, Fakultas Tarbiyah, saat itu pesertanya seru alias aneh-aneh orangnya seperti; Nurul Huda alias gonjrot, Muhajir alias dukun, Teguh Widiatmiko alias ulo, Subhan Roza orang suka manggil Sobekan rusak, M. Lapang, and so on lah termasuk saya. Meski sebagai orang sibuk M. Lapang adalah mahasiswa yang rajin. Rajin untuk mengulang ujian materi tiap semester, kalau tidak salah waktu itu materi “statistic” sebab gagal tiga kali, akhirnya lulus juga alhamdulillah. Setelah KKN, kami dapat wisuda bersama. Setelah itu M. Lapang diwisuda beneran ala ISID, kali ini singkatannya bukan “Institut Studi Islam Darussalam” lagi, tapi “Ikatan Suami Istri Darussalam”. Ia naik pelaminan mempersunting seorang Ustadah namanya Ustadah Darma, setelah melewati proses PDKT yang berliku, di sini saya tidak cukup bahan untuk menceritakan masalah ini. Tahu-tahu udah jadian aja.

Selepas dari pengabdian di Gontor kembali ke Jakarta dan berkeluarga, 2004. Ia masih mengabdikan dirinya di Majalah Gontor, kali ini sebagai jurnalis. Wartawan atau reporter Majalah Gontor. Semangatnya memang patriotisme dan pantang menyerah, sehingga cukup dikenal oleh para teman alumni dan para tokoh yang sempat ditemui atau diwawancarainya. Namun di tengah kesibukan dirinya semenjak di Gontor dan di luar Gontor, ia kurang memperhatikan dirinya sendiri, ia kurang menjaga kesehatan dirinya sendiri. Pola hidup yang tidak sehat selalu saja diulang-ulangnya seperti; merokok, tidur sembarangan (tidak di atas kasur), suka keluar malam, begadang dan jarang olahraga. Selain itu adalah kegemaran makan yang kurang terkontrol apa yang dimakan, seperti sate kambing, jeroan atau lainnya.

Saat saya mendengar Lapang jatuh sakit dan dirawat di RS Fatmawati, saya lalu teringat akan kebiasaan dia waktu di pondok dan saat di Jakarta waktu ketemu beberapa kali, 2006. Apalagi saat mendengar kena komplikasi lalu gagal ginjal. Hati tidak tega untuk mendengar dia sampai sakit sejauh itu dengan umur yang masih muda dan harapan yang masih jauh ke depan. Harus cuci darah rutin tiap minggu. Saat ku jenguk di RS Fatmawati, tubuhnya seperti bengkak. Tangannya kelihatan bengkak sekali. Dan kelihatan warna kulitnya biru kehitam-hitaman seperti ada cairan di dalamnya. Aku usap-usapkan kain yang dibasahi dengan air hangat di tangannya agar nyaman dan kempes kembali. Lalu ia bilang “ndi, doakan sembuh ya ndi, saya nggak mau sakit, doakan ya, saya tidak mau kena ginjal” dengan suara berat ia sampaikan. Trenyuh aku mendengar sambil kujawab, “amin-amin, insyaAllah, Allahu Yashfiik , Lapang, amin-amin, sabar ya pang”. Sambil terus saya usapin lalu dia bertanya-tanya tentang kegiatan saya apa selama di Jakarta.

Sesudah sekian bulan saya sibuk dengan kuliah saya. Dan mendengar kalau Lapang sudah divonis gagal ginjal dan harus rutin cuci darah, saya tidak tahu lagi kabarnya. Baru kemudian, Bu kyai Hasan cerita kalau Lapang pernah konsultasi ke mbak Sekar di Cirendeu untuk pengobatan alternatif, dimana para keluarga pondok juga berobat disitu. Kemudian dia tidak jadi berobat karena masalah finansial. Bu kyai Hasan tetap menganjurkannya untuk berobat, masalah biaya nanti insyaAllah ada yang bantu, yang penting berusaha jangan pasrah. Singkatnya, ia bersama istrinya dan anaknya lalu pindah di dekat prakteknya Mbak Sekar. Untuk dapat berobat setiap mbak Sekar buka praktek. Saya sendiri sebagai pasien untuk sementara off, mengingat membludaknya pasien yang datang dari keluarga gontor dan dari Madura, di samping juga saya sedang buanyak tugas dan ujian di kampus. Jika saya dapat menyempatkan sekali datang waktu itu ke mbak Sekar, barangkali saya bisa ketemu Lapang lagi. Tapi saya baru ceritanya setelah beliau almarhum.

Dirawat tiga hari, alhamdulillah perut dapat kempes. Untuk membuat kempes, kabarnya mbak Sekar sampai mengeluarkan energi yang banyak. Memang mbak sekar berusaha sedapat mungkin mengerahkan energinya untuk kesembuhan Lapang. Terbukti efektif. Perutnya bisa kempes dalam tiga hari. Pihak medis rumah sakit di Halim, dimana ia sering cuci darah juga kaget, kok bisa kempes, “didoain ya bu?” tanya seorang medis ke istrinya. “ya” jawabnya singkat. Namun entah karena banyaknya pasien yang datang entah dari keluarga Gontor, dari Madura, dan sekitar jabotabek, atau karena energi yang banyak terkuras untuk Lapang, mbak Sekar jatuh sakit. Ya tenaga manusia bagaimanapun juga ada batasnya. Sempat tiga hari atau berapa hari off, tidak praktek yang membuat M. Lapang juga tidak ditangani. Selama menunggu itu, ia terus berusaha mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh mbak Sekar.


Selasa sore (17/4/2007) pukul 16.00 menurut salah satu teman yang ikut menjaganya, kelihatan Lapang masih biasa dan sadar. Tapi menjelang pukul 17.00 keadaannya mulai drop, nafasnya sudah sampai tenggorokan saja, katanya. Lalu mbak Darma, istrinya berlari ke tempat Bu Hasan yang juga ngekos di gedung sebelahnya. Sambil nangis, menanyakan bagaimana solusinya? Bu Hasan pun menuju lokasi dan minta didatangkan taksi. Lalu dibawa sama temannya yang jagain tadi ke rumah sakit, biar cepat diambil tindakan medis, jangan nunggu mbak Sekar. Kemudian ditemani oleh seorang teman yang jaga tadi dilarikan ke RS Fatmawati. Sedangkan istrinya tinggal di tempat untuk mencari mbak Sekar, untuk konsultasi dan apa-apa sarannya tentang keadaan suaminya yang kritis. Dengan bantuan tetangga yang tahu rumahnya, mbak Darma sampai ke rumahnya mbak Sekar, tapi menurut tetangganya ia baru saja pergi entah kemana.

Di RS. Fatmawati lalu Akrimul dari Majalah Gontor dipanggil untuk membantu urusan-urusan bersangkutan dengan Lapang. Menurut keterangan Rumah sakit (cerita dari Ust. Akrim) bahwa yang bersangkutan harus masuk penanganan High Care sedangkan ruang untuk High Care di rumah sakit saat itu sudah full. Untuk masuk ke UGD atau ICU sendiri, menurut kriteria, yang bersangkutan tidak bisa masuk. Entah disini saya kurang faham ceritanya kenapa tidak bisa masuk UGD. Namun Ust. Akrimul tetap mengomando teman-teman yang ada untuk mencari di mana rumah sakit yang High Care-nya masih ada tempat, coba di RS Pasar Rebo, barangkali masih ada. Meski Akrim sendiri pesimis waktu itu ketika memegang ujung jari-jari kakinya sudah dingin, sepertinya waktu itu adalah proses naza’-nya. Waktu itu pukul 19.30 malam lebih, menurut pak Akrim. Ibu dan istrinya diminta Ust. Akrim untuk tetap membimbing dan mentalqin Lapang untuk terus melafazkan kalimat Ilahi. Akhirnya, tepat pukul 20.40 saudara Muhammad Lapang menghembuskan napasnya yang terakhir. Inna lillahi wa Inna ilaihi Rajiun. Selamat jalan kawan, engkau bersama para salihin mendahului kami, dan kami akan menyusul kalian kelak, antum salaafuunaa wa nahnu bil atsari.

Allahummaghfir lahu war hamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu
Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfir lanaa wa lahu


Gandul, 20 April 2007 (Jum’at pukul 00.30)




Wednesday, April 11

Mengenai Kerangka Berfikir



  1. Boleh saja orang berusaha menjadi The First, tapi lebih baik jika menjadi The Best.

  2. Kelemahan Iman seseorang tidak boleh menghalalkan yang Haram.

  3. Urutannya "Saya Benar", kemudian "Saya Boleh" baru "Saya Mau" bukan sebaliknya : "Saya Mau" maka "Saya Boleh" dan oleh karenanya "Saya Benar" ini yang berbahaya! Rugi dan merugikan.

  4. Mengurusi orang waras saja capek ... , kok mengurusi orang gila!

  5. Toleransi kita pada sikon jangan merubah mental kepribadian (aqidah sibghoh).

  6. Siapa yang mengisi kekosongan dalam barisan dan dalam pembinaan ummat Islam? Dan Ummat Manusia? Bapak Pandu Islam itu Rasulullah - Sumber Pendidikan Kepramukaan.

  7. Jangan terpesona atau tertipu oleh apa yang menamakan dirinya Ilmiah atau "Penemuan Ilmiah".

  8. Dunia akal-akalan (Rekayasa) membuahkan Agama Rekayasa. Celakanya banyak manusia yang menciptakan "Rekayasa Agama".

  9. Dengan Teka-teki ini Ananda jangan menciptakan atau menjadi objek mangsa para makhluk-makhluk ambisius dunia.

  10. Kalau manusia itu laki-laki dan perempuan menjadi manusia beneran, maka hanya Islam-lah tempat yang tepat.

  11. Setiap manusia itu mempunyai bakat menonjolkan dirinya. cuma kadar atau volume dan hasilnya berbeda-beda, juga caranya, jalannya. HATI-HATI!

  12. Pandai-pandailah memilih mana yang Prinsip ananda. Jangan menjadi Insan "Mendinganistis".

  13. Dalam menghadapi masalah (kesulitan) jangan cuma hanya mencari "Siapa Pemicunya , siapa di balik masalah ini," tapi carilah apa pemicu dan penyebabnya. Mungkin anda sendiri .

  14. Sistem yang paling baik itu tidak ada, dan tidak akan ada.

  15. Setelah Nabi Muhammad SAW. tidak ada lagi Nabi, dan sekaligus tidak ada lagi manusia yang terbaik di Zaman ini.

  16. Carilah sektor apa saja yang perlu, boleh dan mau dilaksanakan dalam pembinaan umat.

  17. Perbedaan arti dan akibat antara tsiqoh dan ghurur, antara percaya pada kekuasaan dan perasaan lebih dari yang lain (sombong).

  18. Kalau ananda melihat sesuatu itu benar supaya dibantu, kalau salah supaya diingatkan.

  19. Jangan sampai kalau maju kita mengakuinya, kalau mundur kita cuci tangan.

    Gontor, Maret 2001
    KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Gontor)