Thursday, April 19

SELAMAT JALAN SAHABAT


Selamat jalan lampung padang, lapang
Semoga arwahmu diterima di sisi Ilahi
Dan memaafkanmu dari dosa-dosa
Memberi ketabahan dan kesabaran bagi yang dicintai

Di tengah terik matahari. Di bawah pancaran sang surya yang lagi memanas. Ratusan orang mengiring kepergiannya. Iring-iringan mobil dan motor dari kerabat, handai taulan, serta kawan-kawan mengiring jenazah tercinta. Takdir ajal sudah tiba, tak ada satupun jua yang kuasa menghentikannya. Jenazah terbujur kaku dibungkus kain kafan dalam usungan peti di dalam Masjid. Para Jama’ah takziyah pun menyalatinya. Saat kuterima lalu kupanggul keluar dari Masjid bersama menuju mobil ambulance tubuhmu tetap diam membisu. Memasuki mobil jenazah untuk menuju pemakaman. “Darinya (tanah) Kami ciptakan, dan kepadanya pulalah Kami kembalikan (ciptaan itu)”.

MUHAMMAD LAPANG DALAM KENANGAN

Saya teringat waktu dia cerita di kelas II KMI, karena kami bersama kelas II C tahun 1994, mengenai riwayat dirinya sebelum masuk Gontor. “Dulu saya adalah atlet perenang, pernah loh juara renang, karena kena sakit lever ya jadi badanku melar seperti ini”, memang saat itu badannya gemuk. Tapi dengan kegemukannya memang kelihatan kekar dan besar, tidak gemuk karena kelebihan lemak seperti orang yang overweight.

Sebelum masuk Gontor, ceritanya ia pernah tercatat sebagai santri di Pondok Pesantren Assalam di Surakarta. Saya sendiri tidak tahu sampai kelas berapa dia di sana. Setelah itu pindah ke KMI Gontor. Yang selalu kami ingat di kelas adalah kelakar dia dan canda tawanya bersama teman-teman kibar. Walau waktu kami adalah kaum sighor dan duduk di depan, tapi kami dalam satu kelas cukup akrab dan hidup. Wali kelas kami adalah ust. Miftahul Ulum.

Naik ke kelas III, kembali saya satu kelas dengannya di kelas III C. Wali kelas kami adalah Ust. Heru Wahyudi, staf pengasuhan santri. Kelihatannya M. Lapang di kelas ini dikader betul dan diperhatikan oleh Ust. Heru untuk kelak jika kelas selanjutnya menjadi pengurus yang berkualitas. Meski sering absen tidak masuk kelas, Ust. Heru tetaplah seorang wali kelas yang perhatian pada siswanya. Dia tetap masuk kelas, walau harus mengajar sambil terkantuk-kantuk kepalanya mantuk-mantuk di atas kursi pengajar karena kecapean. Kita yang melihatnya kadang-kadang terkadang geli.

Saat yang paling kami ingat bersamanya adalah ketika diajar Hadits oleh Ust. Tauhid. Pelajaran Hadits yang seminggu sekali ini adalah pelajaran yang buat kami banyak manfaatnya; sebagai hiburan, penyiksaan, atau bahkan ujian mental. Bayangkan saja, baru masuk kita sudah menahan tawa karena memang sosok dan pembawaannya yang unik. Saat itulah ketegangan melanda seisi ruang kelas. Tidak ada yang berani bertingkah aneh. Cuma dia sendiri yang boleh bertingkah aneh. Saking tidak kuatnya kami menahan geli, ada yang kelepasan mengeluarkan suara, meskipun tidak terdengar jelas namun samar-samar ada suaranya yang tertahan dan tak kuasa lagi ditahan lalu keluar. Didekatilah orang itu lalu, “cuh..cuh..cuh..” kena ludah deh, bau jengkol kali, siapakah dia yang pernah merasakan ludah pak Tauhid? Ayo siapa?

Naik ke kelas IV, kalau tidak salah saya masih satu kelas dengannya di kelas IV B. Ust. Miftahul Ulum kembali menjadi wali kelas. Oh ya, betul dia satu kelas sama kami. Waktu itu ada bustanul, Nur Tsalits, Nazaruddin, Asrizal, ada anak Jakarta yang juga sama kecilnya (lupa namanya) dengan bustanul yang diam di rayon Santalada. M. Lapang saat itu diangkat menjadi keamanan kelas IV di rayon santalada. Di kelas kadang-kadang cerita bagaimana di rayon. Menegakkan disiplin anggota rayon yang diantaranya adalah teman sekelas sendiri. Namun ia sosok yang tegas. Urusan rayon, urusan rayon, lain lagi di kelas. Yang menjadi kenangan kami, ia suka ceritakan pengalaman dia disertai kelakar dan cukup mampu memotivasi kami. Selain itu, ia cukup disegani dan ditakuti waktu ia menjadi keamanan di rayon Saudi 3 lantai 2, rayon sighor lama.

Sehingga kelas V ia duduk di OPPM sebagai, kalau tidak salah, bagian keamanan. Namun sayang karena kesungguhan dalam kepengurusan, baik di OPPM maupun di kegiatan-kegiatan pondok lainnya, studinya jadi keteteran. Yang membuat dirinya naik kelas Enam di Kediri. Naik kelas enam tapi di Gontor III Kediri. Saat itu memang awal mula di Kediri ada OPPM. Jadilah ia Ketua OPPM, ikut bersama rombongan sahabat satu kelas saya Imron Chaidir yang cukup syok juga naik kelas di Kediri padahal waktu itu ia optimis bisa naik di Gontor. Optimis dari hasil belajarnya juga karena dia bersama saya di kelas V C, kelas yang cukup amanlah ibaratnya. Meskipun kawan-kawan satu kelas memang rata waktu itu naiknya dari Enam B sampai K bahkan sampai di Kediri ada semua dari kelas V C. Menurut keterangan kemudian yang datang dari panitia ujian sendiri, bahwa terjadi kesalahan dalam pendistribusian nilai. Namun nasi sudah menjadi bubur. Kebetulah saya sendiri di tengah-tengah naik kelas VI F. Hikmahnya teman-teman dari V C dulu kelulusannya bagus-bagus. Ada di VI K yang jayid jiddan seperti Ottoman yang berubah namanya jadi Otsman, ada juga Najihan Maududi di kelas yang sama, sekarang telah tamat s2 di UIN, lagi giat nyari jodoh, sambil nyampi terjemahan buku dan khutbah di mana-mana.

Tidak banyak rekaman peristiwa saya di Kediri, karena otomatis saya dan teman-teman yang jumlahnya waktu itu sekitar 450 terpisah dengan kawan-kawan yang di Kediri, termasuk M. Lapang. Hingga kembali kita bertemu saat akhir-akhir masa kelas Enam untuk karantina bersama dan ujian tahap akhir. Pada waktu itu tahun 1998, saya lulus bersama teman-teman, dan ditugaskan bersama 71 orang untuk mengajar di KMI Gontor. Kalau tidak salah M. Lapang saat itu ditempatkan di KUK Toko Besi. KUK adalah singkatan dari Koperasi Usaha Keluarga. Ia bersama Nur Najman dan Syaikhudin dari Lombok. Lalu kemudian ditarik ke dalam pondok untuk menangani Majalah Gontor yang saat itu baru-baru terbit.

Selain bertugas mengajar dan membantu pondok, kami juga kuliah di ISID al Azhar. Kebetulan memang kembali saya satu fakultas bersama M. Lapang, Fakultas Tarbiyah, saat itu pesertanya seru alias aneh-aneh orangnya seperti; Nurul Huda alias gonjrot, Muhajir alias dukun, Teguh Widiatmiko alias ulo, Subhan Roza orang suka manggil Sobekan rusak, M. Lapang, and so on lah termasuk saya. Meski sebagai orang sibuk M. Lapang adalah mahasiswa yang rajin. Rajin untuk mengulang ujian materi tiap semester, kalau tidak salah waktu itu materi “statistic” sebab gagal tiga kali, akhirnya lulus juga alhamdulillah. Setelah KKN, kami dapat wisuda bersama. Setelah itu M. Lapang diwisuda beneran ala ISID, kali ini singkatannya bukan “Institut Studi Islam Darussalam” lagi, tapi “Ikatan Suami Istri Darussalam”. Ia naik pelaminan mempersunting seorang Ustadah namanya Ustadah Darma, setelah melewati proses PDKT yang berliku, di sini saya tidak cukup bahan untuk menceritakan masalah ini. Tahu-tahu udah jadian aja.

Selepas dari pengabdian di Gontor kembali ke Jakarta dan berkeluarga, 2004. Ia masih mengabdikan dirinya di Majalah Gontor, kali ini sebagai jurnalis. Wartawan atau reporter Majalah Gontor. Semangatnya memang patriotisme dan pantang menyerah, sehingga cukup dikenal oleh para teman alumni dan para tokoh yang sempat ditemui atau diwawancarainya. Namun di tengah kesibukan dirinya semenjak di Gontor dan di luar Gontor, ia kurang memperhatikan dirinya sendiri, ia kurang menjaga kesehatan dirinya sendiri. Pola hidup yang tidak sehat selalu saja diulang-ulangnya seperti; merokok, tidur sembarangan (tidak di atas kasur), suka keluar malam, begadang dan jarang olahraga. Selain itu adalah kegemaran makan yang kurang terkontrol apa yang dimakan, seperti sate kambing, jeroan atau lainnya.

Saat saya mendengar Lapang jatuh sakit dan dirawat di RS Fatmawati, saya lalu teringat akan kebiasaan dia waktu di pondok dan saat di Jakarta waktu ketemu beberapa kali, 2006. Apalagi saat mendengar kena komplikasi lalu gagal ginjal. Hati tidak tega untuk mendengar dia sampai sakit sejauh itu dengan umur yang masih muda dan harapan yang masih jauh ke depan. Harus cuci darah rutin tiap minggu. Saat ku jenguk di RS Fatmawati, tubuhnya seperti bengkak. Tangannya kelihatan bengkak sekali. Dan kelihatan warna kulitnya biru kehitam-hitaman seperti ada cairan di dalamnya. Aku usap-usapkan kain yang dibasahi dengan air hangat di tangannya agar nyaman dan kempes kembali. Lalu ia bilang “ndi, doakan sembuh ya ndi, saya nggak mau sakit, doakan ya, saya tidak mau kena ginjal” dengan suara berat ia sampaikan. Trenyuh aku mendengar sambil kujawab, “amin-amin, insyaAllah, Allahu Yashfiik , Lapang, amin-amin, sabar ya pang”. Sambil terus saya usapin lalu dia bertanya-tanya tentang kegiatan saya apa selama di Jakarta.

Sesudah sekian bulan saya sibuk dengan kuliah saya. Dan mendengar kalau Lapang sudah divonis gagal ginjal dan harus rutin cuci darah, saya tidak tahu lagi kabarnya. Baru kemudian, Bu kyai Hasan cerita kalau Lapang pernah konsultasi ke mbak Sekar di Cirendeu untuk pengobatan alternatif, dimana para keluarga pondok juga berobat disitu. Kemudian dia tidak jadi berobat karena masalah finansial. Bu kyai Hasan tetap menganjurkannya untuk berobat, masalah biaya nanti insyaAllah ada yang bantu, yang penting berusaha jangan pasrah. Singkatnya, ia bersama istrinya dan anaknya lalu pindah di dekat prakteknya Mbak Sekar. Untuk dapat berobat setiap mbak Sekar buka praktek. Saya sendiri sebagai pasien untuk sementara off, mengingat membludaknya pasien yang datang dari keluarga gontor dan dari Madura, di samping juga saya sedang buanyak tugas dan ujian di kampus. Jika saya dapat menyempatkan sekali datang waktu itu ke mbak Sekar, barangkali saya bisa ketemu Lapang lagi. Tapi saya baru ceritanya setelah beliau almarhum.

Dirawat tiga hari, alhamdulillah perut dapat kempes. Untuk membuat kempes, kabarnya mbak Sekar sampai mengeluarkan energi yang banyak. Memang mbak sekar berusaha sedapat mungkin mengerahkan energinya untuk kesembuhan Lapang. Terbukti efektif. Perutnya bisa kempes dalam tiga hari. Pihak medis rumah sakit di Halim, dimana ia sering cuci darah juga kaget, kok bisa kempes, “didoain ya bu?” tanya seorang medis ke istrinya. “ya” jawabnya singkat. Namun entah karena banyaknya pasien yang datang entah dari keluarga Gontor, dari Madura, dan sekitar jabotabek, atau karena energi yang banyak terkuras untuk Lapang, mbak Sekar jatuh sakit. Ya tenaga manusia bagaimanapun juga ada batasnya. Sempat tiga hari atau berapa hari off, tidak praktek yang membuat M. Lapang juga tidak ditangani. Selama menunggu itu, ia terus berusaha mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh mbak Sekar.


Selasa sore (17/4/2007) pukul 16.00 menurut salah satu teman yang ikut menjaganya, kelihatan Lapang masih biasa dan sadar. Tapi menjelang pukul 17.00 keadaannya mulai drop, nafasnya sudah sampai tenggorokan saja, katanya. Lalu mbak Darma, istrinya berlari ke tempat Bu Hasan yang juga ngekos di gedung sebelahnya. Sambil nangis, menanyakan bagaimana solusinya? Bu Hasan pun menuju lokasi dan minta didatangkan taksi. Lalu dibawa sama temannya yang jagain tadi ke rumah sakit, biar cepat diambil tindakan medis, jangan nunggu mbak Sekar. Kemudian ditemani oleh seorang teman yang jaga tadi dilarikan ke RS Fatmawati. Sedangkan istrinya tinggal di tempat untuk mencari mbak Sekar, untuk konsultasi dan apa-apa sarannya tentang keadaan suaminya yang kritis. Dengan bantuan tetangga yang tahu rumahnya, mbak Darma sampai ke rumahnya mbak Sekar, tapi menurut tetangganya ia baru saja pergi entah kemana.

Di RS. Fatmawati lalu Akrimul dari Majalah Gontor dipanggil untuk membantu urusan-urusan bersangkutan dengan Lapang. Menurut keterangan Rumah sakit (cerita dari Ust. Akrim) bahwa yang bersangkutan harus masuk penanganan High Care sedangkan ruang untuk High Care di rumah sakit saat itu sudah full. Untuk masuk ke UGD atau ICU sendiri, menurut kriteria, yang bersangkutan tidak bisa masuk. Entah disini saya kurang faham ceritanya kenapa tidak bisa masuk UGD. Namun Ust. Akrimul tetap mengomando teman-teman yang ada untuk mencari di mana rumah sakit yang High Care-nya masih ada tempat, coba di RS Pasar Rebo, barangkali masih ada. Meski Akrim sendiri pesimis waktu itu ketika memegang ujung jari-jari kakinya sudah dingin, sepertinya waktu itu adalah proses naza’-nya. Waktu itu pukul 19.30 malam lebih, menurut pak Akrim. Ibu dan istrinya diminta Ust. Akrim untuk tetap membimbing dan mentalqin Lapang untuk terus melafazkan kalimat Ilahi. Akhirnya, tepat pukul 20.40 saudara Muhammad Lapang menghembuskan napasnya yang terakhir. Inna lillahi wa Inna ilaihi Rajiun. Selamat jalan kawan, engkau bersama para salihin mendahului kami, dan kami akan menyusul kalian kelak, antum salaafuunaa wa nahnu bil atsari.

Allahummaghfir lahu war hamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu
Allahumma laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinnaa ba’dahu waghfir lanaa wa lahu


Gandul, 20 April 2007 (Jum’at pukul 00.30)




Wednesday, April 11

Mengenai Kerangka Berfikir



  1. Boleh saja orang berusaha menjadi The First, tapi lebih baik jika menjadi The Best.

  2. Kelemahan Iman seseorang tidak boleh menghalalkan yang Haram.

  3. Urutannya "Saya Benar", kemudian "Saya Boleh" baru "Saya Mau" bukan sebaliknya : "Saya Mau" maka "Saya Boleh" dan oleh karenanya "Saya Benar" ini yang berbahaya! Rugi dan merugikan.

  4. Mengurusi orang waras saja capek ... , kok mengurusi orang gila!

  5. Toleransi kita pada sikon jangan merubah mental kepribadian (aqidah sibghoh).

  6. Siapa yang mengisi kekosongan dalam barisan dan dalam pembinaan ummat Islam? Dan Ummat Manusia? Bapak Pandu Islam itu Rasulullah - Sumber Pendidikan Kepramukaan.

  7. Jangan terpesona atau tertipu oleh apa yang menamakan dirinya Ilmiah atau "Penemuan Ilmiah".

  8. Dunia akal-akalan (Rekayasa) membuahkan Agama Rekayasa. Celakanya banyak manusia yang menciptakan "Rekayasa Agama".

  9. Dengan Teka-teki ini Ananda jangan menciptakan atau menjadi objek mangsa para makhluk-makhluk ambisius dunia.

  10. Kalau manusia itu laki-laki dan perempuan menjadi manusia beneran, maka hanya Islam-lah tempat yang tepat.

  11. Setiap manusia itu mempunyai bakat menonjolkan dirinya. cuma kadar atau volume dan hasilnya berbeda-beda, juga caranya, jalannya. HATI-HATI!

  12. Pandai-pandailah memilih mana yang Prinsip ananda. Jangan menjadi Insan "Mendinganistis".

  13. Dalam menghadapi masalah (kesulitan) jangan cuma hanya mencari "Siapa Pemicunya , siapa di balik masalah ini," tapi carilah apa pemicu dan penyebabnya. Mungkin anda sendiri .

  14. Sistem yang paling baik itu tidak ada, dan tidak akan ada.

  15. Setelah Nabi Muhammad SAW. tidak ada lagi Nabi, dan sekaligus tidak ada lagi manusia yang terbaik di Zaman ini.

  16. Carilah sektor apa saja yang perlu, boleh dan mau dilaksanakan dalam pembinaan umat.

  17. Perbedaan arti dan akibat antara tsiqoh dan ghurur, antara percaya pada kekuasaan dan perasaan lebih dari yang lain (sombong).

  18. Kalau ananda melihat sesuatu itu benar supaya dibantu, kalau salah supaya diingatkan.

  19. Jangan sampai kalau maju kita mengakuinya, kalau mundur kita cuci tangan.

    Gontor, Maret 2001
    KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Gontor)


Hubungan Orangtua - Remaja, review sebuah buku


Pernak-pernik Hubungan Orangtua – Remaja
Anak “Bertingkah” Orangtua Mengekang
Oleh Sawitri Supardi Sadarjoen
Penerbit Buku Kompas, 2005

Berbagai persoalan remaja dan hubungannya dengan orangtua merupakan bahasan pokok dalam buku ini. Masa remaja yang dikategorikan dengan batasan umur antara 14/15 tahun sampai 19/21 tahun adalah masa dimana remaja berusaha mencari identitas dan jatidirinya. Dalam proses ini banyak remaja yang menemui kegagalan. Mereka terlalu matang dalam fisik padahal psikisnya belum siap. Disamping itu kultur keluarga tidak menunjukkan sama sekali perhatiannya, misalkan jika kedua orangtuanya adalah pekerja yang pergi pagi pulang malam.

Posisi remaja yang dependen (masih tergantung) pada orangtua berimplikasi pada tanggungjawabnya pada aturan orangtua di rumah, kewajiban belajar di sekolah dan aneka kegiatan lainnya yang difasilitasi orangtuanya. Namun di sisi lain kebutuhan otonomi untuk memecahkan kebuntuan, kebosanan, kejemuan, kesendirian mengakibatkan banyak aturan yang dilanggar. Orangtua menganggap anak selalu melawan, sedangkan anak menganggap orangtua terlalu mengekang. Akibatnya banyak perilaku remaja yang nekat dan diluar batas kewajaran, ini sebagai akibat dari pelampiasan dari rasa pemberontakan dalam dirinya.

Dalam pemaparan konsep-konsep hubungan yang terjadi antara orangtua dan anaknya, penulis berangkat dari kasus. Berbagai macam kasus yang ditanganinya, ia tulis di rubrik psikologi tiap hari Minggu di Koran Kompas. Kasus-kasus yang diceritakan dan analisa komprehensif baik secara psikologis maupun sosial memberi pembelajaran (lesson learned) terhadap proses perkembangan anak dan proses pendewasaan orangtua.

Di antara poin yang sekiranya penting, adalah sebagai berikut;
1. Anak-anak penderita gagap, biasa ditandai oleh pengulangan spasmodik, hendaknya dihindarkan dari situasi lingkungan yang menekan. Hindari hukuman fisik, berikan dukungan dengan kelembutan emosional agar anak tenang (Hal. 19).


2. Rasa kesepian anak adalah penyebab utama anak terpaku pada kenikmatan erotisme yang diperoleh melalui stimulasi internal ataupun eksternal terhadap zona erotis tertentu pada organ tubuhnya, seperti mengisap jempol, melakukan gerakan bibir sambil meraba/memegang benda tertentu seperti ujung selimut, atau menggesekkan alat genitalnya pada guling tertentu yang dikempit di antara selangkangannya (Hal 24).


3. Kebutuhan personal remaja untuk mengikuti aturan cenderung menurun di lain pihak kecenderungan untuk otonom sangat tinggi, berimplikasi pada kebutuhan afiliatif, kebutuhan seksual tinggi, kebutuhan agresivitas tinggi, kebutuhan untuk tampil beda atau pamer, semua kebutuhan tersebut cerminan dari perilaku “semau gue” tanpa perencanaan (Hal. 50).


4. Percepatan perkembangan fisik ditandai dengan pematangan fungsi genital, remaja sadar akan kebutuhan erotisme dan seksual. Pada masa ini adalah awal perkembangan fantasi romantisme, fantasi erotisme, dan fantasi seksual. Sering idola menjadi objek pelampiasan kebutuhan-kebutuhan tersebut (hal. 76). Efek globalisasi membuat remaja memiliki peluang luas untuk mengambangkan pilihan idolanya (hal. 77). Remaja rela melakukan apa saja demi idola (hal. 78). Bahkan sampai pingsan pun dijalani agar bisa salaman sama idolanya atau sekedar mendapat tanda tangan darinya.


5. Dalam masa proses pencarian identitas diri, remaja akan merasakan kekosongan batin, resah, gelisah. Untuk mengatasi kegelisahan dan keresahan ini tanpa mereka sadari membuat mereka mengembangkan fanatisme yang kuat tanpa batas terhadap idola (Hal 76).


6. Keinginan kuat untuk bebas dari kungkungan aturan, diikuti dengan tampilan perilaku keluar dari aturan baku, bahkan terkesan keinginan untuk menciptakan norma khusus yang berlaku bagi remaja (Hal 77)


7. Perkembangan fisik yang relatif cepat pada usia remaja membawa pengaruh terhadap kehidupan psikis remaja. Pada masa ini, remaja sering dilanda “penyakit” jenuh, malas (Hal 118)


8. Masa remaja adalah masa di mana seseorang berada dalam proses untuk memilih posisi moralnya, baik nilai-nilai yang dianut, arah minat yang dipilih, serta hal-hal yang tidak disukainya. Selain itu juga merupakan proses untuk memperoleh bayangan diri sebagai entitas seksual utuh yang tidak lagi meragukan dirinya (Hal. 159)


9. Kemampuan intelektual seseorang bukanlah jaminan bagi keberhasilan studinya. Masih banyak potensi mental lain yang berperan dalam optimasi fungsi intelektual (Hal 149). Seperti dikenal emotional quotient, spiritual quotient, atau mungkin kemampuan lainnya seperti dalam hal intuisi.


10. Pemantauan kemajuan studi hendaknya berdasarkan kejelasan aturan akademik tidak pada penekanan beban mental berlanjut sehubungan harapan/tuntutan orangtua yang terkadang melebihi batas kemampuan mental anak. Peran orangtua bagi keberhasilan anak tidak hanya menyangkut masalah fisik saja namun juga masalah relasi serta konsekwensi psikologik yang tidak sederhana (Hal 146).


11. Sikap protektif yang terlalu berlebihan bisa menjadi dasar minimnya rasa tanggungjawab pribadi dan disiplin diri pada anak (Hal 138).

Demikian beberapa point yang dapat dikemukakan. Bahwa peran orangtua di sini sangat besar terhadap kematangan dan kedewasaan bagi sang anak. Maka perlu pendewasaan diri orangtua dalam menghadapi berbagai kasus anak dan pergaulannya. Sikap represif dominatif atau sikap acuh atau cuek, keduanya sama sekali tidak tepat. Pendekatan secara partisipatif, untuk mau mendengar dan hadir di sampingnya, dan melihat aspek-aspek mental sosial anak secara moderat dan kritis. Akan lebih juga dibarengi dengan pendekatan spiritual yang selama ini jarang dilakukan di masyarakat perkotaan. Wallahua’lam

Gandul, 7 April 2007
Andi R. Arifianto

Friday, March 30

Memahami Pendidikan Melalui Kebudayaan


tulisan ini ditulis oleh dosen favorit saya, Prof. Dr. Achmad Fedyani Saefuddin, Guru Besar UI, pernah dimuat di kompas tanggal 23 Juli 2005

Memahami Pendidikan Melalui Kebudayaan
- Peristiwa Berulang, Ekspresi Suatu Pola -

Di sebuah desa kita, tahun 2002, penulis mengamati tiga peristiwa yang menginspirasi tulisan ini. Meski sekilas ketiganya tampak biasa-karena itu tidak menarik perhatian banyak orang-namun bagi dunia antropologi ia punya makna tertentu.

Pertama, seperti biasa, anak-anak SD berseragam kemeja putih celana merah maron pulang berjalan kaki. Mereka bersenda-gurau, kadang terjadi perkelahian gara-gara tersinggung. Begitu berkelahi, yang kalah lari pulang sambil menangis. Orangtuanya kaget dan langsung naik pitam menyaksikan anaknya menangis dipukul temannya.

Tak pikir panjang, orangtua langsung pergi ke rumah orangtua anak yang memukul. Terjadi pertengkaran mulut antar orang tua. Tetangga di sekitar berdatangan menonton. Pertengkaran baru berakhir ketika salah seorang tetangga melerai.

Beberapa hari kemudian, peristiwa yang mirip modusnya terjadi lagi. Orang-orang sekitar mengatakan bahwa anak-anak berkelahi sepulang sekolah sudah biasa. Anak-anak tetap anak-anak. Tak lama setelah kejadian itu, mereka kembali rukun, bermain bersama, bersenda-gurau. Sebaliknya, orangtua tidak semudah itu melupakan permusuhannya.

Kedua, di sebuah kelas I SMP. Anak-anak duduk tertib, menyimak guru yang sedang mengajar. Berkali-kali terdengar seperti koor, anak-anak melanjutkan kalimat akhir guru. Guru mengatakan: "Dalam hidup bermasyarakat, kita harus hormat-menghorma....tiii." "Dalam hidup sehari-hari, kita harus memelihara keruku...naaan."

Di ruang kelas yang lain, guru minta anak didik untuk membaca buku wajib alinea demi alinea, dan mempelajari (menghafalkan) teks-teks tanpa salah. Salah seorang anak yang dianggap paling pandai biasanya disuruh maju ke depan papan tulis untuk menuliskan beberapa alinea dari sebuah buku pegangan, dan siswa lainnya menyalin ke buku tulis masing-masing. Usai menyalin, guru menyuruh mengumpulkan semua buku tulis itu, dan memberikan nilai. Anak yang tidak mengerjakan tugas dengan baik biasanya mendapat hukuman. Mereka disuruh menulis di buku kalimat seperti : "Saya tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi", atau "saya tidak akan malas lagi", 100 kali.

Guru mengatakan bahwa semua ini untuk menegakkan disiplin anak. Mereka mengatakan bahwa hukuman yang kini diterapkan sudah jauh lebih ringan, karena dahulu anak-anak dijemur di bawah tiang bendera, lari keliling lapangan sekolah, bahkan dipukul oleh guru. Ketiga, Sabtu pukul 13.00 di suatu SMP. Sekelompok anak kelas II berlatih melaksanakan upacara penaikan bendera untuk Senin. Dengan arahan guru pelatih, tiga anak bertugas menaikkan bendera merah-putih, satu komandan upacara, dan satu pembaca teks Pancasila. Sesekali pelatih berteriak marah karena kesalahan-kesalahan yang dibuat anggota kelompok. Komandan upacara berdiri kurang tegap, lengan dan siku terlalu bengkok ke depan saat memberi hormat kepada pimpinan upacara, suara kurang lantang, atau wajah kurang serius. Kesalahan pengerek bendera lain lagi. Mengikat tali bendera ke tiang terlalu longgar, bendera terlalu cepat sampai di puncak padahal lagu Indonesia Raya belum selesai, berbaris kurang serempak, atau salah ketika melipat bendera. Kesalahan pembaca teks Pancasila tak kalah serius. Saat maju kurang tegap, membawa map teks tidak rapi, siku bengkok saat membaca, atau membaca kurang lantang. Maka mereka harus berlatih berulang kali. Bertindak kolektif Ketiga peristiwa mungkin hal biasa bagi banyak orang. Itulah keseharian, yang karena begitu terbiasa, menjadi tidak lagi menarik perhatian kita.

Akan tetapi, apabila kita memandangnya secara agak teoretis, maka ketiga peristiwa di atas sesungguhnya berkaitan satu sama lain dan menjadi bermakna. Bagi antropolog, peristiwa itu mengandung makna tertentu. Meski ketiga peristiwa tampak terpisah, mereka berupaya menemukan asosiasi ketiganya untuk memahaminya sebagai kesatuan gejala kebudayaan. Ada suatu isu teoretis yang muncul dari ketiga peristiwa di atas. Peristiwa berulang adalah ekspresi suatu pola. Peristiwa dua anak SD berkelahi, yang kalah lari pulang sambil menangis, kemudian orangtua kedua anak terlibat pertengkaran, ketika berulang hal tersebut menjadi biasa bagi masyarakat bersangkutan.

Profesor Erika Bourguignon (1991), seorang antropolog psikolog, berasumsi bahwa pada suatu masyarakat di mana peristiwa semacam itu menjadi pola, akan mengembangkan suatu generasi yang kurang mandiri, kurang mampu mengambil keputusan individual, dan kurang bertanggung jawab. Anak-anak yang demikian cenderung bertindak kolektif karena sukar menuntut tanggung jawab kolektif. Orang yang berbuat salah dapat berlindung di balik kolektivitas bila ada tuntutan kepadanya.

Contoh kedua dan ketiga sesungguhnya mendukung contoh pertama. Mungkin bisa dikatakan bahwa guru adalah orangtua kedua dalam kebudayaan kita. Profesor John Singleton (1990), antropolog pendidikan, berasumsi bahwa dalam kebudayaan di mana sekolah mempraktikkan hubungan antara guru dan siswa seperti ketaatan antara anak terhadap orangtua, akan menghasilkan pola kebudayaan denganciri-ciri serupa dengan asumsi Dr Bourguignon.

Lalu, apa pasal dengan kondisi masyarakat kita? Kalau refleksi teoretis tersebut digunakan untuk memandang masyarakat kita, mungkin kita dapat turut menjelaskan secara tidak langsung, mengapa berbagai kejadian marak beberapa tahun terakhir.

Tawuran terjadi tidak lagi hanya antarpelajar SMA, tetapi kini sudah melibatkan anak-anak SD hingga mahasiswa perguruan tinggi. Bahkan di kalangan para wakil rakyat kita yang amat terhormat juga terjadi tawuran antarkelompok.

Kalau dahulu, ketika masa ujian, sebagian siswa membuat kertas contekan kecil yang diselipkan di lengan baju, di lipatan celana, atau bahkan ditulis di tangan atau dipaha, sekarang teknologi SMS juga berguna untuk mendukung upaya itu. Dalam konteks yang lain, korupsi tidak dilakukan sendirian karena menjadi satu dengan kolusi dan nepotisme yang tak lain adalah kolektif sehingga ada orang membuat istilah baru, korupsi berjamaah.

Maka, terlepas dari isu provokator yang populer semenjak beberapa tahun yang lalu, barangkali kita sangat perlu mengkaji akar dari persoalan ini sehingga memahami apa yang harus berubah atau diubah. Mungkin pemahaman tentang budaya pendidikan kita selama ini secara lebih luas dapat menjelaskan sesuatu.

Anggota Forum Kajian Antropologi Indonesia, Pengajar pada Departemen Antropologi FISIP-UI

Thursday, March 29

Catatan Lapanganku


Selasa sore rencana saya bertemu dengan informan baru, adik dari Dias, informan yang minggu lalu saya wawancarai. Namun sebelum waktunya saya dapat kabar kalau batal. Selesai kuliah aku sengaja ke mall untuk sekedar ambil foto. Aku lewat belakang mall, dari depan fakultas kesehatan masyarakat UI. Karena hari sudah mulai agak sore saya cuma ambil setting lokasi foto di dalam saja. Dari lantai 3 atas tempat biasa saya ketemu informan, saya langsung ke lantai bawah. Situasi dalam mall dan beberapa gerai tengah mall juga saya foto.

Karena baterai drop aku kembali isi dan rencana balik. Tiba-tiba dalam perjalananku pulang, aku dapat sms kalau dias sudah dapat gantinya, ditunggu ditunggu jam 6 di mall, di tempat biasa. Aku langsung siap-siap di kos dan secepatnya kembali ke mall. Aku naik ojek biar tidak ribet dan cepat sampai tujuan. Jam menunjukkan hampir pukul 19.00 malam.

SUKA KOLEKSI AKSESORIS DAN BAJU
Sejak dia tinggal di Tangerang ia sudah suka mall. “Dulu waktu SMP di Tangerang aku sering ke mall, setiap habis sekolah aku senang jalan-jalan di mall”, katanya. Sampai sekarang juga setelah pindah ke Depok dia masih tetap suka ke mall, namun tidak tiap hari. Ketika saya tanya ngapain pergi ke mall, jawabnya, “ya cuci mata, kalau lagi tidak ada duit ya cuma keliling gitu” katanya. Namanya Ayu, anak tunggal dari bapak asal Kuningan dan Ibu dari Sidoarjo, sekarang tinggal di Vila Santika Tanah Baru Depok. Sekolah di SMA Sejahtera I Depok kelas 1 SMA.

Di mall ia suka cari berbagai macam model baju yang lagi tren dan aksesoris untuk koleksi. Suka warna pink, dan koleksi boneka Barbie. Semua aksesorisnya semua berwarna pink. Dari gaya berpakaian saat itu walau masih pake seragam sekolah dengan rok sebatas paha dan bajunya dikeluarin, warna pink dominant pada seluruh aksesoris yang ia pakai. Dari atas, antingnya sampai jam tangan, gelang, tasnya, kaos kakinya semuanya berwarna pink. Saya tentang kamar dan barang-barangnya apakah juga berwarna pink, jawabnya yaa dong. Mulai gorden, selimut, sprei dan lain-lain. Dalam urusan baju nampaknya remaja ini suka yang tidak ribet alias suka yang fleksibel. Ia selalu ikutin informasi mengenai trend an gaya busana dari media-media yang ada. Akunya ia sudah punya tempat-tempat boutique dimana ia suka menemukan baju-baju kesukaannya.

Gaya hidup dan tuntutan kehidupan sosial yang membuat benda seperti baju-baju koleksinya Ayu menjadi semacam totem (dalam pemahaman tradisional) untuk mengkomunikasikan identitas sosial yang mencolok. Di dunia modern ini, sistem pakaian sudah bergeser fungsinya sebagai penutup atau menghangatkan badan, tetapi sebagai kode simbol yang digunakan pemakainya untuk mengkomunikasikan keanggotaan mereka dalam kelompok sosial, menurut Sahlin ketika bicara tentang totemisme di zaman modern ini. Dengan model pakaiannya Ayu berpikir dan berusaha menstandarkan dirinya bahwa ia adalah seorang remaja putri yang berkecukupan, modist, tidak ketinggalan jaman dan cukup trendi. Ia tidak sama dengan penjual makanan di pasar atau tidak berperan hanya sebagai ibu rumah tangga. Selain itu ia cukup percaya diri dan senang dengan warna pink. Di sekolah ia ikut beraktifitas sebagai pengurus OSIS bidang tata usaha dan kewirausahaan.

PERAN KONTROL KELUARGA PERLU
Jika ada waktu kosong dia bersama temannya main ke mall. Masuk sekolah siang pukul 13.00 dan pulang pukul 17.00. Biasanya dia tidak langsung pulang, tapi jalan-jalan dulu. Ortu juga pasti pulang malam, karena dari Jakarta tempat kerja ke rumah di Depok memakan waktu 3 jam. Biasanya kalau mau jalan dia beritahukan dulu pada ortunya. Komunikasi terus ia lakukan jika mau bepergian apalagi jauh jaraknya. Proses infantilisasi (infantilisation) dimana seorang remaja masih belum bisa independen dalam hal ekonomi dan masih bergantung pada ortunya sehingga budaya sang remaja masih dapat dikontrol oleh ortunya”, hal ini berjalan baik dengan ia dengan ortunya. Kadang pula ia ditemani oleh ibunya jalan-jalan di mal. Sebagai anak tunggal ia lebih dibebaskan untuk berinisiatif cari kepuasan sendiri tapi tetap kontrol dari ortu tetap berjalan.

Tempat yang Ayu sukai untuk jalan-jalan adalah di Blok M dan di Mangga Dua. Di dua tempat tersebut banyak macam-macam koleksi yang ditawarkan. Dari yang aksesoris sampai dengan aneka model baju, sangat variatif. Sesekali ditemani dengan temannya, pada weekend dia pergi. Semua boutigue favorit dia, sudah terdaftar betul di kepalanya dan ada semua di nomor handphonenya seperti G. Dorens, Princess, Sakura, dan masih banyak lagi. “pokoknya di lantai empat di mangga dua mall disitulah pusat boutique”, kata dia. “kan murah-murah tapi berkualitas, kalau yang di mallnya ada pusat handycame, computer, biasa bokap nyokap beli untuk dikirim” tambahnya. Peran orang tua sebagai pemeran utama dalam pendidik anak harus paham betul bagaimana mendidik para remaja yang masih labil emosi dan sensitif. Keluarga pada keluarga Ayu, yang saya juga belum bertanya mendalam, kelihatannya demokratis dalam arti masih dalam kontrol orang tua. “ketika saya penasaran mau pake perching, aku dilarang, karena sakit katanya. Trus ketika aku coba pake tato yang hanya berumur 2 minggu, saya pun dimarahi”, ceritanya.

MEMBUAT CITRA DIRI
Jika ke mall bersama ibu ia suka jajal makanan yang aneh-aneh. Tapi kalau usai sekolah ia lebih suka pergi ke ITC Depok sebab banyak aksesoris di sana dibanding mall-mall lain di Depok. Tapi terkadang di keliling dari Gramedia dulu kemudian ke Detos, lalu ke Margo, trus ke Mal Depok dan terakhir di ITC lalu pulang ke rumah.

Masalah perawatan tubuh ia banyak contoh dari ibunya. Seperti masuk salon ketika ia rasa rambutnya lagi bermasalah atau istilahnya “bad hair dry”. Biasanya hanya satu atau dua minggu sekali. Hal-hal lain yang ia sukai adalah seputar dunia olahraga. Khususnya sepak bola ia sangat suka dengan club Chelsea dari Inggris, ungkap remaja putri yang memakai Nokia 93ai sebagai alat komunikasinya. Namun sayang sore itu lagi drop batereinya, lupa di-charge sebelumnya.

Dalam penampilan ia juga sesuaikan dengan gaya anak muda. Ia mengakui banyak dapat informasi dari majalah-majalah atau televisi tengan fashion. Ia melihat dan mengetahui apa yang sedang hangat dalam fesyen, bagaimana memperolah pakaian yang sesuai, bagaimana cara berpenampilannya. Pada akhirnya Ayu akan melihat pada citra fesyen juga sebagai tindakan konsumtif. Tindakan konsumtif ini bisa dianalogkan pada pengertian narsisisme, yang mengevaluasi ulang secara positif sumber kesenangan yang spesifik feminin seperti pakai aksesoris (anting, gelang, kalung dan pernak-pernik) masuk salon, atau bahkan hobi seperti nonton bola oleh Ayu juga bisa dikategorikan pada hal yang sama.

BUDAYA LEISURE TIME
Belum banyak aktivitas yang ia ikuti di luar sekolah. Meski dia sudah survei di beberapa tempat, namun belum dapat juga. Dulu di Tangerang dia sempat kursus bahasa Inggris di BBC.

Sebagai anak tunggal dia tidak pernah merasa kesepian di rumah. Ada saja aktivitas yang ia lakukan. Kalau lagi tidak ada kegiatan apa-apa, dia suka nonton tv. Acara yang ia sukai yaitu wisata kuliner yang dibawakan oleh Bondan Prakoso dan sinetron Intan. Selain itu kadang-kadang ia pergi ke warnet. Kalau sudah di warnet ia betah sampai sejam dua jam. Situs yang sering ia buka adalah friendster. Selain itu kalau jalan malam ia minta ijin dulu ke ortu. Dia tidak pernah menginap di rumah teman.

Kemudian ia memberikan tips bagaimana jika gadis remaja mau pergi ke mall; “Kalau mau belanja ke mall rambutnya dikuncir karena udara panas, kalau pakai baju tidak usah ribet-ribet agar mudah kalau ingin mencoba baju baru, makan di rumah supaya tidak pingsan, terus pake celana pendek sedengkul atau di atas dengkul tergantung udaranya”, begitulah tips yang ia dapat di majalah dan senantiasa ia praktekkan ketika mau pergi ke mall.

Budaya kapitalisme yang tengah menyerang dan melanda di Indonesia menciptakan budaya pada masing-masing kelas ekonomi, ras dan jenis kelamin. Masa luang atau kosong (leisure time) cenderung diarahkan pada kepuasan-kepuasan pribadi seperti nongkrong di kafe, nonton bioskop, pergi ke mall, dan lain-lain. Sedangkan para remaja yang masih kurang banyak pengalaman cenderung mengambil kesempatan tersebut dari informasi global yang masuk dari mana saja, dari media, dari iklan, dan lainnya, sesuai dengan pilihan hatinya. Namun menurut Clark dan Critcher (1985) punya argument bahwa waktu kosong pada masyarakat kapitalisme tidak hanya berurusan dengan pilihan yang sederhana, atau peran identitas, tapi cenderung pemaksaan pada kelas, ras dan jenis kelamin.

Melihat cara Ayu dalam menggunakan waktu kosongnya dengan jalan di mall, pergi ke salon, nonton, online di warnet dan lainnya, memperlihatkan globalisasi dan implikasi dari budaya kapitalis yang tengah melanda para remaja.

Depok Town Square
Selasa, 27 Maret 2007

Andi R. Arifianto

Monday, March 19

BUDAYA FUN BERGOSIP


Sungguh tidak etis membeberkan aib orang lain. Cukuplah seorang dengan kearifannya, melihat aibnya sendiri dan berusaha memperbaikinya. Ironisnya hal yang privat seperti ini sudah menjadi konsumsi publik. Menjadi suatu berita yang laku. Memperoleh rating pembaca, penyimak dan pendengar yang paling tinggi bersaing dengan berita kriminal dan politik. Simak saja aneka macam acara infotainment di televisi-televisi. Ada insert (info selebritis), kiss (kisah seputar selebritis), dan lain-lainnya.

Apa manfaatnya. Sebagai pendidikan atau pelajaran bagi lainnya. Menurut saya tujuan itu terlalu mengandai-andai. Telah banyak pelajaran moral dari orang tua, dari guru sekolah maupun dari guru agama kita. Tidak baik membeberkan aib orang lain atau mencari-cari kesalahan orang lain. Bukankah kita diminta untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak mendatangkan kebaikan buat diri kita.

Pesan religi ini harap dipertimbangkan : “Jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya”. Ini menandakan perbuatan ini banyak membuat korban yang dibicarakan sakit hati dan nelangsa. Bagaimana tidak, kekurangan, kelemahan, kejelekan dirinya diketahui oleh orang banyak. Sikapnya akan tidak normal lagi terhadap dirinya disebabkan isu tadi.

Kalau dipikir-pikir ini adalah perbuatan jahat dan mendatangkan dosa. Akan lebih baik ia bermuhasabah diri. Bukankah dia juga punya kelemahan, kekurangan, kejelekan, aib dan dosa. Setiap manusia dikaruniai kelebihan, di saat yang sama juga diberi kekurangan dan kelemahan. Disitulah letak ketidaksempurnaan manusia, walau Tuhan menciptakan manusia sebaik-baik ciptaannya. Tapi ia akan menjadi buruk bahkan lebih buruk lagi dari binatang jika ia tidak menggunakan berbagai karunia Ilahi yang tak ternilai harganya untuk selalu berbuat baik. Punya mata tapi tak melihat. Punya telinga tapi tak mendengar. Punya akal tapi tak berpikir. Subhanallah

Namun hukum karma akan berlaku di sini. Ingat pesan Tuhan bagi yang dapat menyembunyikan aib saudaranya niscaya aibnya sendiri akan disembunyikan. Dan barangsiapa yang seenaknya membuka aib orang lain, suatu saat nanti aibnya juga akan diketahui orang lain. Wallahu a’alam bisshawab.

Tulisan di bawah ini adalah tulisan Bapak Kyai saya, KH. Hasan Abdullah Sahal mengenai hal gosip dan perlu dibaca.

BAHAYA GOSIP

Firman Allah SWT.
“Dan janganlah sebagian kalian menggunjingkan sebagian yang lain. Adakah seorang diantara kamu suka makan daging saudaranya yang mati? Maka tentunya kamu merasa jijik kapadanya”.

Nabi Muhammad Saw bersabda: “Diam itu bijaksana dan sedikit pelakunya”.
Ibnu Mas’ud berkata: “ Demi Alloh yang tiada tuhan selain Dia, tiada sesuatu yang lebih perlu ditahan dalam waktu lama daripada lidah.”


Beberapa kejelekan lidah:

Pertama: bicara yang tidak berfaedah.karena telah menyia-nyiakan waktu.
Rasululloh bersabda: Termasuk kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak perlu baginya.

Kedua: kelebihan bicara.
Rasululloh bersabda: beruntunglah orang yang menahan lidahnya dari bicara yang berlebihan dan membelanjakan kelebihan hartanya.

Ketiga: berbicara tentang kebatilan dan maksiat.
Alloh berfirman: Dan adalah kami membicarakan yang batil bersama orang-orang yang membicarakannya. (Al-Muddatsir:45)

Keempat: Perdebatan dalam menyebut hal-hal terlarang yang sudah ada atau merencanakan untuk melakukan perbuatan terlarang.
Nabi bersabda: Jangan mendebat saudaramu dan jangan bergurau dengannya serta jangan menjanjikan sesuatu, lalu engkau mengingkarinya.

Kelima: Permusuhan.
Dari Aisyah Rosulullah bersabda: Orang yang paling dibenci Alloh adalah yang paling keras permusuhannya.

Keenam: berlebih-lebihan dalam berbicara dengan memaksakan sajak dan membuat-buat.
Nabi bersabda: Aku dan orang-orang bertaqwa dari umatku bersih dari memaksakan diri. Dari Fatimah Rosululloh bersabda: Sejahat-jahat umatku ialah orang-orang yang diberi kenikmatan, memakan berbagai macam makanan dan memakai berbagai macam baju serta berlebih-lebihan di waktu berbicara.

Ketuju: memaki dan berkata keji.
Nabi Saw bersabda: Janganlah kamu berkata keji, karena Alloh tidak menyukai perbuatan dan perkataan keji.

Kedelapan: laknat terhadap hewan, benda mati dan manusia.
Nabi Saw bersabda: Orang mukmin itu tidak suka melaknat.

Kesembilan: nyanyian dan syair.
Nabi bersabda: penuhnya perut diantara kalian dengan nanah lebih baik baginya dari pada dipenuhi syair.

Kesepuluh: senda gurau.
Nabi Saw bersabda: Jangan mendebat saudaramu dan jangan bersenda gurau dengannya.

Kesebelas: mengejek dan mengolok-olok.
Alloh SWT berfirman: Janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain.

Keduabelas: menyebarkan rahasia.
Nabi Saw bersabda: pembicaraan diantara kamu adalah amanat.

Ketiga belas: Janji dusta.
Alloh SWT berfirman: Hai orang-orang yang beriman penuhilah akad-akad itu (Al-Maidah:1)

Keempat belas: dusta dalam perkataan dan sumpah.
Nabi saw bersabda: Sesungguhnya dusta adalah satu pintu dari pintu-pintu munafik.

Kelima belas: Ghibah (menggunjing orang)
Nabi saw bersabda: Janganlah kamu melakukan ghibah, karena ghibah itu lebih berat dari pada zina, sebab apabila orang berzina, lalu bertobat, maka Alloh menerima tobatnya, sedang pelaku ghibah tidak diampuni dosanya hingga dimaafkan oleh orang yang digunjingkannya.

Keenam belas: namimah (mengadu domba)
Dikatakan dalam sebuah hadist: Tidak masuk surga orang yang kerjanya mengadu domba.

Ketujuh belas: pembicaraan orang yang mempunyai dua muka (munafik), ikut sana ikut sini.
Dari Amar bin Yasir Nabi saw bersabda: Barang siapa mempunyai dua wajah di dunia, ia pun mempunyai dua lisan dari api di hari kiamat.

Menggunjing (ghosib)
Rosululloh saw bersabda dalam hal pergunjingan: Menggunjing adalah ketika kamu menyebut orang dengan kekurangan tubuh, keturunan, perbuatan, perkataan, agama, dan dunianya sampai kepada pakaiannya.
Sebuah riwayat menceritakan bahwa ada seorang wanita pendek datang pada Nabi saw, untuk memenuhi keperluannya. Setelah dia keluar berkatalah Aisyah “Alangkah pendeknya perempuan itu.” Lalu bersabdalah Nabi saw: “Engkau telah menggunjingnya hai Aisyah.” Kemudian Nabi saw melanjutkan sabdanya: “Takutlah kamu pada pergunjingan, karena di dalamnya terdapat tiga macam bencana, yaitu tidak dikabulkan do’a bagi orang yang melakukannya, tidak diterima kebajikannya, dan bertumpuklah kejahatan-kejahatan dalam dirinya.”
Dari Anas bin Malik ra. Dia berkata, Rosululloh bersabda: “Pada malam aku diisro’kan aku melewati beberapa kaum yang mencakar mukanya dengan kuku-kukunya sendiri dan makan bangkai. Aku bertanya.”siapa mereka itu hai Jibril?” Dia berkata,”Mereka itu adalah orang-orang yang suka makan daging manusia ketika diduna (menggunjing)”.
Hasan ra. Berkata: ”Demi Alloh, sesungguhnya pergunjingan lebih cepat merusak agama seseorang daripada penyakit yang merontokkan pada jasad manusia”.

Yang diperbolehkan dalam Ghibah
Seseorang dalam melakukannya harus mempunyai tujuan yang benar menurut syara’. Antara lain:
1. Mengeluhkan kedzoliman, seperti orang yang mengeluhkan kedzoliman seorang hakim.
2. Meminta tolong untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang durhaka kepada kebaikan.
3. Meminta fatwa dengan mengatakan “Ayah atau saudaraku mendzalimiku dalam anu, maka bagaimana jalannya untuk melepaskan”. Sindiran dengan cara seperti ini lebih selamat.
4. Memperingatkan kaum muslimin terhadap kejahatan. Rasulullah Saw bersabda ,”Sebutlah keburukan-keburukan orang kafir untuk memperingatkan orang-orang terhadapnya.”
5. Bilamana ia dikenal dengan nama seperti Al-A’raj (sipincang) atau Al-A’masyi (sirembes), maka perkataan itu tidak dilarang.
6. Berbuat kefasikan terang-terangan minum khamar.

Wallahu a’lam bisshawab

Monday, March 12

Gempa di Padang


Beginilah gambaran gempa yang terjadi di Sumatera Barat. Bedanya dengan Yogyakarta, terletak pada medannya. Di Ngarai Sihanaouk, bukit yang curam dan rumah-rumah penduduk di atasnya nyaris longsor ke kedalaman jurang yang cukup tinggi. Sebuah pemandangan yang tragis. Belum lagi beberapa kawasan yang jaraknya satu sama lain berjauhan dan medan yang sulit.
Gempa yang berkekuatan 5,8 Skala Ricther mengakibatkan hampir seluruh kabupaten di Sumbar rusak. Hanya kota Padang saja yang tidak terlalu parah. Wasekjen DPP PPP, Husnan Bey Fananie, beserta rombongan dari Jakarta membawa bantuan untuk korban gempa. Bantuan berupa aneka makanan, beras 10 ton, sarung, dan kebutuhan lainnya, dibagikan di wilayah sekitar danau singkarak, tanah datar, dan Solok. Kesulitan medan yang membuat tidak bisa ke Payakumbuh dan Padang Panjang.
Lain di Sumatera Barat lain di Manggarai. Gempa yang terjadi di Manggarai NTT telah menimbulkan banyak kerusakan. Belum banyak bantuan yang datang disebabkan oleh sulitnya medan. Banyak longsoran-longsoran tanah yang membuat jalan putus dan tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Semoga para korban gempa diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi musibah ini. Sebab di balik musibah pasti ada hikmah yang tersembunyi yang khusus diberikan pada mereka yang berusaha untuk bangkit kembali.
"Dan musibah menimpa mereka, mereka berkata 'Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya kita akan kembali pada-Nya' ".