Mengenai Kerangka Berfikir

- Boleh saja orang berusaha menjadi The First, tapi lebih baik jika menjadi The Best.
- Kelemahan Iman seseorang tidak boleh menghalalkan yang Haram.
- Urutannya "Saya Benar", kemudian "Saya Boleh" baru "Saya Mau" bukan sebaliknya : "Saya Mau" maka "Saya Boleh" dan oleh karenanya "Saya Benar" ini yang berbahaya! Rugi dan merugikan.
- Mengurusi orang waras saja capek ... , kok mengurusi orang gila!
- Toleransi kita pada sikon jangan merubah mental kepribadian (aqidah – sibghoh).
- Siapa yang mengisi kekosongan dalam barisan dan dalam pembinaan ummat Islam? Dan Ummat Manusia? Bapak Pandu Islam itu Rasulullah - Sumber Pendidikan Kepramukaan.
- Jangan terpesona atau tertipu oleh apa yang menamakan dirinya Ilmiah atau "Penemuan Ilmiah".
- Dunia akal-akalan (Rekayasa) membuahkan Agama Rekayasa. Celakanya banyak manusia yang menciptakan "Rekayasa Agama".
- Dengan Teka-teki ini Ananda jangan menciptakan atau menjadi objek mangsa para makhluk-makhluk ambisius dunia.
- Kalau manusia itu laki-laki dan perempuan menjadi manusia beneran, maka hanya Islam-lah tempat yang tepat.
- Setiap manusia itu mempunyai bakat menonjolkan dirinya. cuma kadar atau volume dan hasilnya berbeda-beda, juga caranya, jalannya. HATI-HATI!
- Pandai-pandailah memilih mana yang Prinsip ananda. Jangan menjadi Insan "Mendinganistis".
- Dalam menghadapi masalah (kesulitan) jangan cuma hanya mencari "Siapa Pemicunya , siapa di balik masalah ini," tapi carilah apa pemicu dan penyebabnya. Mungkin anda sendiri .
- Sistem yang paling baik itu tidak ada, dan tidak akan ada.
- Setelah Nabi Muhammad SAW. tidak ada lagi Nabi, dan sekaligus tidak ada lagi manusia yang terbaik di Zaman ini.
- Carilah sektor apa saja yang perlu, boleh dan mau dilaksanakan dalam pembinaan umat.
- Perbedaan arti dan akibat antara tsiqoh dan ghurur, antara percaya pada kekuasaan dan perasaan lebih dari yang lain (sombong).
- Kalau ananda melihat sesuatu itu benar supaya dibantu, kalau salah supaya diingatkan.
- Jangan sampai kalau maju kita mengakuinya, kalau mundur kita cuci tangan.
Gontor, Maret 2001
KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Gontor)
No comments:
Post a Comment