Wednesday, April 11

Hubungan Orangtua - Remaja, review sebuah buku


Pernak-pernik Hubungan Orangtua – Remaja
Anak “Bertingkah” Orangtua Mengekang
Oleh Sawitri Supardi Sadarjoen
Penerbit Buku Kompas, 2005

Berbagai persoalan remaja dan hubungannya dengan orangtua merupakan bahasan pokok dalam buku ini. Masa remaja yang dikategorikan dengan batasan umur antara 14/15 tahun sampai 19/21 tahun adalah masa dimana remaja berusaha mencari identitas dan jatidirinya. Dalam proses ini banyak remaja yang menemui kegagalan. Mereka terlalu matang dalam fisik padahal psikisnya belum siap. Disamping itu kultur keluarga tidak menunjukkan sama sekali perhatiannya, misalkan jika kedua orangtuanya adalah pekerja yang pergi pagi pulang malam.

Posisi remaja yang dependen (masih tergantung) pada orangtua berimplikasi pada tanggungjawabnya pada aturan orangtua di rumah, kewajiban belajar di sekolah dan aneka kegiatan lainnya yang difasilitasi orangtuanya. Namun di sisi lain kebutuhan otonomi untuk memecahkan kebuntuan, kebosanan, kejemuan, kesendirian mengakibatkan banyak aturan yang dilanggar. Orangtua menganggap anak selalu melawan, sedangkan anak menganggap orangtua terlalu mengekang. Akibatnya banyak perilaku remaja yang nekat dan diluar batas kewajaran, ini sebagai akibat dari pelampiasan dari rasa pemberontakan dalam dirinya.

Dalam pemaparan konsep-konsep hubungan yang terjadi antara orangtua dan anaknya, penulis berangkat dari kasus. Berbagai macam kasus yang ditanganinya, ia tulis di rubrik psikologi tiap hari Minggu di Koran Kompas. Kasus-kasus yang diceritakan dan analisa komprehensif baik secara psikologis maupun sosial memberi pembelajaran (lesson learned) terhadap proses perkembangan anak dan proses pendewasaan orangtua.

Di antara poin yang sekiranya penting, adalah sebagai berikut;
1. Anak-anak penderita gagap, biasa ditandai oleh pengulangan spasmodik, hendaknya dihindarkan dari situasi lingkungan yang menekan. Hindari hukuman fisik, berikan dukungan dengan kelembutan emosional agar anak tenang (Hal. 19).


2. Rasa kesepian anak adalah penyebab utama anak terpaku pada kenikmatan erotisme yang diperoleh melalui stimulasi internal ataupun eksternal terhadap zona erotis tertentu pada organ tubuhnya, seperti mengisap jempol, melakukan gerakan bibir sambil meraba/memegang benda tertentu seperti ujung selimut, atau menggesekkan alat genitalnya pada guling tertentu yang dikempit di antara selangkangannya (Hal 24).


3. Kebutuhan personal remaja untuk mengikuti aturan cenderung menurun di lain pihak kecenderungan untuk otonom sangat tinggi, berimplikasi pada kebutuhan afiliatif, kebutuhan seksual tinggi, kebutuhan agresivitas tinggi, kebutuhan untuk tampil beda atau pamer, semua kebutuhan tersebut cerminan dari perilaku “semau gue” tanpa perencanaan (Hal. 50).


4. Percepatan perkembangan fisik ditandai dengan pematangan fungsi genital, remaja sadar akan kebutuhan erotisme dan seksual. Pada masa ini adalah awal perkembangan fantasi romantisme, fantasi erotisme, dan fantasi seksual. Sering idola menjadi objek pelampiasan kebutuhan-kebutuhan tersebut (hal. 76). Efek globalisasi membuat remaja memiliki peluang luas untuk mengambangkan pilihan idolanya (hal. 77). Remaja rela melakukan apa saja demi idola (hal. 78). Bahkan sampai pingsan pun dijalani agar bisa salaman sama idolanya atau sekedar mendapat tanda tangan darinya.


5. Dalam masa proses pencarian identitas diri, remaja akan merasakan kekosongan batin, resah, gelisah. Untuk mengatasi kegelisahan dan keresahan ini tanpa mereka sadari membuat mereka mengembangkan fanatisme yang kuat tanpa batas terhadap idola (Hal 76).


6. Keinginan kuat untuk bebas dari kungkungan aturan, diikuti dengan tampilan perilaku keluar dari aturan baku, bahkan terkesan keinginan untuk menciptakan norma khusus yang berlaku bagi remaja (Hal 77)


7. Perkembangan fisik yang relatif cepat pada usia remaja membawa pengaruh terhadap kehidupan psikis remaja. Pada masa ini, remaja sering dilanda “penyakit” jenuh, malas (Hal 118)


8. Masa remaja adalah masa di mana seseorang berada dalam proses untuk memilih posisi moralnya, baik nilai-nilai yang dianut, arah minat yang dipilih, serta hal-hal yang tidak disukainya. Selain itu juga merupakan proses untuk memperoleh bayangan diri sebagai entitas seksual utuh yang tidak lagi meragukan dirinya (Hal. 159)


9. Kemampuan intelektual seseorang bukanlah jaminan bagi keberhasilan studinya. Masih banyak potensi mental lain yang berperan dalam optimasi fungsi intelektual (Hal 149). Seperti dikenal emotional quotient, spiritual quotient, atau mungkin kemampuan lainnya seperti dalam hal intuisi.


10. Pemantauan kemajuan studi hendaknya berdasarkan kejelasan aturan akademik tidak pada penekanan beban mental berlanjut sehubungan harapan/tuntutan orangtua yang terkadang melebihi batas kemampuan mental anak. Peran orangtua bagi keberhasilan anak tidak hanya menyangkut masalah fisik saja namun juga masalah relasi serta konsekwensi psikologik yang tidak sederhana (Hal 146).


11. Sikap protektif yang terlalu berlebihan bisa menjadi dasar minimnya rasa tanggungjawab pribadi dan disiplin diri pada anak (Hal 138).

Demikian beberapa point yang dapat dikemukakan. Bahwa peran orangtua di sini sangat besar terhadap kematangan dan kedewasaan bagi sang anak. Maka perlu pendewasaan diri orangtua dalam menghadapi berbagai kasus anak dan pergaulannya. Sikap represif dominatif atau sikap acuh atau cuek, keduanya sama sekali tidak tepat. Pendekatan secara partisipatif, untuk mau mendengar dan hadir di sampingnya, dan melihat aspek-aspek mental sosial anak secara moderat dan kritis. Akan lebih juga dibarengi dengan pendekatan spiritual yang selama ini jarang dilakukan di masyarakat perkotaan. Wallahua’lam

Gandul, 7 April 2007
Andi R. Arifianto

No comments: