Keunikannya dari tulisannya selain karena memang betul kisah nyata, bahwa semua rangkaian cerita tersebut rutin ditulis secara berkala oleh penulisnya melalui email yang dapat dinikmati melalui dunia maya, internet. Setiap Jum'at penulis mengirimkan lanjutan ceritanya melalui group emailnya, (seerehwenfadha7et@yahoogroups.com). Jumlah semuanya ada 50 buah email. Ditulisnya dari tanggal 13/2/2004 dan ditutup pada 4/2/2005. Genap setahun lamanya.
Selama rentang waktu itu, tulisan ini mengundang banyak tanggapan. Ada yang menanggapi positif, negatif, marah, benci, sedih dan lain sebagainya. Setidaknya, setiap awal pekan, hari Sabtu, isi email tersebut menjadi topik diskusi di setiap sudut kota dan warung-warung kopi.
Pada setiap awal email, selalu ia mengawali dengan bait syair dari penyair terkenal atau ayat suci al-Qur'an. Tak ketinggalan, ia menceritakan pula tentang email-email yang sampai kepadanya. Respon dari email minggu lalu dan email-email sebelumnya ia ringkas menjadi intro dari kisah barunya.
Meski dinilai dari pihak Arab, banyak mengungkapkan aib bangsa Arab sendiri, khususnya wanita Arab. Ia bersikukuh bahwa ia hanya mengungkapkan realitas yang selama muncul di dunia Arab. Suatu hal yang tabu memang tapi perlu disuarakan, menurutnya. Karena ia ibarat bom waktu. Suatu saat akan meledak dengan dahsyat. Ia mengungkapkan suatu realitas yang menimpa para perempuan yang hidup di sebuah negeri yang tidak bisa lepas dari kemodernan tapi tuntutan adat dan aturan tidak boleh dilanggar. Bagaimana seharusnya mereka bersikap?
Ada isu gender, isu kekuasaan, globalisasi, isu kontestasi, isu nilai-nilai adat, superioritas, dan terlebih lagi adalah nilai-nilai agama. Keempat sahabat itu ialah Shedim, Qamrah, Michelle, dan Lumeis.
Saya terkesan pada sebuah bait puisi yang ditulis di email ke-49 dari seorang penyair yang sering dikutip oleh penulis;
Kalau kutahu cinta itu berbahaya sekali, aku tidak akan mencinta
Kalau kutahu laut itu dalam sekali, aku tidak akan melaut
Kalau kutahu akhir semua kisah, tak kan mungkin kumulai merajutnya
(Nizar Qubany)
Seperti layaknya film serial yang seri berikutnya penuh dengan teka-teki. Dari satu email ke email berikutnya selalu mengundang misteri. Onak dan misteri kehidupan ini seolah-olah tidak bisa diterka. Rahasia Ilahi. Nasib. Sebuah garis kehidupan.
Sebenarnya cerita patut dihargai sebagai langkah berani. Berani untuk menyatakan bahwa saat sudah tidak jaman jahiliyah lagi. Tidak lagi jaman Fir'aun. Wallahua'lam.
Wanita sebagaimana ibu kita, punya peranan yang sama besarnya dalam keluarga dibanding seorang Ayah. Tidak boleh direndahkan apalagi menerima kekerasan dan penghinaan. Sebagaimana diungkapkan olehnya bahwa lelaki membutuhkan seorang wanita pendamping yang dapat memahaminya, namun wanita membutuhkan seorang yang mencintainya. Nabi Muhammad pun tidak pernah menyakiti wanita.
Supaya tidak penasaran dan untuk lebih lengkapnya. Ada baiknya anda membaca bukunya sendiri atau ikut bergabung dalam komunitas dunia maya di seerehwenfadha7et@yahoogroups.com. Walaupun tulisan ini sudah terbit sejak tahun 2006. Namun tidaklah ketinggalan jika anda mengikuti kisahnya sekarang.
Selamat membaca!
Kukusan Depok
Ahad 27 Juli 2008
Berikut ini saya nukilkan beritanya dari penerbit versi Indonesianya langsung
THE GIRLS OF RIYADH
Penulis: Rajaa al Sanea
Penerbit: Ramala Books,
Tebal: 406 Halaman
Sekitar empat tahun yang lalu, penulis buku ini sempat membuat geger ara pengguna internet seantero Arab Saudi. Pasalnya, surat-surat elektornik yang ia kirimkan melalui mailist, secara berkala kerap melawan budaya di sana yang tabu untuk dieksploitasi.
Surat-suratnya bertutur soal kisah kehidupan empat cewek yang cukup tragis. Didalamnya mengangkat tema-tema miris soal gender, sex dan ketertindasan para kaum hawa yang terkesan bernilai rendah.
Walaupun dilarang oleh pemerintah Arab, penulis misterius yang belakangan di kenal bernama Rajaa al Sanea ini, akhirnya memberanikan diri untuk membukukan lika-liku riwayat para sahabatnya itu.
Kalau mau tahu sisi lain dari cewek-cewek Arab yang nyaris tak sempat terpikirkan, buku ini pas buat jadi bahan informasi. (edi)
18 FEBRUARI 2008

No comments:
Post a Comment