Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada' (al-Imron : 140)
Ada yang mengatakan bahwa hidup adalah perjuangan. Manusia diberi kemampuan untuk bisa melawan kehidupan yang keras. Sebagian mampu tegar kokoh menghadapinya, lainnya surut dan terlibas oleh kerasnya hidup. Nasib seperti hidup atau mati, kaya atau miskin, sedih atau bahagia, semua memang sudah takdirnya. Namun manusia tidak disuruh pasif menerima apa yang akan terjadi di depan. Masing-masing diberi kesempatan untuk berusaha (ikhtiar) dan berdoa. Selain itu, selalu berbaiksangka dan bertawakkal pada Sang Pencipta.
Hidup bukanlah sandiwara filem yang dimainkan oleh aktor atau aktris yang diarahkan oleh sutradara. Tapi kehidupan ini laksana rahasia Ilahi yang tak seorang pun mampu menebaknya. Hanya mereka yang diberi oleh petunjuk Ilahi yang mampu menangkap sinyal-sinyal tersebut. Ibarat roller coaster, suatu saat di atas, namun juga harus siap saat di bawah.
Bapak H. Basrizal Koto adalah salah satu dari sekian manusia yang patut menjadi contoh. Seorang saudagar berasal dari Padang. Pengalaman hidup pahit yang ia rasakan di masa kecil telah melecutnya menjadi seperti sekarang ini. Kesulitan hidup yang ia rasakan tidak membuatnya pasrah menerima nasib begitu saja. Dengan bekal tekad dan doa restu sang bunda ia merantau mengadu nasib.
Prinsip-prinsip hidup dari nasehat ibu tak ia lupakan. Berkat kegigihan dan kejujuran dari usahanya, lambat laun berubahlah nasibnya. Usahanya banyak yang sukses. Bahkan saat ini sudah ada 14 perusahaan yang tergabung dalam suatu group, BASKO HOLDING. Tersebar di Jakarta, Batam, Padang dan Pekanbaru. Di samping itu, ia juga diangkat menjadi ketua Forum Silaturrahim Saudagar Minang dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Minang Riau.
Akhir-akhir ini beliau banyak mengisi acara di berbagai forum mengenai pengalaman bisnisnya. Tentunya yang lebih menarik adalah perjalanan hidupnya dari seorang papa menjadi kaya raya. Anak dari keluarga miskin yang merantau dan sukses di perantauan. Suatu pelajaran yang berharga dari seorang anak bangsa yang bermental baja. Seorang saudagar dan entrepreneur.
Undangan ke Riau
Jum’at bulan lalu, 27/06/2008, saya bersama dua teman saya diundang untuk hadir pada acara khitanan putra bungsunya. Selain itu, kami bertiga juga diberi kesempatan melihat secara langsung bagaimana keluarga dan beberapa perusahaan yang ada di Pekanbaru. Suatu kehormatan dan pengalaman yang tak terlupakan.
Tiba di bandara Soekarno Hatta satu jam sebelum take-off. Kami bertemu rombongan dari beberapa staf dan asisten dari Basko Holding yang sama-sama akan ke Pekanbaru. Menurut rencana, setelah acara khitan mereka akan mengunjungi peternakan sapi di Rumbai dilanjutkan keesokan harinya rapat direksi perusahaan. Minggu baru kembali ke Jakarta. Di antara mereka ada yang sudah saya kenal seperti Pak Erjoni Suwikar sebagai direktur Basko Group di Jakarta dan Pak Machman sebagai Internal Control & Accounting.
Pesawat take off pukul 07.10 WIB dan dijadwalkan sampai di Riau pada pukul 08.30 WIB. Perjalanan udara Jakarta – Riau kurang lebih memakan waktu 1 jam 40 menit. Apabila ditempuh dari jalan darat akan memakan waktu 1 hari 2 malam. Tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru pukul 08.30 WIB. Mobil jemputan telah menunggu di depan bandara yang akan membawa rombongan menuju kediaman Basko.
Perjalanan dari Bandara Sultan Syarif Kasim ke kediaman pak Basko memakan waktu kurang lebih 30 menit. Dari bandara kita menyusuri jalan Sudirman. Bagi saya, ini kali pertama ke Riau. Menurutnya, Riau sekarang, khususnya Pekanbaru, sudah banyak perubahan. Pembangunan dan ekonomi cukup pesat. Uniknya, kemajuan dan pesatnya pembangunan tidak melunturkan akar budaya daerah. Buktinya, beberapa bangunan megah yang dibangun selalu memasukkan unsur bentuk rumah adat Riau sebagai salah satu ciri khas budaya dan identitas kedaerahan. Usaha ini patut dicontoh di beberapa daerah lainnya. Bukankah identitas kebangsaan masih sumir dirasa. Oleh karena itu kita patutkan perjuangkan identitas dan budaya daerah masing-masing. Supaya tidak tergerus oleh nilai-nilai asing.
Acara Khitan
Pukul 09.30 WIB kita tiba di kediaman Pak Basko di Jalan Diponegoro No. 9 Pekanbaru atau di depan Rumah Sakit Umum Daerah. Tempat digelarnya pesta khitan. Rupanya pesta khitan akan digelar besar-besaran. Melihat tenda-tenda dan jumlah kursi undangan yang tidak sedikit. Beberapa kursi dan meja dibuat semacam round-table menghadap pada sebuah panggung. Saat itu hanya beberapa saja yang terisi, sebab acara khitan pagi itu hanya dihadiri oleh keluarga. Undangan baru akan datang pada siang hari dan puncaknya pada malam hari.
Putra bungsu Pak Basko yang dikhitan bernama “Wendoky Putra Basko”. Putra nomor enam dari tujuh bersaudara, adiknya terakhir adalah perempuan. Ia baru duduk Sekolah Dasar kelas lima. Masa-masa liburan kenaikan kelas seperti saat ini dimanfaatkan untuk khitan. Selain itu bisa berkumpul bersama seluruh keluarga di rumah.
Segala kegiatan acara digelar di halaman belakang rumah. Di tengah-tengahnya terdapat rumah panggung yang tingginya kurang lebih 1,5 meter serta mempunyai luas kurang lebih 5 m x 10 m. Menurutnya, rumah panggung yang disebutnya pendopo tersebut menyerupai rumah adat minang. Entah kenapa jarang ditemukan rumah adat minang di Riau ini. Mungkin itu sudah aturannya. Pendopo tersebut difungsikan untuk menjamu para tamu dan kumpul santai keluarga.
Tak jauh dari pendopo sebelah kirinya terdapat kolam renang mini. Gemericik air yang berhamburan di sela-sela bebatuan menambah hangatnya acara. Dendang alunan salawat yang dibawakan oleh group salawatan dari ibu-ibu. Mereka duduk rapi berjejer di tepian tembok rumah pendopo.
Kurang lebih 10 menit setelah kedatangan kita. Seorang pembawa acara mengumumkan bahwa acara khitan akan segera dimulai. Group pengajian rebana dari ibu-ibu yang tak putus-putus mendendangkan salawatan dari tadi berhenti sementara.
Wendoky Putra Basko tengah siap-siap di depan singasana tempatnya duduknya. Ia mengenakan celana panjang berwarna coklat terbuat dari sutra keemasan dipadu dengan baju koko panjang dengan bahan dan warna yang sama. Seorang dokter yang dibantu oleh seorang perempuan yang akan membantu operasi kecil tersebut juga sudah siap. Sebelum mulai dikhitan Pak Basko memberi sambutan kurang dari tiga menit. Intinya, ia berterimakasih atas kehadiran dan doa para hadirin untuk ananda Wendoky yang sedang disunat. Semoga anaknya tersebut saleh dan manfaat bagi dirinya, keluarganya, bangsa dan agamanya, sambutnya yang diikuti oleh ucapan amin dari segenap yang hadir.
Khitan pun dimulai. Dokter yang telah menyiapkan peralatan kedokteran sudah mulai beraksi. Dibantu oleh seorang asisten, dokter tersebut mengerjakan tugasnya dengan santai. Sedangkan Putra Basko tak sedikitpun kelihatan wajah takut di raut mukanya. Bapaknya menungguinya tepat di sampingnya bersama kakaknya, Zico. Sesekali Wendoky tersenyum ketika diajak bicara oleh ayahnya atau kakaknya. Tak terasa khitan sudah selesai. Kurang lebih seperempat jam lamanya. Sekarang, Wendoky sudah berdiri dan bisa mengenakan kembali celana panjang yang berbahan sutera tersebut.
Sambil berdiri ia kembali duduk di singasananya. Beberapa sanak saudara kemudian dipanggil satu persatu untuk memberikan ucapan selamat serta memberikan air yang dipercikkan di wajahnya dengan serangkaian daun. Saya tidak tahu adat apa namanya, lupa, padahal sudah diberi tahu. Dimulai dari amak dan mamak dari pihak ibu yang hadir pada saat itu. Kemudian berurutan Pak Basko, Istri, Kakak laki-laki lalu saudara-saudara laki Pak Basko. Acara selesai pukul 12.00 siang. Rehat sebentar untuk salat Jum’at.
Ba’da Jum’at rencananya akan digelar acara “Babako”. Dalam acara itu, rombongan amak dan mamak Pak Basko yang tinggal di Gobah, suatu daerah di Pekanbaru, akan datang bersama rombongan dengan membawa beberapa barang semacam seserahan. Mereka diarak dengan tabuhan kendang dan rebana. Rombongan ini akan langsung menuju rumah pendopo dimana yang khitan sedang duduk di kursinya. Pada saat itu akan menaruh segala seserahan di sana dan mamak memberi semacam gelang pada yang khitan. Begitulah kira-kira dari apa yang dilihat di lapangan.
Demikian dulu ceritanya, lanjutan berikutnya cerita mengenai keluarga dan peternakan sapinya di Rumbai.
Kukusan Depok
Ahad, 26 Juli 2008

No comments:
Post a Comment