Friday, May 2

Stadion Boeng Karnoe


Sabtu pagi, 12/4/2008, cuaca mendung dan agak gerimis. Matahari belum tampak sinarnya. Hari sudah beranjak siang. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, namun gerimis belum juga berhenti. Pagi itu saya ingin ikut kawan motret di stadion Bung Karno, Senayan. Kebetulan dia lagi dapat job untuk memotret siswa-siswi SMP Global di daerah Condet. Mereka rencana membuat agenda akhir tahun yang dihiasi foto-foto diri mereka. Semua foto-foto akan diambil di dalam stadion. Biar bernuansa olahraga. Ada-ada saja. Namanya juga anak remaja. Pokoknya pingin yang bisa dibilang sama lainnya, ”keren abiz”.

Kalau dibilang hobi, ini sudah melebihi hobi. Dunia photografi maybe sudah jadi pilihannya untuk mencari ”sesuap nasi dan segenggam berlian”. Malah, mulai akhir tahun kemarin dia sudah buka studio kecil-kecilan di jalan raya Kukusan Depok. Lumayan, banyak juga pelanggannya. Karena selain menyediakan jasa pemotretan, dia juga menyediakan layanan pembuatan kartu nama, kartu siswa, sampai pada usaha pre-weedding. Wah luar biasa yaaa. Memang hidup di dunia memang harus ulet dan berani. Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.


Jika bukan karena tugas. Mungkin kita semua pilih di studio saja. Masih banyak gawean yang belum selesai. Tapi karena sudah janji, mau tidak mau harus berangkat juga. Syukurnya cuaca tidak separah yang kita khawatirkan. Gerimis masih turun tapi lamat-lamat.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 namun belum juga berangkat. Menurut perjanjian sudah harus sampai di tempat pukul 09.00. Planning saya pagi itu mau ke kota. Tepatnya mau ke Pejompongan. Setelah itu akan mampir sebentar di kantor sebuah partai di jl. Diponegoro. Saya pun minta bareng berangkatnya karena satu arah. Saya ingin melihat dan masuk stadion. Bagi saya ini kesempatan pertama. Soalnya seringkali masuk daerah Senayan, paling yang dikunjungi adalah tennis indoor, dan balai sidang JCC Jakarta. Kali ini kesempatan untuk masuk stadion. Bravo, stadion gelora bung karno akhirnya aku masuki juga.


Setelah ngepak barang-barang keperluan yang akan dibawa. Kami berangkat dari studio pukul 08.15. Kami takut sampai tidak tepat waktu. Makanya di jalan kami pun ngebut. Keluarga Cilandak lalu mengambil jalan Mampang – Warung Buncit. Baru belok ke arah jalan Gatot Subroto. Setelah melewati Gedung DPR MPR baru kita belok ke kiri turun di jalan Sudirman. Melalui putaran Sudirman ambil balik arah lalu masuk Senayan. Syukur sekali hari itu Sabtu, jadi lalu lintas tidak begitu padat. Sampai di tempat pukul 09.05, terlambat lima menit. Langsung menuju pintu satu senayan. Ternyata yang jamnya karet adalah gurunya sendiri. Jadi, intinya kita tidak terlambat.


Pemandangan di Senayan tiap weekend selalu saja ramai. Tentu ada semacam acara atau pertunjukkan, untuk gerakan, atau promosi, atau sekedar pagelaran musik. Sebagian juga ada yang sengaja datang ke sana untuk berolahraga. Ada yang berkelompok, ada juga yang berdua, bahkan ada sekeluarga datang dengan mobil. Selain lari pagi memutari stadion, ada sebagian memakai sepatu roda dan bermain futsal. Di jalan masuk pintu satu ada sebuah acara kampanye “green forest” yang diadakan oleh FISIP UI bekerjasama dengan suatu LSM. Terdapat beberapa lapak-lapak, kemah-kemah berwarna putih yang didirikan sepanjang pintu masuk gelora. Mereka ingin mengkampanyekan penghijauan. Sudah banyak bencana yang terjadi karena ulah manusia sendiri. Termasuk juga polusi udara, konon Jakarta adalah kota yang polusinya tinggi selain Beijing Cina. Untuk keperluan itu, maka di pintu masuk ada camp terbuka untuk uji emisi gratis. Di sampingnya sebuah truk polisi siap membantu.


Setelah kawan kami kontak dengan koordinator dari sekolah global, mereka ternyata sudah masuk dan menunggu di pintu enam. Wah, sudah terlambat, merubah janji lagi. Memang dasar, paling susah orang untuk menepati janjinya. Akhirnya kami menuju ke sana, padahal kami sudah parkir motor di depan pintu satu. Cukup mahal juga parkir yang tidak ada lima menit itu. Kita harus bayar masing-masing mo
tor Rp 3000,-, diminta sewaktu parkir oleh seorang penjaga yang sepertinya preman dari Ambon.


Luas juga daerah Senayan. Patut b
angga, di tengah pusat kota masih ada arena bermain yang luas seperti ini. Tidak heran kalau pernah hak pengurusan senayan diperebutkan antara pemerintah kota yaitu DKI dengan Sekretariat Negara atas nama Negara atau pemerintah.
Di depan pintu enam ini baru diset sebuah panggung di tengah-tengah pagar pintu masuk. Sepanjang jalan masuk kanan kirinya dipasang lampu sorot setinggi 2 meter menghadap ke arah gelora. Acara apa ya. Tidak tahu, barangkali untuk dugem nanti malam. Setelah dapat informasi, kalau malam ini akan ada acara hiburan yang diselenggarakan sebuah perusahan motor. Biasa, sekalian promosi. Pantas. Kawan saya sudah bertemu dengan koordinator yang datang sendirian waktu itu. Sedangkan anak-anak yang datang baru 5-6 orang dari 23 orang rencana.

Sambil menunggu yang lainnya kami izin untuk sarapan dulu.
Jangan heran kalau kawasan se-elit Senayan ada pedagang kaki lima. Meskipun mayoritas pengunjung di situ berkelas tetap saja mereka menikmati hidangan dan menu PKL tadi. Berbagai menu dan hidangan tersaji disitu. Tapi juga jangan heran kalau harganya tidak wajar. Harganya bisa tiga sampai empat kali lipat harga normalnya. Bandingkan saja, pecel lontong yang kita beli saat itu seporsi harganya 7 ribu. Kalau saya beli di Ciputat harganya seporsi hanya 1.500 rupiah. Ahhh, nggak papa yang penting kenyang. Kurang lebih setengah jam kita sarapan. Pukul 10 lebih dikit teman saya dibel kalau siswa-siswi sudah pada berkumpul. Kami bergegas masuk stadion dari pintu VI, lewat kantor PB Percasi dan tembus dari bawah stadion. Ternyata pintu keluarnya tepat di bawah tempat duduk penonton stadion. Walah-walah ini tah yang namanya stadion Bung Karno. Stadion yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia sejak dulu. Luas dan megah. Jauh sekali bedanya dengan stadion-stadion di daerah yang pernah saya masuki; stadion kridosono, sriwedari, gajayana dan lain-lain. Selain lebih terawat, juga lebih mewah dan megah. Suatu saat nanti saya mau menyaksikan pertandingan di dalam stadion ini. Entah kapan. Kedua teman saya lalu mengeluarkan perlengkapan untuk memotret dari tas ranselnya. Sedangkan anak-anak diminta untuk ganti kostum dengan kostum sepakbola yang masing-masing sudah prepare sebelumnya.

Sambil menunggu siapnya mereka, kami pergunakan untuk foto-foto dulu. Wah lumayan bisa bergaya dengan bermacam-macam gaya. Tak terasa sudah pukul 11.00 siang. Saya lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Pejompongan.

Suatu pengalaman yang menarik.
Kukusan, 14 April 2008

Sunday, February 3

Catatan mengenai disiplin


Sudah seminggu ini saya berada di lapangan. Beberapa pengamatan dan interview juga sudah saya lakukan. Sebagian sudah saya tulis. Sebagian masih berupa rekaman. Namun untuk menyelesaikan tulisan sekaligus teramat sulit bagiku. Untuk lebih mengefisiensi kerja lapangan strategi saya adalah dengan cara mencicil tulisan. Terkadang jika badan lagi enak dan kondisi fit saya kejar untuk menulis apa saja yang sudah amati dan lakukan interview. Hasilnya, alhamdulillah, sedikit banyak sudah terselesaikan. Minggu ini saya mendapat data masukan penting dari interview bapak Pimpinan, KH. Abdullah Syukri.

Kegiatan yang terus menerus berjalan seperti mata rantai yang tiada ujung. Seorang pimpinan yang sudah meninggal, KH. Imam Badri, pernah berujar "al ma'hadu la yanaamu abadan" (pondok tidak pernah tidur). Artinya, pondok tidak pernah istirahat dari kegiatan. Satu selesai, sudah masuk ke kegiatan baru. "faidza faraghta fansob" (maka apabila kamu sudah selesai - mengerjakan sesuatu - maka gantilah dengan pekerjaan yang lain). Begitu pula yang diungkapkan oleh Direktur KMI, alm. Ust. Ali Sarkowi, melihat kegiatan santri yang begitu dinamis berkait dengan disiplin waktu, "a'maaluna aktsaru min auqootina" (tugas-tugas kita lebih banyak daripada waktu yang ada). Beliau melukiskan betapa banyak tugas dan pekerjaan santri sampai-sampai kapasitas waktu yang terbatas 24 jam sehari saja tidak cukup.

Dengan pertimbangan tersebut, saya pun tidak bisa terus menerus mengikuti seluruh kegiatan yang ada. Saya musti pandai-pandai memilih setiap momen yang lebih penting untuk diamati dan ditelusuri, khususnya yang bersangkutan dengan topik disiplin dan pendisiplinan. Hal-hal yang melukiskan bagaimana disiplin pondok dijalankan dan bagaimana perilaku disiplin santri. Tidak hanya terbatas santri saja. Guru dan beberapa pengurus juga saya amati.

Kembali ke lapangan, empirik, empirik. Begitulah pesan dosen untuk lebih memperkaya data dan mencatatnya secara sistematis melalu fieldnote. Sebagai seorang peneliti kamu harus mengungkapkan fakta apa adanya, seperti pesan Pak Afid sebelum turun ke lapangan. Pesan itu terus menerus terngiang setiap melihat beberapa realitas-realitas menarik di pesantren. Namun perasaan sebagai orang yang dulu pernah di dalam, bagi saya, beberapa realitas nampak seperti sudah sering saya lihat. Perasaan inilah yang perlu saya kikis sekuat mungkin untuk menghindari ketidakobjektifan dari penelitian ini. Saya sadar sepenuhnya justru di situlah letak keunikannya yang harus kamu ungkap. Bagi kamu itu suatu yang wajar, tapi bagi orang lain itu suatu hal yang baru, sebagaimana teman-teman di kampus mengingatkan saya.


Memang betul. Di sekolah mana siswanya yang susah payah membawa piring masuk kelas. Di sekolah mana yang dengan sengaja seorang anak memalsukan alat perizinan untuk tidak masuk kelas. Di sekolah mana seorang siswa level tingkat menengah/atas diberi tanggungjawab untuk mengatur dan mengasuh 250 anak secara lahir batin di dalam asrama. Akhirnya, di sekolah mana di Indonesia yang menerapkan disiplin secara komprehensif berdasarkan nilai-nilai, visi misi dan motivasi yang benar. Motivasi pendidikan yang dimaksudkan adalah kemasyarakatan. Sehingga anak-anak diberi bekal bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga ketrampilan, pengalaman, moral dan spiritual. Dengan begitu siswa akan berdisiplin dengan memahami aturan-aturan dan setiap kebijakan yang diberikan atas mereka. Semua dalam rangka untuk melatih, untuk mendidik.


Sadar berdisiplin. Itulah tujuan dari disiplin yang diterapkan dengan ketat. Tidaklah sama sekali bermakna dengan kekerasan. Sebab untuk mendidik disiplin itu butuh pemaksaan. Pemaksaan di sini adalah latihan bukan kekerasan. Sebagaimana beberapa penelitian di lapangan sebelumnya (syukur: 1979) bahwa secara psikologis, sosial maupun kualitas ibadah, disiplin tidak menjadi penghalang atau troublemaker bagi santri dalam meraih prestasi akademiknya. Justru menjadi proses penyadaran santri terhadap misi pendidikan di Gontor yaitu untuk mendidik pemimpin-pemimpin, tidak cuma sebatas mendidik anak menjadi baik. Suatu cita-cita mulai sebagai wujud dari kaderisasi umat.

Maka, proses pimpin memimpin terjadi sejak dia masuk pondok. Baik dari skala kecil, dari menjadi ketua kamar, atau ketua kelas, sampai ke skala besar nanti di organisasi saat kelas lima atau enam. Motonya adalah "siap memimpin dan siap dipimpin, patah satu tumbuh seribu". Artinya, seorang pemimpin juga ikut belajar dengan kedudukannya dan tidak berlaku lagi kepemimpinan dengan gaya feodal (minta dilayani). Seorang pemimpin harus menguasai masalah segenap seluk beluk yang dipimpinannya. Dengan segala kelemahan dan kekurangannya dia harus berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan dirinya dengan kepemimpinannya. Sehingga suatu saat dia juga siap dipimpin oleh orang lain. Dengan itu dia bisa introspeksi diri.

Saat memasuki kampus Gontor terpampang tulisan di atas tembok sebuah gedung yang menghadap ke jalan "Ke Gontor Apa yang Kau Cari". Niat dan motivasinya apa kamu masuk pondok. Disuruh atau dipaksa orangtua, atau karena kamu nakal di luar bagi kamu pondok bisa mengobati kenakalanmu, atau memang murni ingin mendapat pendidikan dan pengajaran di pondok. Saat seorang santri didaftarkan ke pondok, orangtuanya juga diharuskan bersedia mengisi surat pernyataan yang isinya menyerahkan secara bulat-bulat kepada pondok dan rela segala kebijakan yang akan diterima siswa dari bapak pengasuh. Begitulah, untuk melihat menilai secara objektif fenomena berdisiplin dan pendisiplinan di pondok tidak bisa terlepas dari kedua hal tadi, motivasi dan niat, dari masing-masing siswa.


Sunnah atau disiplin di pondok akan terasa berat dilakukan tanpa suatu idealisme yang kuat. Idealisme seorang santri di pondok modern berasal dari nilai-nilai filosofis serta nilai-nilai Islam yang universal. Bagi yang insyaf dan sadar akan merasa ringan dan sudah biasa. Namun bagi yang hanya pragmatis dan formalis saja, akan terasa berat. "Sebesar keinsyafaanmu sebesar itu pula keuntunganmu", "Hanya orang yang pentinglah yang tahu akan sebuah kepentingan".


Dalam setiap kesempatan, pengasuh dan segenap pembantu-pembantunya melakukan pengarahan dan bimbingan terus menerus. Untuk memahamkan terhadap nilai-nilai dan tujuan berdisiplin tersebut. Bahkan setiap bagian sudah punya standar operasional disiplin, baik tertulis maupun tidak. Standar tersebut juga tidak terlalu mutlak sebab tiap kali bisa berubah. Hanya yang tidak berubah adalah nilai, sistem dan jiwanya yang menjadi dasar dari disiplin tersebut. Begitu hukuman yang berlaku pada setiap sanksi disiplin santri. Sejak berdirinya sampai saat ini, kebijakan hukuman terus menerus berubah. Namun dalam mendisiplinkan santri, hal penting yang perlu diketahui adalah, bahwa ukurannya adalah dlomir (hati kecil).

Meskipun demikian, masih banyak santri yang berdisiplin secara formalis pragmatis. Artinya, mereka cuma menjalankan rutinitas di pondok secara terpaksa. Oleh sebab banyaknya paksaan-paksaan sebagai sarana latihan. Berbeda sekali dengan apa yang pernah ia lihat pada suatu sekolah unggulan di daerahnya. Beberapa siswa yang kurang mampu hasil seleksi secara ketat tersebut sangat berdisiplin tanpa perlu paksaan. Sehingga, banyak santri yang mbruwah (lepas kendali) saat ia keluar dari pondok saat liburan atau pulang. Namun di lain pihak, seorang wali santri dari Surabaya mengatakan bahwa ia cocok dengan pendidikan pesantren di Gontor. Sebab, dengan mata kepala sendiri, ia melihat bagaimana pendidikan di pesantren-pesantren yang notabene dikatakan modern bebas tanpa aturan. Sehingga arah tujuan mendidik siswanya juga tidak jelas. Suatu hal yang ia syukuri, meskipun anaknya baru kelas II namun sudah berubah menjadi lebih baik dan berdisiplin di rumah serta kadang-kadang diberi kesempatan untuk mengisi pengajian.


Kembali lagi ke masalah motivasi dan niat. Sudah benarkah motivasinya? Sudah benarkah niatnya? Sebab, pondok dengan sistem dan nilai yang bertahan selama hampir seabad ini telah terbukti menjadi suatu alternatif pendidikan modern yang jitu. Modern dalam arti, berpandangan ke depan, tanpa meninggalkan karakteristik lokal yang kaya dengan potensi dan penuh daya. Ke depan pendidikan ala Gontor semacam bisa melahirkan produktivitas dalam membentuk kader-kader ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama.

Penyakit Itu Bernama Kekosongan


Penyakit Itu Bernama Kekosongan
(Sumber ma’siat, bencana, malapetaka, kerusakan)


Dewasa ini semakin banyak orang yang melakukan hal yang sia-sia dan banyak kekosongan yang dilakukannya. Ada yang berusaha memperbaiki kerusakan, ada pula yang buru-buru mengisi kekosongan dengan kekosongan baru, ibarat membersihkan kotoran dengan sapu kotor. “Semakin rumit teka teki dijawab”, kata orang bijak.


Penyakit kekosongan itu diantaranya; berasaan kemanusiaan, Ajaran agama, Kegiatan positif, Kemasyarakatan. Bagaimana bisa demikian, lalu.... (bagaimana selanjutnya), Why…? Then…?

Apalagi bila millieu dan nasib membantu kekosongan waktu dan pengangguran kerja, maka yang paling duluan dipengaruhi menjadi objek dan korban adalah anak-anak muda. Musuh kemanusiaan sibuk merusak, mengaku membangun. Merusak orang lain membangun diri sendiri. Menyusahkan orang lain mengenakkan diri sendiri. Menyalahkan orang lain membenarkan diri sendiri. Menyelakakan atau menyengsarakan orang, ia menyelamatkan diri sendiri. Orang rusak dan perusak dunia tetap akan bergerak, beraksi dengan motif, semboyan “Bagaimana caranya agar aku, keluargaku, golonganku, aku – aku yang lainnya enak meskipun pihak lain sengsara”. Karena kekosongan.

Maka ingatlah "Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, saling nasehat menasehati dalam hal kebenaran dan nasehat menasehat dalam hal kesabaran" (Surah al 'Ashr). Bagaimana bila menyikapinya dengan putus asa, alih profesi (hijroh) atau menonaktifkan potensinya? Putus asa/hijrah profesi positif adalah hak setiap orang, sedangkan putus asa lari dari tanggung jawab apalagi membunuh masa depan dengan kekosongan atau bunuh diri adalah kekerdilan dan sikap protes terhadap takdir. Ingkar kekuasaan, kekuatan Sang Pencipta Allah SWT. Tidak menghasilkan apa-apa dan tidak menguntungkan siapa-siapa, dan Allah mengkategorikannya sebagai Kafir.

Rusak dan kerusaan akibat penyakit bernama "Kekosongan" diantaranya; Kekosongan perasaan kemanusiaan, mengakibatkan timbulnya banyak tindak kejahatan; Kekosongan ajaran agama, akhirnya membuat agama–agama baru yang tidak ada landasan syariat tapi berlandaskan nafsu dan kepentingan pribadi dan golongan; Kekosongan kegiatan positifmenarik, diganti dengan kegiatan yang merusak, maksiat, dan tidak bermanfaat; Kekosongan jiwa kemasyarakatan, menjadi kurangnya 'kepedulian terhadap sesama dan lingkungan, rusaknya pergaulan dan ekosistem lingkungan; Kekosongan harapan,cita-cita yang bermotif, mudah dimasuki anasir-anasir distruktif.
Bila ada trik-trik pada sebuah usaha membentuk organisasi dan apa saja, janganlah dijadikan arena/kesempatan saling salah menyalahkan situasi akibat kekosongan “massal”, tetapi pelajarilah prestasi, motivasi, tujuan, dan semberdaya manusianya terlebih dahulu.

Sebab-sebab terjadinya/timbulnya organisasi pergerakan dan sebagainya itu relatif dan sekupnya beragam. Diantaranya;

1. Kekosongan beberapa unsur dalam masyarakat dan menimbulkan kepincangan-kepincangan. 2. Kebodohan akan hak-hak yang terambil oleh pihak lain.
3. Kepicikan dan kelemahan da'i.
4. Ketergesa-gesaan, keterburu-buruan.
5. Memburu keduniaan.

Syi’ar Islam tanpa tegaknya syari’at hanya kekosongan dan keropos (ajwaf, jaufa' dlm bhs Arab). Syari’at tanpa syi’ar terasa kering dan kaku (Jaaf). Kekosongan dalam kehidupan Islami harus diisi!. Kalau tidak syetan-syetan yang akan mengisi, dan manusia menjadi budak-budaknya. Na’udzubillaah!

Anak-anak kita sekarang terbagi menjadi dua, pertama; disibukkan oleh sesuatu yang seharusnya tidak menyibukkan, tertarik asyik dengan hal-hal maksiat atau kegiatan yang tidak perlu disibukkan atau diasyikkan. Yang kedua; tidak pandai, tidak cakap dan tidak benar dalam mengisi kekosongan.
Pandai-pandailah menghemat waktu, uang tenaga/kesehatan untuk hal-hal yang berguna. Jangan memanjakan kekosongan.

Gontor. Kamis, 31 Januari 2008

Monday, January 28

Penelitian ke pondok


Betapa syukurnya aku bisa memulai kegiatan penelitianku. Tempat yang jadi objek kajian saya tak lain adalah almameter saya dulu, Gontor. Lengkapnya Pondok Modern Darussalam Gontor. Gontor sekarang dengan 3-4 tahun yang lalu sudah banyak berubah. Tentunya perubahan menjadi lebih baik dan maju lagi. Baik dari segi manajemen dan sistemnya. Begitu cepat perkembangan yang terjadi sampai akhir tahun 2007 ini. Khusus di tahun 2007 saja berdiri 4 cabang pondok di tempat-tempat yang berbeda, di Aceh, Kediri, Lampung dan Poso. Untuk yang terakhir belum selesai betul pembangunannya.

Berangkat dari rumah ke tempat penelitian tanggal 22 Januari 2008, namun baru tanggal 24 sampai di Gontor. Sebelumnya mampir dan menginap di Gontor Putri di Mantingan. Dengan mengendarai sepeda motor saya menempuh perjalanan. Alhamdulillah dalam perjalanan, lancar-lancar saja. Rencananya siang itu ketemuan dengan seorang kawan dari Surabaya di Mantingan. Baru kemudian ta'ziyah ke Klaten, tempat almarhumah Ny. Kastiani, istri Ust. Hidayat Nur Wahid akan dimakamkan. Oleh karena kedatangan teman agak siang, setengah dua belas, maka rencana itupun batal.


Keesokan harinya saya pun ke Gontor. Menempuh perjalanan dari dalam rute Walikukun - Magetan - Parang lalu tembus Ponorogo. Lumayan jauh juga jalannya.Yang penting tidak terlalu panas dan tidak bersimpangan dengan mobil-mobil berbodi besar. Rute yang saya tempuh memang melewati hutan dan perbukitan. Satu rute dengan perjalanan yang akan menuju Telaga Sarangan Magetan, tapi lain arah tujuan.


Tiba di Gontor saya langsung menuju kantor sekretaris. Siang itu panas banget. Saking gerah dan panasnya, saat itu turun hujan tapi kondisi langit lagi terang. Hanya sebagian yang tertutup awan. Batal pula rencanaku untuk langsung bersilaturrahim ke rumah bapak Pimpinan, KH. Abdullah Syukri di rumah barat kampus. Baru selesai magrib saya dapat berjumpa di kantor Pimpinan. Pertanyaan pertama beliau menanyakan posisi saya sekarang di mana dan sedang apa. Pertanyaan selanjutnya menanggapi tentang rencana penelitian saya, tentang apa yang diteliti dan mana proposalnya.


Hari ini memasuki hari ke 6 saya penelitian. Berbagai macam data dari observasi, wawancara dan dari beberapa dokumentasi telah saya kumpulkan, termasuk wawancara dengan salah satu Pimpinan Pondok. Yang paling melelahkan adalah menulis hasil observasi. Dalam ilmu kita, antropologi, itu dinamakan penulisan fieldnote atau catatan lapangan. Sepertinya ini juga menjadi fokus saya juga. Mengingat bukan hanya thesis yang dibuat dan diserahkan waktu mau ujian nanti, tapi juga catatan lapangan harus diserahkan.


Wahhh..wahhh sampai sini dulu, ntar nyambung. Masih banyak yang perlu diceritakan. Mybe, mau buat laporan mengenai penelitian ini buat pembimbing thesis.

Merayakan Ultah Ibu


Tanggal 19 Januari adalah kelahiran ibuku. Sabtu itu, tepat 56 tahun yang lalu beliau dilahirkan. Di usianya yang sudah berkepala lima ini masih saja beliau bertugas layaknya masih berumur 40 tahunan. Beginilah seorang yang mencintai tugas dan amanah profesi yang lagi disandangnya. Sejak dua tahun yang lalu beliau diangkat menjadi penilik sekolah atau supervisor untuk sekolah-sekolah dasar di kecamatan Tegowanu, 15 Km dari rumah. Jika bolak balik rumah dan kantor menempuh jarak kurang lebih 30 km, belum lagi kalau harus keliling.

Medan dan keadaan jalan, kondisi motor dan badan, setiap saat menjadi perhatiannya. Terkadang jika capek, ngaso lebih dahulu di tempat kakak nomor dua yang rumahnya dekat kantor. Baru sore hari pulang ke rumah. Begitulah rutinitas harian. Alhamdulillah tahun ini beliau mendapat motor dinas. Sepertinya tambah semakin semangat. Meski saat saya di rumah, ia mengeluh kecapean sehabis kemarin ke yogya lalu esoknya berangkat rapat ke kabupaten.

Sabtu malam itu, rencana anak-anak untuk memberi surprise ultah ke beliau. Alhamdulillah saat itu semua bisa berkumpul. Termasuk saya yang sering absen pada saat acara-acara keluarga di rumah. Maklum Jakarta - Semarang tidaklah dekat. Sebelumnya juga posisi di pondok Gontor yang tidak mudah meninggalkan tugas dan aktivitas.


Masing-masing memberi hadiah (present). Kakak pertama, Tyas
Arifianti, memberi sebuah kado berisikan dompet cantik. Kakak kedua, Dwi Sulistyaningsih, mengasih aneka aksesoris. Saya sendiri yang ketiga, memberi kado berisi buku file yang terbungkus dengan kain sutra ditambah kain halus. Sedangkan adik, Dodik Arif Kurniawan, memberi lebih surprise lagi HP Nokia N70. Wah senang sekali hati ibu saat itu, begitu juga bapak yang telah membuka acara tersebut dengan wejangannya.

Acara dimulai dengan peniupan lilin diiringi lagu selamat ulang tahun. Lalu kue dipotong dan dibagi. Selanjutnya, pembukaan kado-kado. Setelah itu baru makan-makan yang sudah disiapkan oleh kakak pertama, sebab acara berlangsung di rumah lama yang sekarang dipakai tempat klinik kakak pertama. Terakhir, acara ditutup dengan pengajian yang diisi oleh suami kakak pertama, Mas Haris Budiatna.


Selamat Ulang Tahun Ibuku tercinta, semoga panjang umur, bermanfaat dan sehat selalu. Dan jangan lupakan doakan anak-anakmu berhasil di dunia dan akhirat. Saleh dan salehat bisa mendoakan kedua orangtuanya. Karena doa ibu akan didengar dan dikabulkan oleh Allah SWT.
Amin Ya Rabbal 'alamin

Monday, January 7

Menyongsong tahun baru hijriah




Malam selasa, 7/1/2008, saya hendak menemui kawan di Pancoran. Di antara jalan Kalibata - Pancoran saya menyaksikan kerumunan massa berbaju putih. Semuanya terkonsenstrasi di sebuah Masjid yang terletak tepat di depan pertigaan Perdatam. Keramaian tersebut tak pelak mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Selain konsentrasi massa terlihat juga banyak motor-motor yang diparkir di bahu-bahu jalan. Sehingga memakan sebagian jalan yang dipakai untuk jalur umum. Meskipun demikian banyak petugas yang juga berbaju seperti jubah putih ikut menertibkan lalu lintas sepanjang lokasi acara yang bersentuhan langsung dengan jalan raya.

Suatu pemandangan yang lazim terjadi. Jika telah selesai lebaran Haji - sebutan untuk idul adha - maka umat Islam bersiap menyongsong datangnya pergantian tahun hijriah. Tahun ini kebetulan datang tahun baru Islam berdempetan dengan tahun baru umum. Selisihnya hanya 10 hari. Umat Islam ramai-ramai menggelar pengajian. Bahkan ada sebagian partai politik atau kelompok tertentu menggunakan kesempatan tersebut untuk konsolidasi kelompoknya.

Kalender hijriah yang berlaku di Islam berbeda dengan kalender syamsiah pada umumnya. Hitungan kalender hijriah berdasarkan peredaran bulan, sedangkan kalender syamsiah berdasarkan matahari. Jika dalam satu hitungan kalender syamsiyah, sebagaimana dalam ilmu pengetahuan alam menyebutkan, berjumlah 365 hari. Namun hitungan hijriah bisa kurang dari itu. Biasanya umat Islam lebih berpatokan dengan kalender hijriah ini dalam menentukan hari-hari besarnya. Metode yang dipakai bisa dengan rukyat maupun hisab.

Sebenarnya merayakan tahun baru Islam bukanlah tradisi Islam yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad SAW. Peringatan serupa berawal dari tradisi yang dibuat oleh Salahudin al Ayoubi. Ketika umat Islam saat itu bertempur melawan serangan kaum salib Nasrani. Perayaan dengan tujuan untuk membangkitkan semangat dan jihad para muslimin yang terlibat dalam pertempuran tersebut ternyata berhasil. Pasukan muslimin mampu menangkis dan balik memukul mundur tentara salib.

Kalender hijriah mula-mula digagas semasa pemerintahan khalifah Umar bin Khattab dengan berpatokan pada saat hijrahnya Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Sedangkan, sebelumnya, umat Islam masih menggunakan kalender dengan patokan matahari, bulan dan bintang secara manual. Kemudian ketrampilan dalam menghitung kalender dan melihat arah mata angin tersebut disebut dengan ilmu falak.

Suatu pemandangan yang paradoksal. Dimana ada dua tradisi berbeda. Tradisi dalam merayakan dua tahun baru. Tahun baru Islam dan tahun baru pada umumnya. Yang saya saksikan di malam tahun baru melalui layar kaca seminggu yang lalu sangatlah fantastis, mewah dan boros. Di beberapa pusat kota dibuat semacam acara meriah dengan dana yang jutaan sampai miliaran. Di saat saudara-saudara lainnya sesama indonesian mengalami beberapa musibah.
Sedangkan di kota yang sama. Perayaan tahun baru bagi umat Islam berlangsung dengan khidmat. Tidak ada yel-yel maupun pekikan terompet. Pesta kembang api pun juga tidak kelihatan. Mereka melangsungkan perayaan dengan pengajian bersama sambil berintrospeksi diri dan berdzikir kepada Tuhannya. Sebagai tanda syukur atas nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya.

Namun apakah tradisi seperti ini berlaku bagi seluruh muslimin di Indonesia. Menurut saya, tradisi ini belum merata di seluruh Indonesia. Tradisi untuk turun semua dalam satu acara, satu warna, satu misi, belum bisa terwujud. Keragaman umat Islam sendiri yang menjadi penyebabnya. Sehingga sosialisasi untuk memuliakan tradisi-tradisi Islam untuk meningkatkan rasa kebersamaan masih jauh rasanya. Meskipun begitu, pada akhir dekade 90-an telah banyak momentum yang diselenggarakan untuk maksud tersebut. Walau masih berskala kecil, namun ini juga berarti untuk lebih memberi corak generasi muslim Indonesia selanjutnya. Selamat Tahun Hijriah 1430.

Pancoran, 8/1/2008

Ba'da Subuh

Ke Mantingan - Gontor pas banjir



Senin, 24/12/07


Cuaca siang hari itu tidak terlalu panas. Malah awan sudah ditutup oleh mendung tipis. Cahaya mentari pun seperti ada yang menutupi. Sungguh waktu yang tepat untuk menikmati pemandangan gunung. Maklumlah Sarangan adalah sebuah telaga yang terletak di daerah pegunungan. Termasuk dalam wilayah Magetan.


Ada berbagai alternatif jalan menuju Sarangan. Kalau dari arah Solo atau Mantingan, kita bisa lewat ngawi atau Maospati. Tapi kita lebih memilih jalan pintas lewat Ngrambe atau Walikukun. Meski jalannya tidak seluas jalan Ngawi - Maospati, namun suasana dan pemandangannya lebih menjadi daya tarik tersendiri. Selain itu, jalan yang akan kita tempuh ternyata lebih singkat.

Pemandangan di telaga Sarangan tidak berubah. Kalau saya hitung, saya sudah hampir sepuluh kali datang ke tempat ini. Hanya saja, sekarang jalan kanan kiri telaga sudah dipadati oleh pedagang kaki lima. Jadi, untuk mengitari telaga dengan mobil kita harus bersabar. Sebab, selain mobil masih ada kendaraan lain yang ikut meramaikan lalu lintas di samping telaga yaitu para pengendara kuda dan sepeda motor.


Setelah mencari tempat yang aman dan sejuk. Kita buka bekal. Acaranya adalah makan siang. Meski waktunya sudah tidak siang lagi. Berbagai jenis masakan dari daging-dagingan hasil pemberian dari ied kurban kita bawa. Ada yang sudah berbentuk rendang, oseng-oseng hati dan ada juga yang digoreng. Untuk menghangatkan dinginnya udara yang menghantam tubuh kita, kita pesan wedang ronde. wuah mantap segerrrrrrrrrrrr.


Ba'da Ashar kita buru-buru pulang. Sebab ust. Fairus diminta gantikan ust Hidayatullah menjadi imam salat Magrib. Dalam peraturan ma'had, seorang ustadz yang belum berkeluarga belum diperbolehkan menjadi Imam. Kondisi yang berbeda terjadi di pondok Gontor Putri 4 di Kendari dulu. Saya sering mengimami salat jama'ahnya putri-putri meski saya sendiri belum nikah. Hal disebabkan jumlah ustadznya minim.


Malam harinya kami pergi ke Sragen untuk belanja di swalayan Luwes. Aku dibelikan kaos lengan panjang. Setelah kucoba ketat banget. Tapi enak kok kalau sudah nempel di badan.


Selasa, 25/12/07


Meryy Christmas, Selamat natal. Semua sekolah negeri libur karena tanggal merah. Di Gontor Putri kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Para umat kristiani saya lihat semalam di Sragen sudah mempersiapkan beberapa acara dalam merayakan hari besarnya. Meski demikian, semua pihak hendaknya saling mendukung demi menjaga keamanan dan ketentraman bersama. Hal-hal yang provokatif dan melecehkan terhadap pihak lain supaya dihindari. Sebab, isu-isu agama atau keyakinan di Indoenesia telah menjadi pemicu kuat untuk terciptanya konflik dan kerusuhan.


Semalam ada berita "lelayu". Bu Ali Saifullah, istri dari alm Bapak Ali Saifullah, Anggota Badan Wakaf dan Putra pertama dari KH. Achmad Sahal, meninggal dunia di Bandung. Jenazah akan dibawa ke Gontor untuk peristirahatan terakhir. Pemakamannya akan dilaksanakan esok pagi pukul 09.00 di pemakaman keluarga.


Oleh karena itu, kita pagi-pagi sudah bersiap berangkat Ke Gontor di Ponorogo. Jarak dari Mantingan - Gontor kurang lebih 100 KM lewat jalan Ngawi - Madiun baru ke arah Ponorogo. Jika lalu lintas normal, bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam.


Sambil menunggu anak-anak dimandiin, saya sempat berbincang dengan bapak Zainuri. Beliau adalah salah satu alumni Gontor yang tinggal di Saudi. Sudah lama beliau menjadi staf KBRI di sana. Asal daerahnya Lampung. Kedatangannya di Mantingan dalam rangka menjenguk putranya yang sedang mengabdi di PLMPM tidak seberapa jauh dari kampus Gontor Putri. Dalam obrolannya, saya dapat kalau beliau memang lugas dan tegas dalam melihat masalah. Terakhir saya diberi kartu nama agar dapat kontak dengannya kemudian.


Berangkat dari Mantingan pukul 07.30 WIB dalam keadaan belum sarapan. Ust. Fairus bilang sarapannya di jalan saja. Namun di tengah jalan, dari berbagai tempat favorit langganannya, tidak satupun yang buka. Maklum, hari libur. Anak-anak pun protes sudah lapar. Baru di perbatasan masuk Ponorogo kita berhenti untuk makan soto dan rawon.


Tiba di kampus ISID Siman sudah pukul 10.00 WIB. Dalam perjalanan kita sudah mendengar kalau "mayyitah" sudah dikubur seusai salat subuh langsung. Sedangkan di hari yang sama, datang lagi kabar "lelayu". Ibu Hajid meninggal dunia. Beliau adalah salah satu putri dari pak Lurah Gontor, kakak pertama dari Trimurti pendiri pondok. Kediamannya tepat di tengah-tengah pondok. Suaminya, alm. bapak Hajid, adalah mantan ketua Yayasan masa KH. Imam Zarkasyi memimpin pondok.


Setelah menurunkan barang-barang dan bebersih. Kita yang hanya berempat, tanpa anak-anak, berangkat ke Gontor untuk ta'ziyah. Kurang lebih 10 menit setelah tiba kita ikut giliran menyolati untuk yang terakhir sebelum dimakamkan. Karena keluarga dari Surabaya sudah datang. KH. Hasan Abdullah menjadi imam sekaligus mewakili dari pihak keluarga untuk menyampaikan terimakasih atas ta'ziyahnya dan mohon doanya serta jika ada hak-hak yang harus diselesaikan harap berhubungan dgn keluarga yang ditinggal. Saya pun ikut mengantar bersama rombongan ke pemakaman.


Malam harinya kita diminta menginap di kediaman Ust. Syukri oleh Ibu. Sebetulnya siang itu sudah ditunggu untuk makan siang. Tapi kita buru-buru kembali pulang ke Siman karena anak-anak sudah lama ditinggal. Baru malamnya saya, mbak Enen dan Malaya menginap di Gontor.


Rabu, 26/12/07


Siang harinya kita kembali ke kampus ISID untuk menjemput kembali mbak Uke dan anak-anak. Rencana hari ini akan ke tempat Ust. Syukri, Ust. Hasan dan Ust. Amal. Sedangkan cuaca saat itu sejak pagi sudah turun hujan. Mataharipun enggan menampakkan dirinya.


Tiba di ISID Siman kita langsung disuruh makan siang. Sambil menunggu cuaca yang tak kunjung membaik. Baru sore hari kita bisa ke Gontor. Ternyata sudah ditunggu untuk makan malam. Sampai ba'da isya' juga tidak reda-reda hujannya malah tambah deras. Rencana dua rumah lagi pun gagal dikunjungi. Pulang dari rumah Ust. Syukri jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Hujan pun terus menerus turun.


Sebelum belok ke kampus mbak Uke minta ke Ponorogo untuk beli obat. Kita harus cari apotek yang buka malam. Sedangkan hujan bukan main derasnya. Alhamdulillah ada apotek rumah sakit yang masih buka. Mbak uke cari obat sembelit. Sedangkan mbak Enen mau cari sikat gigi dan mampir sebentar di ATM BCA.


Pukul 23.30 baru sampai ke kampus ISID. Saya pun langsung terlelap tidur di sofa denganmasih pakai sarung. Hujan yang tak kunjung henti pun terus mengguyur bumi. Dalam keheningan malam saya pun terhenyak dibangunkan dengan suara yang cemas dan risau. "Mas mas mobilnya tolonginn kena banjir di luar, gimana ya". Saya pun kaget dan langsung lari keluar. MasyaAllah, mobil setengah bodinya sudah digenangi air. Kanan kirinya juga sudah air semua. Hujan pun masih turun deras.


Saya pun langsung ganti celana panjang. Sedangkan ust Fairus juga bingung gimana caranya menyelematkan mobil ya. Bismillah, mumpung belum masuk ke mobil airnya harus segera diselematkan. Waktu itu pukul 02.30 dini hari. Mobil Innova di samping rumah juga sudah dievakuasi. Wah kenapa kita tidak dibangunkan ya atau mungkin mereka juga baru mengevakuasi mobilnya. Bisa nggak distarter ya? setelah saya coba alhamdulillah bisa. Dengan gas yang stabil saya lalu memundurkan mobil. Pelan-pelan. Ban mobil depan juga sempat mengoser karena masuk ke lumpur. Alhamdulillah selamat akhirnya.


Pagi harinya kita mendengar kalau di Gontor juga kedatangan banjir. Banjir kali ini adalah banjir yang terbesar daripada sebelum-sebelumnya. Di depan BPPM saja air sampai dada orang dewasa. Musibah banjir ini tak hanya disambut kesedihan. Santri-santri baru banyak yang menceburkan diri main air. Banyak juga santri-santri yang menyimpan sembunyi-sembunyi kamera mengeluarkan untuk dapat mengabadikan momen tersebut. Wah semoga tidak hanya kebanjiran air saja, tapi pondok juga kebanjiran santri dan rejeki. amin.


Kamis , 27/12/07


Nyaris dari pagi sampai siang kita tidak bisa kemana-mana. Saya hanya dapat bermain scrabble dengan mbak Enen untuk menunggu air surut. Untuk sarapan pagi pun kita diantar oleh pembantu, mana air minum juga habis. Persis seperti pengungsi banjir. hee...hee.
Aku pun menyelidiki kenapa air tidak surut-surut. Ternyata saluran pembuangannya tertutup dengan sampah dan pot yang menyumpal penuh. Setelah aku angkat air pun mengalir dengan deras. Tapi untuk menguras dan membuang air yang memenuhi lapangan kampus kurang lebih 3 jam baru surut.


Ba'da dhuhur air sudah surut. Kita bersiap-siap pergi ke kota, mbak Uke minta diantar belanja. Anak-anaknya kehabisan baju dan mau mencuci cetak foto digital. Sedangkan Ust. Fairus saat itu harus ke Mantingan untuk mengajar. Ia ikut rombongan dosen yang mengajar ke Mantingan. Baru besok kembali ke Gontor. Rencana hari itu ke tempat bu Amal, mau meminta bubuk temulawak buatan bu amal sendiri. Sedangkan Roshan bersama pembantu ditinggal di tempat eyangnya Ust. Subakir.


Malamnya dalam suasana di mana-mana banjir. Kita mendapat kabar kalau Sapariyah, pembantu, mendapat panggilan ke Malaysia. Dari kantor penyalurnya mengharuskan besok ia harus tiba di Jakarta untuk mengurusi beberapa persyaratan sebelum berangkat.
Malam hari itu juga kita pulang ke Mantingan. Perjalanan yang biasa ditempuh 1,5 jam harus kita tempuh 3 jam. Beberapa jalan putus karena banjir. Di kota Ngawi mobil-mobil tidak bisa berlalu. Jalur tersebut putus. Maka harus cari jalan lain. Saya mengambil jalan dalam melalui Maospati, Kendal, Ngrambe dan keluar Walikukun. Saat itu pukul 23.30 malam kita sampai di Madiun.


Keluar dari Gendingan tak satupun mobil yang melintasi jalan raya. Ternyata jalan Sragen Mantingan juga putus. Ada tiga titik yang dalamnya setinggi dada orang dewasa. Mobil pun tidak ada yang berani lewat. Alhamdulillah pukul 02.30 kita sampai pondok. Meski hujan terus menerus mengiringi perjalanan kita.

Jum'at, 28/12/07


Belum sempat nyenyak tidur, Saya sudah dibangunkan oleh Ust. Fairus. Pukul 04.30 saya dibangunkan. Kita akan mengantar Sapariyah ke stasiun Solo. Rutenya pun memutar melalui sine ngrambe lalu tembus Sragen. Kita melalui lereng gunung Lawu. Banyak jalan menanjak dan turun tajam dengan bukit-bukit yang mengitari gunung Lawu. Kurang lebih 1 jam-an kita berputar lewat jalan memutar tersebut baru ketemu jalan raya Sragen.


Lalu lintas Sragen - Solo pagi itu cukup padat. Antrian mobil-mobil cukup panjang. Selidik punya selidik ada truck tabrakan dengan truk. Salah satu truck yang bermuatan bahan aspal curah tumpah ke jalan. Jadi cukup membuat lalu lintas macet. Ust. Fairus pun khawatir jika sapar ketinggalan kereta. Jika ketinggalan kereta jam 8. kita harus menunggu kereta yang berangkat pukul 12.00 siang. Kasihan juga.


Alhamdulillah pukul 07.50 kita tiba di stasiun. Ust. Fairus langsung lari ke loket untuk beli tiket. Alhamdulillah dapat. Sapar pun saya ajak untuk siap-siap. Baru saja masuk pintu gate-nya kereta yang akan ditumpangi sudah masuk. Syukur sekali.


Kita pun langsung pulang. Beli sarapan di Sragen dan pulang kembali melewati jalan yang kita berangkat tadi pagi. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Seakan-akan kita sejajar dengan awan. Apa yang kita lihat pagi itu. Kita sedang berada di daerah tinggi sekali, di atas bukit. Pemandangan menakjubkan tersebut sempat saya ambil. Sawah-sawah dengan teraseringnya yang rapi pun tak luput dari bidikan kamera saya. Udaranya pun sangat fressh sekali. Subhaana ma kholaqta hadza baatilan, subhanakallah fa qinaa 'adzaban nnar.


bersambung.....