Wednesday, April 11

Mengenai Kerangka Berfikir



  1. Boleh saja orang berusaha menjadi The First, tapi lebih baik jika menjadi The Best.

  2. Kelemahan Iman seseorang tidak boleh menghalalkan yang Haram.

  3. Urutannya "Saya Benar", kemudian "Saya Boleh" baru "Saya Mau" bukan sebaliknya : "Saya Mau" maka "Saya Boleh" dan oleh karenanya "Saya Benar" ini yang berbahaya! Rugi dan merugikan.

  4. Mengurusi orang waras saja capek ... , kok mengurusi orang gila!

  5. Toleransi kita pada sikon jangan merubah mental kepribadian (aqidah sibghoh).

  6. Siapa yang mengisi kekosongan dalam barisan dan dalam pembinaan ummat Islam? Dan Ummat Manusia? Bapak Pandu Islam itu Rasulullah - Sumber Pendidikan Kepramukaan.

  7. Jangan terpesona atau tertipu oleh apa yang menamakan dirinya Ilmiah atau "Penemuan Ilmiah".

  8. Dunia akal-akalan (Rekayasa) membuahkan Agama Rekayasa. Celakanya banyak manusia yang menciptakan "Rekayasa Agama".

  9. Dengan Teka-teki ini Ananda jangan menciptakan atau menjadi objek mangsa para makhluk-makhluk ambisius dunia.

  10. Kalau manusia itu laki-laki dan perempuan menjadi manusia beneran, maka hanya Islam-lah tempat yang tepat.

  11. Setiap manusia itu mempunyai bakat menonjolkan dirinya. cuma kadar atau volume dan hasilnya berbeda-beda, juga caranya, jalannya. HATI-HATI!

  12. Pandai-pandailah memilih mana yang Prinsip ananda. Jangan menjadi Insan "Mendinganistis".

  13. Dalam menghadapi masalah (kesulitan) jangan cuma hanya mencari "Siapa Pemicunya , siapa di balik masalah ini," tapi carilah apa pemicu dan penyebabnya. Mungkin anda sendiri .

  14. Sistem yang paling baik itu tidak ada, dan tidak akan ada.

  15. Setelah Nabi Muhammad SAW. tidak ada lagi Nabi, dan sekaligus tidak ada lagi manusia yang terbaik di Zaman ini.

  16. Carilah sektor apa saja yang perlu, boleh dan mau dilaksanakan dalam pembinaan umat.

  17. Perbedaan arti dan akibat antara tsiqoh dan ghurur, antara percaya pada kekuasaan dan perasaan lebih dari yang lain (sombong).

  18. Kalau ananda melihat sesuatu itu benar supaya dibantu, kalau salah supaya diingatkan.

  19. Jangan sampai kalau maju kita mengakuinya, kalau mundur kita cuci tangan.

    Gontor, Maret 2001
    KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Gontor)


No comments: