Sunday, July 27

Cerita Gadis Gadis Riyadh

Sehari setelah kedatangan saya di Jakarta. Saya pakai untuk membaca buku novel setebal 406 halaman ini yang saya temukan di tempat saudara. Sebuah novel yang bertutur tentang kisah empat orang sahabat (perempuan semua) dari Riyadh. Judulnya "The Girl of Riyadh". Kabarnya buku aslinya ditulis dalam bahasa Arab dilarang beredar di Arab Saudi. Tapi naskahnya sudah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa Asing, termasuk bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Ramala Books Jakarta.

Keunikannya dari tulisannya selain karena memang betul kisah nyata, bahwa semua rangkaian cerita tersebut rutin ditulis secara berkala oleh penulisnya melalui email yang dapat dinikmati melalui dunia maya, internet. Setiap Jum'at penulis mengirimkan lanjutan ceritanya melalui group emailnya, (seerehwenfadha7et@yahoogroups.com). Jumlah semuanya ada 50 buah email. Ditulisnya dari tanggal 13/2/2004 dan ditutup pada 4/2/2005. Genap setahun lamanya.

Selama rentang waktu itu, tulisan ini mengundang banyak tanggapan. Ada yang menanggapi positif, negatif, marah, benci, sedih dan lain sebagainya. Setidaknya, setiap awal pekan, hari Sabtu, isi email tersebut menjadi topik diskusi di setiap sudut kota dan warung-warung kopi.

Pada setiap awal email, selalu ia mengawali dengan bait syair dari penyair terkenal atau ayat suci al-Qur'an. Tak ketinggalan, ia menceritakan pula tentang email-email yang sampai kepadanya. Respon dari email minggu lalu dan email-email sebelumnya ia ringkas menjadi intro dari kisah barunya.

Meski dinilai dari pihak Arab, banyak mengungkapkan aib bangsa Arab sendiri, khususnya wanita Arab. Ia bersikukuh bahwa ia hanya mengungkapkan realitas yang selama muncul di dunia Arab. Suatu hal yang tabu memang tapi perlu disuarakan, menurutnya. Karena ia ibarat bom waktu. Suatu saat akan meledak dengan dahsyat. Ia mengungkapkan suatu realitas yang menimpa para perempuan yang hidup di sebuah negeri yang tidak bisa lepas dari kemodernan tapi tuntutan adat dan aturan tidak boleh dilanggar. Bagaimana seharusnya mereka bersikap?

Ada isu gender, isu kekuasaan, globalisasi, isu kontestasi, isu nilai-nilai adat, superioritas, dan terlebih lagi adalah nilai-nilai agama. Keempat sahabat itu ialah Shedim, Qamrah, Michelle, dan Lumeis.

Saya terkesan pada sebuah bait puisi yang ditulis di email ke-49 dari seorang penyair yang sering dikutip oleh penulis;

Kalau kutahu cinta itu berbahaya sekali, aku tidak akan mencinta
Kalau kutahu laut itu dalam sekali, aku tidak akan melaut
Kalau kutahu akhir semua kisah, tak kan mungkin kumulai merajutnya
(Nizar Qubany)

Seperti layaknya film serial yang seri berikutnya penuh dengan teka-teki. Dari satu email ke email berikutnya selalu mengundang misteri. Onak dan misteri kehidupan ini seolah-olah tidak bisa diterka. Rahasia Ilahi. Nasib. Sebuah garis kehidupan.

Sebenarnya cerita patut dihargai sebagai langkah berani. Berani untuk menyatakan bahwa saat sudah tidak jaman jahiliyah lagi. Tidak lagi jaman Fir'aun. Wallahua'lam.

Wanita sebagaimana ibu kita, punya peranan yang sama besarnya dalam keluarga dibanding seorang Ayah. Tidak boleh direndahkan apalagi menerima kekerasan dan penghinaan. Sebagaimana diungkapkan olehnya bahwa lelaki membutuhkan seorang wanita pendamping yang dapat memahaminya, namun wanita membutuhkan seorang yang mencintainya. Nabi Muhammad pun tidak pernah menyakiti wanita.

Supaya tidak penasaran dan untuk lebih lengkapnya. Ada baiknya anda membaca bukunya sendiri atau ikut bergabung dalam komunitas dunia maya di seerehwenfadha7et@yahoogroups.com. Walaupun tulisan ini sudah terbit sejak tahun 2006. Namun tidaklah ketinggalan jika anda mengikuti kisahnya sekarang.

Selamat membaca!

Kukusan Depok
Ahad 27 Juli 2008


Berikut ini saya nukilkan beritanya dari penerbit versi Indonesianya langsung

THE GIRLS OF RIYADH


Penulis: Rajaa al Sanea
Penerbit: Ramala Books,
Tebal: 406 Halaman


Sekitar empat tahun yang lalu, penulis buku ini sempat membuat geger ara pengguna internet seantero Arab Saudi. Pasalnya, surat-surat elektornik yang ia kirimkan melalui mailist, secara berkala kerap melawan budaya di sana yang tabu untuk dieksploitasi.

Surat-suratnya bertutur soal kisah kehidupan empat cewek yang cukup tragis. Didalamnya mengangkat tema-tema miris soal gender, sex dan ketertindasan para kaum hawa yang terkesan bernilai rendah.


Walaupun dilarang oleh pemerintah Arab, penulis misterius yang belakangan di kenal bernama Rajaa al Sanea ini, akhirnya memberanikan diri untuk membukukan lika-liku riwayat para sahabatnya itu.

Kalau mau tahu sisi lain dari cewek-cewek Arab yang nyaris tak sempat terpikirkan, buku ini pas buat jadi bahan informasi. (edi)

18 FEBRUARI 2008

BASKO; Fenomena Seorang Saudagar


Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada' (al-Imron : 140)

Ada yang mengatakan bahwa hidup adalah perjuangan. Manusia diberi kemampuan untuk bisa melawan kehidupan yang keras. Sebagian mampu tegar kokoh menghadapinya, lainnya surut dan terlibas oleh kerasnya hidup. Nasib seperti hidup atau mati, kaya atau miskin, sedih atau bahagia, semua memang sudah takdirnya. Namun manusia tidak disuruh pasif menerima apa yang akan terjadi di depan. Masing-masing diberi kesempatan untuk berusaha (ikhtiar) dan berdoa. Selain itu, selalu berbaiksangka dan bertawakkal pada Sang Pencipta.

Hidup bukanlah sandiwara filem yang dimainkan oleh aktor atau aktris yang diarahkan oleh sutradara. Tapi kehidupan ini laksana rahasia Ilahi yang tak seorang pun mampu menebaknya. Hanya mereka yang diberi oleh petunjuk Ilahi yang mampu menangkap sinyal-sinyal tersebut. Ibarat roller coaster, suatu saat di atas, namun juga harus siap saat di bawah.

Bapak H. Basrizal Koto adalah salah satu dari sekian manusia yang patut menjadi contoh. Seorang saudagar berasal dari Padang. Pengalaman hidup pahit yang ia rasakan di masa kecil telah melecutnya menjadi seperti sekarang ini. Kesulitan hidup yang ia rasakan tidak membuatnya pasrah menerima nasib begitu saja. Dengan bekal tekad dan doa restu sang bunda ia merantau mengadu nasib.

Prinsip-prinsip hidup dari nasehat ibu tak ia lupakan. Berkat kegigihan dan kejujuran dari usahanya, lambat laun berubahlah nasibnya. Usahanya banyak yang sukses. Bahkan saat ini sudah ada 14 perusahaan yang tergabung dalam suatu group, BASKO HOLDING. Tersebar di Jakarta, Batam, Padang dan Pekanbaru. Di samping itu, ia juga diangkat menjadi ketua Forum Silaturrahim Saudagar Minang dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Minang Riau.

Akhir-akhir ini beliau banyak mengisi acara di berbagai forum mengenai pengalaman bisnisnya. Tentunya yang lebih menarik adalah perjalanan hidupnya dari seorang papa menjadi kaya raya. Anak dari keluarga miskin yang merantau dan sukses di perantauan. Suatu pelajaran yang berharga dari seorang anak bangsa yang bermental baja. Seorang saudagar dan entrepreneur.

Undangan ke Riau
Jum’at bulan lalu, 27/06/2008, saya bersama dua teman saya diundang untuk hadir pada acara khitanan putra bungsunya. Selain itu, kami bertiga juga diberi kesempatan melihat secara langsung bagaimana keluarga dan beberapa perusahaan yang ada di Pekanbaru. Suatu kehormatan dan pengalaman yang tak terlupakan.

Tiba di bandara Soekarno Hatta satu jam sebelum take-off. Kami bertemu rombongan dari beberapa staf dan asisten dari Basko Holding yang sama-sama akan ke Pekanbaru. Menurut rencana, setelah acara khitan mereka akan mengunjungi peternakan sapi di Rumbai dilanjutkan keesokan harinya rapat direksi perusahaan. Minggu baru kembali ke Jakarta. Di antara mereka ada yang sudah saya kenal seperti Pak Erjoni Suwikar sebagai direktur Basko Group di Jakarta dan Pak Machman sebagai Internal Control & Accounting.

Pesawat take off pukul 07.10 WIB dan dijadwalkan sampai di Riau pada pukul 08.30 WIB. Perjalanan udara Jakarta – Riau kurang lebih memakan waktu 1 jam 40 menit. Apabila ditempuh dari jalan darat akan memakan waktu 1 hari 2 malam. Tiba di Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru pukul 08.30 WIB. Mobil jemputan telah menunggu di depan bandara yang akan membawa rombongan menuju kediaman Basko.

Perjalanan dari Bandara Sultan Syarif Kasim ke kediaman pak Basko memakan waktu kurang lebih 30 menit. Dari bandara kita menyusuri jalan Sudirman. Bagi saya, ini kali pertama ke Riau. Menurutnya, Riau sekarang, khususnya Pekanbaru, sudah banyak perubahan. Pembangunan dan ekonomi cukup pesat. Uniknya, kemajuan dan pesatnya pembangunan tidak melunturkan akar budaya daerah. Buktinya, beberapa bangunan megah yang dibangun selalu memasukkan unsur bentuk rumah adat Riau sebagai salah satu ciri khas budaya dan identitas kedaerahan. Usaha ini patut dicontoh di beberapa daerah lainnya. Bukankah identitas kebangsaan masih sumir dirasa. Oleh karena itu kita patutkan perjuangkan identitas dan budaya daerah masing-masing. Supaya tidak tergerus oleh nilai-nilai asing.

Acara Khitan


Pukul 09.30 WIB kita tiba di kediaman Pak Basko di Jalan Diponegoro No. 9 Pekanbaru atau di depan Rumah Sakit Umum Daerah. Tempat digelarnya pesta khitan. Rupanya pesta khitan akan digelar besar-besaran. Melihat tenda-tenda dan jumlah kursi undangan yang tidak sedikit. Beberapa kursi dan meja dibuat semacam round-table menghadap pada sebuah panggung. Saat itu hanya beberapa saja yang terisi, sebab acara khitan pagi itu hanya dihadiri oleh keluarga. Undangan baru akan datang pada siang hari dan puncaknya pada malam hari.

Putra bungsu Pak Basko yang dikhitan bernama “Wendoky Putra Basko”. Putra nomor enam dari tujuh bersaudara, adiknya terakhir adalah perempuan. Ia baru duduk Sekolah Dasar kelas lima. Masa-masa liburan kenaikan kelas seperti saat ini dimanfaatkan untuk khitan. Selain itu bisa berkumpul bersama seluruh keluarga di rumah.

Segala kegiatan acara digelar di halaman belakang rumah. Di tengah-tengahnya terdapat rumah panggung yang tingginya kurang lebih 1,5 meter serta mempunyai luas kurang lebih 5 m x 10 m. Menurutnya, rumah panggung yang disebutnya pendopo tersebut menyerupai rumah adat minang. Entah kenapa jarang ditemukan rumah adat minang di Riau ini. Mungkin itu sudah aturannya. Pendopo tersebut difungsikan untuk menjamu para tamu dan kumpul santai keluarga.

Tak jauh dari pendopo sebelah kirinya terdapat kolam renang mini. Gemericik air yang berhamburan di sela-sela bebatuan menambah hangatnya acara. Dendang alunan salawat yang dibawakan oleh group salawatan dari ibu-ibu. Mereka duduk rapi berjejer di tepian tembok rumah pendopo.

Kurang lebih 10 menit setelah kedatangan kita. Seorang pembawa acara mengumumkan bahwa acara khitan akan segera dimulai. Group pengajian rebana dari ibu-ibu yang tak putus-putus mendendangkan salawatan dari tadi berhenti sementara.

Wendoky Putra Basko tengah siap-siap di depan singasana tempatnya duduknya. Ia mengenakan celana panjang berwarna coklat terbuat dari sutra keemasan dipadu dengan baju koko panjang dengan bahan dan warna yang sama. Seorang dokter yang dibantu oleh seorang perempuan yang akan membantu operasi kecil tersebut juga sudah siap. Sebelum mulai dikhitan Pak Basko memberi sambutan kurang dari tiga menit. Intinya, ia berterimakasih atas kehadiran dan doa para hadirin untuk ananda Wendoky yang sedang disunat. Semoga anaknya tersebut saleh dan manfaat bagi dirinya, keluarganya, bangsa dan agamanya, sambutnya yang diikuti oleh ucapan amin dari segenap yang hadir.

Khitan pun dimulai. Dokter yang telah menyiapkan peralatan kedokteran sudah mulai beraksi. Dibantu oleh seorang asisten, dokter tersebut mengerjakan tugasnya dengan santai. Sedangkan Putra Basko tak sedikitpun kelihatan wajah takut di raut mukanya. Bapaknya menungguinya tepat di sampingnya bersama kakaknya, Zico. Sesekali Wendoky tersenyum ketika diajak bicara oleh ayahnya atau kakaknya. Tak terasa khitan sudah selesai. Kurang lebih seperempat jam lamanya. Sekarang, Wendoky sudah berdiri dan bisa mengenakan kembali celana panjang yang berbahan sutera tersebut.

Sambil berdiri ia kembali duduk di singasananya. Beberapa sanak saudara kemudian dipanggil satu persatu untuk memberikan ucapan selamat serta memberikan air yang dipercikkan di wajahnya dengan serangkaian daun. Saya tidak tahu adat apa namanya, lupa, padahal sudah diberi tahu. Dimulai dari amak dan mamak dari pihak ibu yang hadir pada saat itu. Kemudian berurutan Pak Basko, Istri, Kakak laki-laki lalu saudara-saudara laki Pak Basko. Acara selesai pukul 12.00 siang. Rehat sebentar untuk salat Jum’at.

Ba’da Jum’at rencananya akan digelar acara “Babako”. Dalam acara itu, rombongan amak dan mamak Pak Basko yang tinggal di Gobah, suatu daerah di Pekanbaru, akan datang bersama rombongan dengan membawa beberapa barang semacam seserahan. Mereka diarak dengan tabuhan kendang dan rebana. Rombongan ini akan langsung menuju rumah pendopo dimana yang khitan sedang duduk di kursinya. Pada saat itu akan menaruh segala seserahan di sana dan mamak memberi semacam gelang pada yang khitan. Begitulah kira-kira dari apa yang dilihat di lapangan.

Demikian dulu ceritanya, lanjutan berikutnya cerita mengenai keluarga dan peternakan sapinya di Rumbai.

Kukusan Depok
Ahad, 26 Juli 2008

Wednesday, July 9

Yuk Wisata ke Mekarsari

Amazing adalah kata yang telah menjadi slogan arena wisata buah ini, Amazing Tourism Park. Hamparan taman buah yang sangat luas tersebut letaknya di jalan raya Cileungsi - Jonggol Km. 3 Kab. Bogor. Luas kebun 264 ha. Koleksi tanaman lebih dari 100 ribu tanaman berbagai macam buah-buahan.

Selasa sore, 8/7/2008, untuk pertama kalinya saya menyaksikan kebun buah nan luas itu. Banyak sekali pengunjung yang memadati. Di antaranya ada yang datang dengan keluarga, rombongan tour bahkan ada yang cuma datang berduaan. Maklum saat itu masih liburan sekolah. Tapi menurut salah satu karyawan di situ, suasana lebih ramai lagi kalau hari Sabtu dan Minggu.

Tarif masuk lokasi, untuk mobil 20 ribu dan 10 ribu untuk motor. Sedangkan perorang dikenai biaya 10 ribu perkepala. Untuk dapat menikmati keseluruhan areal kebun para pengunjung harus kembali membayar 40 ribu perorang. Dengan biaya tersebut para pengunjung dapat menyaksikan kebun-kebun dengan mengendarai kereta keliling plus pemandunya.

Menurut salah seorang pemandu. Taman Wisata Mekarsari dulunya bernama Taman Buah Mekarsari, baru dua atau tiga tahun ini berubah nama. Terwujudnya taman buah ini adalah prakarsa dan atas inisiatif almarhumah Bu Tien Soeharto. Baru pada tahun 2001 Taman Buah Mekarsari dibuka.

Dari satu kebun menuju kebun lainnya. Saya terkesan dengan cara serta proses pengembangannya. Dari mulai pembibitan, perawatan, sampai pada musim panennya. Suatu proses yang tidak memakan biaya dalam jumlah sedikit. Sehingga kualitas buah juga dapat diandalkan. Hanya saja yang tidak bisa diakali adalah struktur dan jenis tanah yang tidak cocok untuk tanaman mangga dengan berbagai macam variannya. Akibatnya mangga di sana ketika panen tidak semanis mangga yang dapat tumbuh subur di beberapa daerah di Indonesia.

Kurang lebih 2 jam saya keliling di taman buah. Sayang, saat itu tidak lagi banyak musim buah. Sehingga beberapa buah andalan seperti durian, mangga, jeruk tidak lagi panen. Bagi peserta tour keliling taman wisata buah juga hanya diberi sebungkus salah 1/2 kiloan dan dua buah blimbing. Di kebun melon, tempat stasiun pertama, kita diberi tester buah melon yang dalamnya tebal berwarna orange, wuih rasanya muaaaniz banget.

Jadi yang penasaran, silahkan datang saja. Lebih baik diplanning datangnya waktu musim-musim buah tertentu. Misalkan Desember - Januari tuh, waktunya musim durian......

Selamat......

Thursday, June 5

Seminar Nasional di JCC


Seminar Nasional yang bertema Potret Indonesia; 100 Tahun Kebangkitan Nasional dan 10 Tahun Reformasi diadakan di Balai Sidang Jakarta Convention Center Senayan. Hadir sebagai pembicara; Prof. DR. Subur Budhisantoso (Ketua Wantimpres), DR. Yudi Latif (Direktur Reform Institute), Jenderal (Purn) Wiranto (Mantan Pangab), SH., Letjen (Purn) Sutiyoso (Mantan Gubernur DKI), KH. Abdurrahman Wahid (batal hadir), DR. Andi Alfian Mallarangeng (Jubir Presiden), Basrizal Koto (Pengusaha asal Padang), HM. Darmizal, MS. (Ketua Relawan SBY/JK) dan DR. Hery Noor Ali (Alumni Gontor).

Sebagai organizing committee-nya adalah kawan-kawan PAGon (Persatuan Alumni Gontor). Belum lama setelah pendeklarasian PAGon, mereka sudah mengadakan seminar nasional di JCC. Suatu gerakan yang turut memperkuat komitmen nasionalisme dan kebangsaan mereka. Sedianya acara akan dilaksanakan di Aula Departemen Pendidikan Nasional, tapi karena beberapa hal akhirnya dipindah di JCC Senayan.

Selain membicarakan tentang situasi dan kondisi bangsa ini, di akhir acara dibacakan usulan alumni-alumni kepada pemerintah untuk memberi gelar pahlawan nasional dalam bidang pendidikan kepada para pendiri pondok yaitu Trimurti . Selamat dan sukses Pagon atas usahanya, semoga berhasil.

Friday, May 2

Stadion Boeng Karnoe


Sabtu pagi, 12/4/2008, cuaca mendung dan agak gerimis. Matahari belum tampak sinarnya. Hari sudah beranjak siang. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00, namun gerimis belum juga berhenti. Pagi itu saya ingin ikut kawan motret di stadion Bung Karno, Senayan. Kebetulan dia lagi dapat job untuk memotret siswa-siswi SMP Global di daerah Condet. Mereka rencana membuat agenda akhir tahun yang dihiasi foto-foto diri mereka. Semua foto-foto akan diambil di dalam stadion. Biar bernuansa olahraga. Ada-ada saja. Namanya juga anak remaja. Pokoknya pingin yang bisa dibilang sama lainnya, ”keren abiz”.

Kalau dibilang hobi, ini sudah melebihi hobi. Dunia photografi maybe sudah jadi pilihannya untuk mencari ”sesuap nasi dan segenggam berlian”. Malah, mulai akhir tahun kemarin dia sudah buka studio kecil-kecilan di jalan raya Kukusan Depok. Lumayan, banyak juga pelanggannya. Karena selain menyediakan jasa pemotretan, dia juga menyediakan layanan pembuatan kartu nama, kartu siswa, sampai pada usaha pre-weedding. Wah luar biasa yaaa. Memang hidup di dunia memang harus ulet dan berani. Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.


Jika bukan karena tugas. Mungkin kita semua pilih di studio saja. Masih banyak gawean yang belum selesai. Tapi karena sudah janji, mau tidak mau harus berangkat juga. Syukurnya cuaca tidak separah yang kita khawatirkan. Gerimis masih turun tapi lamat-lamat.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 namun belum juga berangkat. Menurut perjanjian sudah harus sampai di tempat pukul 09.00. Planning saya pagi itu mau ke kota. Tepatnya mau ke Pejompongan. Setelah itu akan mampir sebentar di kantor sebuah partai di jl. Diponegoro. Saya pun minta bareng berangkatnya karena satu arah. Saya ingin melihat dan masuk stadion. Bagi saya ini kesempatan pertama. Soalnya seringkali masuk daerah Senayan, paling yang dikunjungi adalah tennis indoor, dan balai sidang JCC Jakarta. Kali ini kesempatan untuk masuk stadion. Bravo, stadion gelora bung karno akhirnya aku masuki juga.


Setelah ngepak barang-barang keperluan yang akan dibawa. Kami berangkat dari studio pukul 08.15. Kami takut sampai tidak tepat waktu. Makanya di jalan kami pun ngebut. Keluarga Cilandak lalu mengambil jalan Mampang – Warung Buncit. Baru belok ke arah jalan Gatot Subroto. Setelah melewati Gedung DPR MPR baru kita belok ke kiri turun di jalan Sudirman. Melalui putaran Sudirman ambil balik arah lalu masuk Senayan. Syukur sekali hari itu Sabtu, jadi lalu lintas tidak begitu padat. Sampai di tempat pukul 09.05, terlambat lima menit. Langsung menuju pintu satu senayan. Ternyata yang jamnya karet adalah gurunya sendiri. Jadi, intinya kita tidak terlambat.


Pemandangan di Senayan tiap weekend selalu saja ramai. Tentu ada semacam acara atau pertunjukkan, untuk gerakan, atau promosi, atau sekedar pagelaran musik. Sebagian juga ada yang sengaja datang ke sana untuk berolahraga. Ada yang berkelompok, ada juga yang berdua, bahkan ada sekeluarga datang dengan mobil. Selain lari pagi memutari stadion, ada sebagian memakai sepatu roda dan bermain futsal. Di jalan masuk pintu satu ada sebuah acara kampanye “green forest” yang diadakan oleh FISIP UI bekerjasama dengan suatu LSM. Terdapat beberapa lapak-lapak, kemah-kemah berwarna putih yang didirikan sepanjang pintu masuk gelora. Mereka ingin mengkampanyekan penghijauan. Sudah banyak bencana yang terjadi karena ulah manusia sendiri. Termasuk juga polusi udara, konon Jakarta adalah kota yang polusinya tinggi selain Beijing Cina. Untuk keperluan itu, maka di pintu masuk ada camp terbuka untuk uji emisi gratis. Di sampingnya sebuah truk polisi siap membantu.


Setelah kawan kami kontak dengan koordinator dari sekolah global, mereka ternyata sudah masuk dan menunggu di pintu enam. Wah, sudah terlambat, merubah janji lagi. Memang dasar, paling susah orang untuk menepati janjinya. Akhirnya kami menuju ke sana, padahal kami sudah parkir motor di depan pintu satu. Cukup mahal juga parkir yang tidak ada lima menit itu. Kita harus bayar masing-masing mo
tor Rp 3000,-, diminta sewaktu parkir oleh seorang penjaga yang sepertinya preman dari Ambon.


Luas juga daerah Senayan. Patut b
angga, di tengah pusat kota masih ada arena bermain yang luas seperti ini. Tidak heran kalau pernah hak pengurusan senayan diperebutkan antara pemerintah kota yaitu DKI dengan Sekretariat Negara atas nama Negara atau pemerintah.
Di depan pintu enam ini baru diset sebuah panggung di tengah-tengah pagar pintu masuk. Sepanjang jalan masuk kanan kirinya dipasang lampu sorot setinggi 2 meter menghadap ke arah gelora. Acara apa ya. Tidak tahu, barangkali untuk dugem nanti malam. Setelah dapat informasi, kalau malam ini akan ada acara hiburan yang diselenggarakan sebuah perusahan motor. Biasa, sekalian promosi. Pantas. Kawan saya sudah bertemu dengan koordinator yang datang sendirian waktu itu. Sedangkan anak-anak yang datang baru 5-6 orang dari 23 orang rencana.

Sambil menunggu yang lainnya kami izin untuk sarapan dulu.
Jangan heran kalau kawasan se-elit Senayan ada pedagang kaki lima. Meskipun mayoritas pengunjung di situ berkelas tetap saja mereka menikmati hidangan dan menu PKL tadi. Berbagai menu dan hidangan tersaji disitu. Tapi juga jangan heran kalau harganya tidak wajar. Harganya bisa tiga sampai empat kali lipat harga normalnya. Bandingkan saja, pecel lontong yang kita beli saat itu seporsi harganya 7 ribu. Kalau saya beli di Ciputat harganya seporsi hanya 1.500 rupiah. Ahhh, nggak papa yang penting kenyang. Kurang lebih setengah jam kita sarapan. Pukul 10 lebih dikit teman saya dibel kalau siswa-siswi sudah pada berkumpul. Kami bergegas masuk stadion dari pintu VI, lewat kantor PB Percasi dan tembus dari bawah stadion. Ternyata pintu keluarnya tepat di bawah tempat duduk penonton stadion. Walah-walah ini tah yang namanya stadion Bung Karno. Stadion yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia sejak dulu. Luas dan megah. Jauh sekali bedanya dengan stadion-stadion di daerah yang pernah saya masuki; stadion kridosono, sriwedari, gajayana dan lain-lain. Selain lebih terawat, juga lebih mewah dan megah. Suatu saat nanti saya mau menyaksikan pertandingan di dalam stadion ini. Entah kapan. Kedua teman saya lalu mengeluarkan perlengkapan untuk memotret dari tas ranselnya. Sedangkan anak-anak diminta untuk ganti kostum dengan kostum sepakbola yang masing-masing sudah prepare sebelumnya.

Sambil menunggu siapnya mereka, kami pergunakan untuk foto-foto dulu. Wah lumayan bisa bergaya dengan bermacam-macam gaya. Tak terasa sudah pukul 11.00 siang. Saya lalu pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Pejompongan.

Suatu pengalaman yang menarik.
Kukusan, 14 April 2008

Sunday, February 3

Catatan mengenai disiplin


Sudah seminggu ini saya berada di lapangan. Beberapa pengamatan dan interview juga sudah saya lakukan. Sebagian sudah saya tulis. Sebagian masih berupa rekaman. Namun untuk menyelesaikan tulisan sekaligus teramat sulit bagiku. Untuk lebih mengefisiensi kerja lapangan strategi saya adalah dengan cara mencicil tulisan. Terkadang jika badan lagi enak dan kondisi fit saya kejar untuk menulis apa saja yang sudah amati dan lakukan interview. Hasilnya, alhamdulillah, sedikit banyak sudah terselesaikan. Minggu ini saya mendapat data masukan penting dari interview bapak Pimpinan, KH. Abdullah Syukri.

Kegiatan yang terus menerus berjalan seperti mata rantai yang tiada ujung. Seorang pimpinan yang sudah meninggal, KH. Imam Badri, pernah berujar "al ma'hadu la yanaamu abadan" (pondok tidak pernah tidur). Artinya, pondok tidak pernah istirahat dari kegiatan. Satu selesai, sudah masuk ke kegiatan baru. "faidza faraghta fansob" (maka apabila kamu sudah selesai - mengerjakan sesuatu - maka gantilah dengan pekerjaan yang lain). Begitu pula yang diungkapkan oleh Direktur KMI, alm. Ust. Ali Sarkowi, melihat kegiatan santri yang begitu dinamis berkait dengan disiplin waktu, "a'maaluna aktsaru min auqootina" (tugas-tugas kita lebih banyak daripada waktu yang ada). Beliau melukiskan betapa banyak tugas dan pekerjaan santri sampai-sampai kapasitas waktu yang terbatas 24 jam sehari saja tidak cukup.

Dengan pertimbangan tersebut, saya pun tidak bisa terus menerus mengikuti seluruh kegiatan yang ada. Saya musti pandai-pandai memilih setiap momen yang lebih penting untuk diamati dan ditelusuri, khususnya yang bersangkutan dengan topik disiplin dan pendisiplinan. Hal-hal yang melukiskan bagaimana disiplin pondok dijalankan dan bagaimana perilaku disiplin santri. Tidak hanya terbatas santri saja. Guru dan beberapa pengurus juga saya amati.

Kembali ke lapangan, empirik, empirik. Begitulah pesan dosen untuk lebih memperkaya data dan mencatatnya secara sistematis melalu fieldnote. Sebagai seorang peneliti kamu harus mengungkapkan fakta apa adanya, seperti pesan Pak Afid sebelum turun ke lapangan. Pesan itu terus menerus terngiang setiap melihat beberapa realitas-realitas menarik di pesantren. Namun perasaan sebagai orang yang dulu pernah di dalam, bagi saya, beberapa realitas nampak seperti sudah sering saya lihat. Perasaan inilah yang perlu saya kikis sekuat mungkin untuk menghindari ketidakobjektifan dari penelitian ini. Saya sadar sepenuhnya justru di situlah letak keunikannya yang harus kamu ungkap. Bagi kamu itu suatu yang wajar, tapi bagi orang lain itu suatu hal yang baru, sebagaimana teman-teman di kampus mengingatkan saya.


Memang betul. Di sekolah mana siswanya yang susah payah membawa piring masuk kelas. Di sekolah mana yang dengan sengaja seorang anak memalsukan alat perizinan untuk tidak masuk kelas. Di sekolah mana seorang siswa level tingkat menengah/atas diberi tanggungjawab untuk mengatur dan mengasuh 250 anak secara lahir batin di dalam asrama. Akhirnya, di sekolah mana di Indonesia yang menerapkan disiplin secara komprehensif berdasarkan nilai-nilai, visi misi dan motivasi yang benar. Motivasi pendidikan yang dimaksudkan adalah kemasyarakatan. Sehingga anak-anak diberi bekal bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga ketrampilan, pengalaman, moral dan spiritual. Dengan begitu siswa akan berdisiplin dengan memahami aturan-aturan dan setiap kebijakan yang diberikan atas mereka. Semua dalam rangka untuk melatih, untuk mendidik.


Sadar berdisiplin. Itulah tujuan dari disiplin yang diterapkan dengan ketat. Tidaklah sama sekali bermakna dengan kekerasan. Sebab untuk mendidik disiplin itu butuh pemaksaan. Pemaksaan di sini adalah latihan bukan kekerasan. Sebagaimana beberapa penelitian di lapangan sebelumnya (syukur: 1979) bahwa secara psikologis, sosial maupun kualitas ibadah, disiplin tidak menjadi penghalang atau troublemaker bagi santri dalam meraih prestasi akademiknya. Justru menjadi proses penyadaran santri terhadap misi pendidikan di Gontor yaitu untuk mendidik pemimpin-pemimpin, tidak cuma sebatas mendidik anak menjadi baik. Suatu cita-cita mulai sebagai wujud dari kaderisasi umat.

Maka, proses pimpin memimpin terjadi sejak dia masuk pondok. Baik dari skala kecil, dari menjadi ketua kamar, atau ketua kelas, sampai ke skala besar nanti di organisasi saat kelas lima atau enam. Motonya adalah "siap memimpin dan siap dipimpin, patah satu tumbuh seribu". Artinya, seorang pemimpin juga ikut belajar dengan kedudukannya dan tidak berlaku lagi kepemimpinan dengan gaya feodal (minta dilayani). Seorang pemimpin harus menguasai masalah segenap seluk beluk yang dipimpinannya. Dengan segala kelemahan dan kekurangannya dia harus berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan dirinya dengan kepemimpinannya. Sehingga suatu saat dia juga siap dipimpin oleh orang lain. Dengan itu dia bisa introspeksi diri.

Saat memasuki kampus Gontor terpampang tulisan di atas tembok sebuah gedung yang menghadap ke jalan "Ke Gontor Apa yang Kau Cari". Niat dan motivasinya apa kamu masuk pondok. Disuruh atau dipaksa orangtua, atau karena kamu nakal di luar bagi kamu pondok bisa mengobati kenakalanmu, atau memang murni ingin mendapat pendidikan dan pengajaran di pondok. Saat seorang santri didaftarkan ke pondok, orangtuanya juga diharuskan bersedia mengisi surat pernyataan yang isinya menyerahkan secara bulat-bulat kepada pondok dan rela segala kebijakan yang akan diterima siswa dari bapak pengasuh. Begitulah, untuk melihat menilai secara objektif fenomena berdisiplin dan pendisiplinan di pondok tidak bisa terlepas dari kedua hal tadi, motivasi dan niat, dari masing-masing siswa.


Sunnah atau disiplin di pondok akan terasa berat dilakukan tanpa suatu idealisme yang kuat. Idealisme seorang santri di pondok modern berasal dari nilai-nilai filosofis serta nilai-nilai Islam yang universal. Bagi yang insyaf dan sadar akan merasa ringan dan sudah biasa. Namun bagi yang hanya pragmatis dan formalis saja, akan terasa berat. "Sebesar keinsyafaanmu sebesar itu pula keuntunganmu", "Hanya orang yang pentinglah yang tahu akan sebuah kepentingan".


Dalam setiap kesempatan, pengasuh dan segenap pembantu-pembantunya melakukan pengarahan dan bimbingan terus menerus. Untuk memahamkan terhadap nilai-nilai dan tujuan berdisiplin tersebut. Bahkan setiap bagian sudah punya standar operasional disiplin, baik tertulis maupun tidak. Standar tersebut juga tidak terlalu mutlak sebab tiap kali bisa berubah. Hanya yang tidak berubah adalah nilai, sistem dan jiwanya yang menjadi dasar dari disiplin tersebut. Begitu hukuman yang berlaku pada setiap sanksi disiplin santri. Sejak berdirinya sampai saat ini, kebijakan hukuman terus menerus berubah. Namun dalam mendisiplinkan santri, hal penting yang perlu diketahui adalah, bahwa ukurannya adalah dlomir (hati kecil).

Meskipun demikian, masih banyak santri yang berdisiplin secara formalis pragmatis. Artinya, mereka cuma menjalankan rutinitas di pondok secara terpaksa. Oleh sebab banyaknya paksaan-paksaan sebagai sarana latihan. Berbeda sekali dengan apa yang pernah ia lihat pada suatu sekolah unggulan di daerahnya. Beberapa siswa yang kurang mampu hasil seleksi secara ketat tersebut sangat berdisiplin tanpa perlu paksaan. Sehingga, banyak santri yang mbruwah (lepas kendali) saat ia keluar dari pondok saat liburan atau pulang. Namun di lain pihak, seorang wali santri dari Surabaya mengatakan bahwa ia cocok dengan pendidikan pesantren di Gontor. Sebab, dengan mata kepala sendiri, ia melihat bagaimana pendidikan di pesantren-pesantren yang notabene dikatakan modern bebas tanpa aturan. Sehingga arah tujuan mendidik siswanya juga tidak jelas. Suatu hal yang ia syukuri, meskipun anaknya baru kelas II namun sudah berubah menjadi lebih baik dan berdisiplin di rumah serta kadang-kadang diberi kesempatan untuk mengisi pengajian.


Kembali lagi ke masalah motivasi dan niat. Sudah benarkah motivasinya? Sudah benarkah niatnya? Sebab, pondok dengan sistem dan nilai yang bertahan selama hampir seabad ini telah terbukti menjadi suatu alternatif pendidikan modern yang jitu. Modern dalam arti, berpandangan ke depan, tanpa meninggalkan karakteristik lokal yang kaya dengan potensi dan penuh daya. Ke depan pendidikan ala Gontor semacam bisa melahirkan produktivitas dalam membentuk kader-kader ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama.

Penyakit Itu Bernama Kekosongan


Penyakit Itu Bernama Kekosongan
(Sumber ma’siat, bencana, malapetaka, kerusakan)


Dewasa ini semakin banyak orang yang melakukan hal yang sia-sia dan banyak kekosongan yang dilakukannya. Ada yang berusaha memperbaiki kerusakan, ada pula yang buru-buru mengisi kekosongan dengan kekosongan baru, ibarat membersihkan kotoran dengan sapu kotor. “Semakin rumit teka teki dijawab”, kata orang bijak.


Penyakit kekosongan itu diantaranya; berasaan kemanusiaan, Ajaran agama, Kegiatan positif, Kemasyarakatan. Bagaimana bisa demikian, lalu.... (bagaimana selanjutnya), Why…? Then…?

Apalagi bila millieu dan nasib membantu kekosongan waktu dan pengangguran kerja, maka yang paling duluan dipengaruhi menjadi objek dan korban adalah anak-anak muda. Musuh kemanusiaan sibuk merusak, mengaku membangun. Merusak orang lain membangun diri sendiri. Menyusahkan orang lain mengenakkan diri sendiri. Menyalahkan orang lain membenarkan diri sendiri. Menyelakakan atau menyengsarakan orang, ia menyelamatkan diri sendiri. Orang rusak dan perusak dunia tetap akan bergerak, beraksi dengan motif, semboyan “Bagaimana caranya agar aku, keluargaku, golonganku, aku – aku yang lainnya enak meskipun pihak lain sengsara”. Karena kekosongan.

Maka ingatlah "Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal salih, saling nasehat menasehati dalam hal kebenaran dan nasehat menasehat dalam hal kesabaran" (Surah al 'Ashr). Bagaimana bila menyikapinya dengan putus asa, alih profesi (hijroh) atau menonaktifkan potensinya? Putus asa/hijrah profesi positif adalah hak setiap orang, sedangkan putus asa lari dari tanggung jawab apalagi membunuh masa depan dengan kekosongan atau bunuh diri adalah kekerdilan dan sikap protes terhadap takdir. Ingkar kekuasaan, kekuatan Sang Pencipta Allah SWT. Tidak menghasilkan apa-apa dan tidak menguntungkan siapa-siapa, dan Allah mengkategorikannya sebagai Kafir.

Rusak dan kerusaan akibat penyakit bernama "Kekosongan" diantaranya; Kekosongan perasaan kemanusiaan, mengakibatkan timbulnya banyak tindak kejahatan; Kekosongan ajaran agama, akhirnya membuat agama–agama baru yang tidak ada landasan syariat tapi berlandaskan nafsu dan kepentingan pribadi dan golongan; Kekosongan kegiatan positifmenarik, diganti dengan kegiatan yang merusak, maksiat, dan tidak bermanfaat; Kekosongan jiwa kemasyarakatan, menjadi kurangnya 'kepedulian terhadap sesama dan lingkungan, rusaknya pergaulan dan ekosistem lingkungan; Kekosongan harapan,cita-cita yang bermotif, mudah dimasuki anasir-anasir distruktif.
Bila ada trik-trik pada sebuah usaha membentuk organisasi dan apa saja, janganlah dijadikan arena/kesempatan saling salah menyalahkan situasi akibat kekosongan “massal”, tetapi pelajarilah prestasi, motivasi, tujuan, dan semberdaya manusianya terlebih dahulu.

Sebab-sebab terjadinya/timbulnya organisasi pergerakan dan sebagainya itu relatif dan sekupnya beragam. Diantaranya;

1. Kekosongan beberapa unsur dalam masyarakat dan menimbulkan kepincangan-kepincangan. 2. Kebodohan akan hak-hak yang terambil oleh pihak lain.
3. Kepicikan dan kelemahan da'i.
4. Ketergesa-gesaan, keterburu-buruan.
5. Memburu keduniaan.

Syi’ar Islam tanpa tegaknya syari’at hanya kekosongan dan keropos (ajwaf, jaufa' dlm bhs Arab). Syari’at tanpa syi’ar terasa kering dan kaku (Jaaf). Kekosongan dalam kehidupan Islami harus diisi!. Kalau tidak syetan-syetan yang akan mengisi, dan manusia menjadi budak-budaknya. Na’udzubillaah!

Anak-anak kita sekarang terbagi menjadi dua, pertama; disibukkan oleh sesuatu yang seharusnya tidak menyibukkan, tertarik asyik dengan hal-hal maksiat atau kegiatan yang tidak perlu disibukkan atau diasyikkan. Yang kedua; tidak pandai, tidak cakap dan tidak benar dalam mengisi kekosongan.
Pandai-pandailah menghemat waktu, uang tenaga/kesehatan untuk hal-hal yang berguna. Jangan memanjakan kekosongan.

Gontor. Kamis, 31 Januari 2008